![]() |
|
|
…dapat memperoleh solusi atas berbagai permasalahan budidaya berdasarkan hasil riset dan pendampingan akademisi…
SERANGAN Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) masih menjadi salah satu tantangan utama dalam sektor pertanian Indonesia, khususnya pada budidaya tanaman hortikultura.
Berdasarkan data Food and Agriculture Organization (FAO) tahun 2021, serangan hama dan penyakit tanaman menyebabkan kehilangan produksi tanaman global hingga 40% setiap tahunnya. Pada tahun 2024, 53% petani di Indonesia masih menganggap serangan hama sebagai permasalahan utama dalam usaha tani mereka (BPS, 2024).

Kondisi tersebut juga dirasakan oleh petani di Desa Pekon Srikaton, Kecamatan Adiluwih, Kabupaten Pringsewu, Provinsi Lampung. Pekon yang dikenal sebagai salah satu lumbung sayur di Kabupaten Pringsewu ini, menghadapi tingginya intensitas serangan hama pada berbagai komoditas hortikultura.
Menurut Bapak Nardi, Ketua Gapoktan Sumber Katon, serangan hama dan penyakit tanaman menjadi tantangan utama petani karena menyebabkan penurunan hasil dan kualitas panen. Selain itu, meningkatnya resistensi hama mendorong penggunaan pestisida kimia secara intensif yang dalam jangka panjang berpotensi menurunkan kualitas dan kesuburan tanah.

Tim Kuliah Kerja Nyata (KKN) Institut Pertanian Bogor (IPB) University, Bogor, Jawa Barat, KABPRINGSEWU 06 yang beranggotakan Khairul Aksan Hamka, Sistiani Ade Piona Boru Marbun, Puspita Maharani.
Indah Nursapitri, Dwi Malviansyah, Nimas Farah Wulandari, Haura Nabilah, dan Hukama Yudha, di bawah bimbingan Dosen Pembimbing Lapang Diki Akhwan Mulya, S.E., M.Si., menghadirkan program kerja Petani Digital Berdaya.

Program ini bertujuan meningkatkan kapasitas petani melalui pemanfaatan teknologi digital agar petani yang memiliki keterbatasan akses terhadap laboratorium maupun pakar tetap dapat memperoleh solusi atas berbagai permasalahan budidaya berdasarkan hasil riset dan pendampingan akademisi IPB University.
Kegiatan diawali dengan sosialisasi mengenai transformasi digital di sektor pertanian. Tim KKN kemudian mendampingi petani membuat akun IPB DIGITANI, platform digital IPB University yang menyediakan layanan konsultasi, edukasi, dan berbagi informasi.

Melalui platform ini, petani dapat berkonsultasi langsung dengan dosen dan pakar IPB University untuk memperoleh solusi atas berbagai permasalahan budidaya.
Setelah sesi digitalisasi pertanian, kegiatan dilanjutkan dengan sosialisasi mengenai pestisida nabati sebagai alternatif pengendalian hama yang ramah lingkungan dan ekonomis.

Tim KKN memperkenalkan daun pepaya sebagai bahan utama pestisida alami karena mengandung senyawa aktif, seperti alkaloid karpain, papain, flavonoid, dan saponin, yang berpotensi menghambat perkembangan berbagai jenis hama dan serangga. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan praktik langsung pembuatan pestisida nabati agar petani dapat menerapkannya secara mandiri di lahan masing-masing.
Sebagai kelanjutan dari sosialisasi pestisida nabati, Tim KKN IPB University memperluas pemahaman petani mengenai pengendalian hama melalui pengenalan produk hayati hasil riset dosen Departemen Proteksi Tanaman IPB University.

Kegiatan yang dilaksanakan di lahan milik Bapak Adek Gunawan, selaku Kepala Pekon Srikaton, ini menghadirkan produk WiSH (Plant Health Specialist) sebagai salah satu inovasi berbasis hayati yang dapat menjadi alternatif pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) secara efektif dan ramah lingkungan.
Pada kegiatan tersebut, Tim KKN memperkenalkan empat produk hayati WiSH (Plant Health Specialist), yaitu RhizomaX, PrimaGrain, Symbio, dan Lecafit, yang dikembangkan sebagai solusi pengendalian hama dan penyakit tanaman serta peningkatan produktivitas pertanian secara berkelanjutan.

Produk-produk tersebut memiliki fungsi yang beragam, mulai dari meningkatkan pertumbuhan dan kesehatan tanaman, menekan serangan penyakit, hingga meningkatkan ketahanan tanaman terhadap hama melalui pemanfaatan mikroorganisme hayati.
Sebagai bentuk implementasi di lapangan, Tim KKN mendemonstrasikan aplikasi RhizomaX pada demplot tanaman cabai milik Bapak Adek Gunawan. Demonstrasi ini memberikan gambaran langsung kepada petani mengenai teknik aplikasi produk hayati sekaligus membuka ruang diskusi mengenai permasalahan budidaya yang mereka hadapi.

Berdasarkan pengamatan awal, aplikasi RhizomaX pada tanaman kecipir (Psophocarpus tetragonolobus) yang terserang kutu menunjukkan adanya penurunan populasi hama pada keesokan harinya, sehingga memberikan gambaran mengenai potensi pemanfaatan agen hayati sebagai alternatif pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT).
Kegiatan ditutup dengan pembagian produk WiSH kepada para petani sebagai bentuk dukungan agar mereka dapat mencoba dan mengevaluasi langsung pemanfaatan inovasi hayati tersebut di lahan masing-masing.
Melalui Program Petani Digital Berdaya, Tim KKN IPB University berharap petani di Pekon Srikaton semakin adaptif dalam memanfaatkan teknologi digital maupun inovasi hayati untuk mewujudkan sistem pertanian yang lebih produktif, efisien, dan berkelanjutan.
1