Proyek Irigasi di Desa Slatri Tuai Sorotan Warga, BBWS Klaim Sesuai Spesifikasi
LAPORAN TAKWO HERIYANTO
Sabtu, 25/07/2026, 20:33:11 WIB

PanturaNews (Brebes) — Pelaksanaan Proyek Program Percepatan Peningkatan Tata Guna Air Irigasi (P3TGAI) di Desa Slatri, Kecamatan Larangan, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, memicu perhatian warga setempat. 

Pengerjaan jaringan irigasi tersier bersumber dana APBN tersebut dipertanyakan kualitas materialnya, meski pihak pengelola memastikan seluruh proses telah memenuhi spesifikasi teknis.

Dugaan ketidaksesuaian material tersebut mengemuka di tiga dari lima titik lokasi pengerjaan yang dimulai sejak 18 Juni 2026. 

Warga menyoroti penggunaan bahan baku berupa batu cadas dan pasir ladon yang dikhawatirkan memengaruhi ketahanan konstruksi jangka panjang.

Warga Desa Slatri, Mukmin, menyampaikan bahwa proyek pembangunan yang dibiayai anggaran negara seharusnya dikerjakan secara ketat sesuai perencanaan teknis. 

Ia mendesak Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali-Juana untuk turun langsung mengevaluasi pengerjaan di lapangan.

"Kalau proyek pakai anggaran negara tetapi material yang digunakan tidak sesuai spesifikasi, tentu sangat kami sayangkan. Kualitas pekerjaan harus menjadi perhatian karena berkaitan dengan manfaat bagi masyarakat," kata Mukmin.

Pembangunan saluran irigasi bernilai Rp 195 juta ini berada di bawah naungan Satuan Kerja Operasi dan Pemeliharaan Sumber Daya Air (SDA) BBWS Pemali-Juana, Kementerian Pekerjaan Umum. 

Pengerjaan mencakup saluran sepanjang 334 meter di dua sisi (total 668 meter) dengan tinggi konstruksi 65 sentimeter.

Menanggapi keluhan warga, pihak pelaksana tingkat lokal dan BBWS Pemali-Juana menegaskan bahwa pengerjaan fisik di Desa Slatri telah berjalan sesuai koridor hukum dan petunjuk teknis.

Ketua P3A Mekar Wangi Desa Slatri, Luyan Aziz Rahayu, menjelaskan bahwa pemilihan material dan pelaksanaan konstruksi berada dalam pengawasan ketat. 

Sebelum pengerjaan dimulai, pihaknya juga telah menggelar Musyawarah Desa (Musdes) untuk menyepakati titik lokasi dan dimensi saluran.

"Spesifikasi yang kami laksanakan sudah sesuai dengan standar yang ditetapkan BBWS. Pembangunan ini merupakan bentuk perhatian pemerintah terhadap kebutuhan petani di desa kami," ujar Luyan.

Hal senada diungkapkan Ketua P3AI Sumber Urip Desa Slatri, Teguh. Ia menjelaskan bahwa proyek ini menggunakan sistem swakelola berbasis masyarakat yang melibatkan kelompok tani setempat.

Sementara itu, salah seorang warga Desa Slatri, Johan, mengaku senang dengan adanya pembangunan jaringan irigasi tersebut. 

Menurutnya, pembangunan ini merupakan hasil usulan masyarakat yang nantinya akan dirasakan manfaatnya oleh para petani.

"Alhamdulillah saya merasa senang dengan dibangunnya jaringan irigasi ini. Apalagi ini melalui proses musdes. Saat musyawarah itu kami juga mengusulkan agar lebar dan tinggi saluran disesuaikan dengan kebutuhan pertanian di sini," ujar Johan.