![]() |
|
|
PanturaNews (Brebes) - Ratusan siswa, guru, hingga wali murid pada 11 sekolah di Kecamatan Sirampog, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, mengalami mual, pusing, dan diare masal usai mengonsumsi menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG), Kamis (23/7) sore hingga Jumat (24/7).
Seluruh sekolah yang terdampak tercatat sebagai penerima manfaat MBG dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Paingan, Desa Dawuhan.
Berdasarkan data terhimpun, belasan lembaga pendidikan dari jenjang PAUD hingga MA terimbas insiden tersebut. Rincian korban meliputi:
1. SDN Dawuhan 03: 55 siswa, 5 guru
2. SDN Igirklanceng 01: 68 siswa, 5 guru
3. MI Sirotol Mustaqim Dawuhan: 70 siswa, 7 guru
4. SMP Muhammadiyah 3 Sirampog: 42 siswa, 6 guru
5. MTs Ma'arif Dawuhan: 39 siswa, 10 guru
6. MA Ma'arif Dawuhan: 23 siswa, 2 guru
7. Sekolah Lainnya: SDN Igirklanceng 02 (20 siswa), SDN Batursari 02 (31 siswa, 5 guru), TK ABA Dawuhan (20 siswa, 2 guru), KB Nurul Hikmah (7 siswa, 2 guru), serta beberapa wali murid.
Akibat kejadian ini, aktivitas Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di sejumlah sekolah terganggu. Banyak siswa absen, sementara sebagian yang hadir tetap mengikuti pelajaran dalam kondisi lemas.
"Ada siswa yang tidak berangkat, tapi ada juga yang tetap masuk meski kondisinya kurang sehat karena masih diare," kata Kepala SMP Muhammadiyah 3 Sirampog, Nur Rohmah, Jumat (24/7).
Tim Medis Turun Tangan, Penyebab Masih Diselidiki
Menanggapi laporan tersebut, Puskesmas Sirampog menerjunkan tim kesehatan ke lapangan untuk memberikan penanganan medis awal dan pendataan.
Staf Puskesmas Sirampog, Anung M. Sidik, membenarkan adanya laporan keluhan massal tersebut. Namun pihaknya belum dapat memastikan apakah gejala tersebut murni dipicu oleh keracunan makanan atau faktor lain.
"Hasil pemeriksaan di lapangan menunjukkan para siswa mengalami diare, mual, dan pusing. Namun, penyebabnya belum dapat disimpulkan apakah akibat keracunan makanan atau faktor lain. Masih diperlukan pemeriksaan dan pendalaman lebih lanjut," jelas Anung mewakili Kepala Puskesmas Sirampog, dr. Ida Rahmawati.
Tanggapan Pihak Dapur MBG
Di sisi lain, pihak SPPG Paingan selaku penyedia hidangan menegaskan belum ada bukti kuat yang menyimpulkan makanan mereka sebagai penyebab utama.
Staf SPPG Paingan, Dewi, menyebutkan bahwa selisih waktu antara pengonsumsian hidangan dan munculnya gejala terbilang cukup lama.
"Gejalanya muncul beberapa jam, bahkan ada yang baru sehari setelah mengonsumsi MBG. Jadi belum bisa dipastikan penyebabnya dari makanan tersebut," tegas Dewi.
Meski demikian, pihak SPPG memastikan akan kooperatif dengan mengamankan sampel makanan untuk diuji laboratorium serta berkoordinasi intensif dengan dinas terkait guna proses investigasi lebih lanjut.