Malam di Bawah Rindang Mangga, Kota Tegal Dibicarakan
LAPORAN IWANG NIRWANA
Kamis, 09/07/2026, 16:46:20 WIB

PanturaNews (Tegal) - Daun-daun mangga bergoyang pelan, sementara pohon asem tua mengirimkan desir angin yang seolah ikut membincangkan nasib Kota Tegal. 

Di bawah rindangnya pepohonan, secangkir kopi dan perjamuan moci menjadi pengikat percakapan. Malam itu, Plataran Sastra Piek Ardijanto Soeprijadi menjelma menjadi ruang tempat sastra, gagasan, dan harapan bertemu dalam suasana hangat, sederhana, namun penuh makna.

Suasana tersebut mewarnai Obrolan Moci Bareng bertema "Mbangun Kota Tegal, Apike Luruh Wah Apa Woh" yang digelar pada Rabu malam 8 Juli 2026 di Plataran Sastra Piek Ardijanto Soeprijadi, Jalan Cereme No. 4, Kelurahan Mangkukusuman, Kota Tegal. 

Kegiatan yang menjadi bagian dari rangkaian Safari Literasi Jawa 2026 ini menghadirkan Gol A Gong, Duta Baca Indonesia, bersama sejumlah tokoh, di antaranya Ki Dalang Anton Surono, M.Pd., Ketua Persatuan Dalang Kabupaten Tegal, Dr. Ma'ufur, Rektor Universitas Bhamada Slawi, dan Drs. Atmo Tan Sidik, pegiat literasi.

Rangkaian acara diawali dengan pembukaan, dilanjutkan pembacaan puisi oleh Diah Setyawati dan H. Enthieh Mudakir, yang menghadirkan nuansa sastra sebagai pembuka dialog. 

Selanjutnya, Dyandinra Srikumara mewakili Rumah Sastra Piek Ardijanto Soeprijadi menyampaikan sambutan sekaligus ucapan terimakasih kepada seluruh yang hadir pada malam hari ini. Acara kemudian dilanjutkan dengan sambutan Wakil Wali Kota Tegal, Hj Tazkiyatul Mutmainah yang menanggapi tradisi moci dan tema wah apa woh yang di usung.

"Kolaborasi merupakan modal penting dalam menghadapi segala problematika. 

Kita lebih menitik beratkan woh tapi tetap harus menyampaikan kepada masyarakat secara wah tapi bukan wah yang kosong. Wah dan woh harus selaras agar benar menjadi kota yg maju modern tapi tetap berakar dalam budaya". Tegas Mba Iin dalam sambutannya

Acara disusul penyerahan buku dari Rumah Sastra Piek kepada Wakil Wali Kota Tegal dan Gol A Gong serta penyerahan cinderamata set poci kepada Gol A Gong dari Wakil Walikota Tegal. 

Dalam Kalam Silaturahmi, Gol A Gong mengajak masyarakat untuk memandang literasi bukan sekadar aktivitas membaca dan menulis, melainkan sebagai cara membangun kesadaran, memperkuat karakter, dan menumbuhkan optimisme dalam menghadapi tantangan zaman. 

Menurutnya, kota yang maju adalah kota yang warganya gemar belajar, berdialog, dan terbuka terhadap berbagai gagasan.

Semangat itulah yang kemudian menjadi benang merah dalam diskusi publik yang dipandu oleh Ki Dalang Anton Surono. 

Berbagai pandangan mengemuka mengenai arah pembangunan Kota Tegal yang tidak cukup hanya bertumpu pada pembangunan fisik dan pertumbuhan ekonomi. 

Para narasumber sepakat bahwa pembangunan harus berpijak pada identitas budaya, sejarah, serta karakter masyarakatnya. Literasi dipandang sebagai fondasi untuk melahirkan warga yang kritis, kreatif, dan memiliki kepedulian terhadap ruang hidupnya.

“ Tentunya kita sepakat dalam membangun Kota Tegal tidak sekedar mencari wah (gebyar materialisme) tapi kita sepakat luruh “Woh” (kehidupan yang dibimbing oleh nilai ilmiah dan Ilahiah). Saat ini sedang tarik tambang antara dua kubu : sing luruh Wah, sing luruh Woh”. Demikian kata Atmo Tan Sidik dalam makalahnya.

Diskusi juga menyoroti pentingnya kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, akademisi, seniman, budayawan, komunitas, dunia pendidikan, dan generasi muda dalam merumuskan masa depan Kota Tegal. 

Kota yang berkembang bukan hanya ditandai oleh megahnya bangunan dan infrastruktur, melainkan juga oleh tumbuhnya ruang-ruang budaya, meningkatnya kualitas sumber daya manusia, serta terpeliharanya nilai-nilai lokal yang menjadi jati diri masyarakat.

Ketika malam semakin larut, desir angin yang berembus di sela dedaunan seakan membawa pulang satu pesan yang mengendap dalam benak setiap peserta: membangun Kota Tegal bukan semata-mata tugas pemerintah, melainkan ikhtiar bersama seluruh warganya. 

Sebab kota yang baik lahir dari masyarakat yang gemar berdialog, menghargai kebudayaan, merawat literasi, dan bersama-sama menumbuhkan harapan bagi masa depan.