![]() |
|
|
SUASANA khidmat menyelimuti peringatan Hari Raya Mandasiya yang diselenggarakan oleh Penghayat Patang Wewarah pada Malam Selasa Kliwon, 7 Juli 2026, bertepatan dengan Anggarakasih Wuku Mandasiya 1948 Jawa.
Perayaan yang berlangsung di Desa Trayeman, Kramat, Kabupaten Tegal ini menjadi momentum ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa sekaligus pengingat akan pentingnya menjaga nilai-nilai budaya Jawa, welas asih, dan toleransi antarsesama.
Acara dibuka dengan Puja Mantra yang dipanjatkan secara khusyuk sebagai bentuk penghormatan kepada Sang Pencipta dan para leluhur. Suasana sakral kemudian dilanjutkan dengan Tari Patang Wewarah yang dibawakan penari.

Perayaan juga dimeriahkan oleh sajian karawitan Kidung Leluhur Desa Kambangan, Lebaksiu Kabupaten Tegal yang dimainkan oleh sebelas pengrawit, terdiri atas tujuh laki-laki, empat perempuan, serta seorang pimpinan karawitan. Alunan gamelan menghadirkan suasana yang teduh dan sarat makna, mengiringi seluruh rangkaian prosesi budaya sepanjang malam.
Ketua Penghayat Patang Wewarah Cabang Lebaksiu, Sugeng Edi Riyanto, dalam sambutannya menyampaikan bahwa Hari Raya Mandasiya bukan sekadar perayaan adat, melainkan malam yang sakral sebagai ruang untuk memperkuat rasa syukur, memperdalam introspeksi diri, dan menumbuhkan semangat toleransi antarumat beragama.
"Malam ini adalah malam yang sakral, malam toleransi sesama agama. Sangat berarti sebagai wujud welas asih dan introspeksi diri. Kita harus memahami bagaimana menjalani kehidupan di dunia dengan penuh kasih dan saling menghormati antarsesama," ujarnya.

Rangkaian acara dilanjutkan dengan penampilan Tari Geboy Kembang Kilaras, kemudian sambutan dari Wakil Ketua Pengurus Pusat, Edi, yang mengajak generasi muda untuk terus melestarikan budaya Jawa.
"Terima kasih kepada adik-adik yang ikut melestarikan budaya Jawa. Kita harus selalu mengingat agar orang Jawa tidak hilang Jawanya," pesannya.
Berbagai pertunjukan seni lainnya turut mewarnai malam peringatan, di antaranya Tari Wira Pertiwi, pemutaran film dokumenter mengenai narasi Trayeman, Tari Adem Ayem, pembacaan puisi berjudul "Patang Wewarah" karya Amin Budianto, Ketua Penghayat Kepercayaan, serta penampilan Tari Ngoser Banyumasan. Sebagai penutup rangkaian acara dilakukan prosesi pemotongan tumpeng sebagai simbol rasa syukur atas limpahan berkah dan keselamatan.

Penghayat Patang Wewarah berpegang teguh pada empat ajaran utama yang menjadi pedoman hidup, yaitu:
-1. Manembah Gusti (berbakti kepada Tuhan Yang Maha Esa). -2. Laku Apik (berperilaku baik kepada sesama). -3. Mencari ilmu yang baik sebagai bekal kehidupan. -4. Laku sing tenan, ora pasrah bongkok, yakni menjalani kehidupan dengan sungguh-sungguh, jujur, bertanggung jawab, dan tidak mudah menyerah.
Bagi Penghayat Patang Wewarah, Hari Raya Mandasiya yang diperingati setiap Anggarakasih (Selasa Kliwon) merupakan ungkapan syukur kepada Tuhan melalui berbagai bentuk penghayatan budaya, doa, seni, dan perilaku luhur. Nilai-nilai tersebut menjadi pengingat bahwa rasa syukur tidak hanya diwujudkan melalui ritual, tetapi juga melalui tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Rangkaian peringatan Hari Raya Mandasiya akan berlanjut pada dini hari menjelang matahari terbit dengan prosesi melarung sesaji serba merah ke laut. Tradisi tersebut menjadi simbol pelepasan segala hal buruk sekaligus doa agar kehidupan senantiasa diberkahi, diberi keselamatan, dan membawa keseimbangan antara manusia, alam, serta Sang Pencipta.
Melalui peringatan Hari Raya Mandasiya, Penghayat Patang Wewarah berharap nilai-nilai spiritual, kearifan budaya Jawa, serta semangat persaudaraan dan toleransi dapat terus hidup dan diwariskan kepada generasi penerus sebagai bagian dari kekayaan budaya bangsa Indonesia.