![]() |
|
|
SUASANA di halaman Masjid Pondok Pesantren Assalafiyah, Luwungragi, siang itu begitu hidup. Mentari mulai condong ke arah puncaknya, sementara suara langkah para santri berpadu dengan semilir angin yang mengusap pepohonan di sekitar pesantren. Waktu telah mendekati Zuhur.
Rombongan Tim Penerjemah At-Tegali yang baru tiba dari Kota Tegal pun bergegas mengambil air wudu. Dengan niat menunaikan salat Zuhur berjamaah, mereka memasuki masjid dan duduk bersaf bersama para santri cukup lama. Namun, salat belum juga dimulai.
Beberapa saat kemudian barulah diketahui bahwa para santri memang memiliki tradisi yang indah. Sebelum iqamah dikumandangkan, mereka berkumpul sembari mengulang hafalan dari lembaran-lembaran catatan beraksara arab pegon yang mereka bawa.

Suara lirih hafalan memenuhi ruang masjid, menghadirkan suasana khusyuk yang seolah menjadi pengingat bahwa ilmu dan ibadah adalah dua jalan yang tak pernah terpisahkan di lingkungan pesantren. Tradisi sederhana itu menjadi pemandangan yang menyejukkan hati sekaligus mengawali silaturahmi yang penuh makna.
Senin Wage, 6 Juli 2026, Tim Penerjemah At-Tegali melakukan sowan kepada Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Subhan Ma'mun, di Pondok Pesantren Assalafiyah, Luwungragi, Kabupaten Brebes. Rombongan berangkat dari Gedung IPHI Kota Tegal pukul 10.20 WIB dan tiba di pondok pesantren sekitar pukul 11.30 WIB.
Rombongan dipimpin Ketua Tim Penerjemah At-Tegali, Drs. Muharso Kasmu'i, S.H., M.M., didampingi Bendahara Drs. H. Suripto, Drs. H. Sipon Junaedi, M.Pd., serta Atmo Tan Sidik yang hadir bersama putranya.
Selepas menunaikan salat Zuhur berjamaah, rombongan diterima langsung oleh KH Subhan Ma'mun di kediamannya. Kehangatan tampak begitu terasa. Meski baru kembali dari perjalanan ziarah ke makam Imam Bukhari di Uzbekistan bersama Ketua MPR RI dan sejumlah ulama, beliau menyambut para tamu dengan penuh keramahan dan kebahagiaan.
Dalam pertemuan tersebut, Tim Penerjemah menyerahkan dummy Terjemahan Al-Qur'an Bahasa Tegal (At-Tegali) sebagai bentuk ikhtiar pelestarian bahasa daerah sekaligus mendekatkan makna Al-Qur'an kepada masyarakat penutur Bahasa Tegal.
KH Subhan Ma'mun kemudian membuka halaman mushaf dan membaca Surat An-Nas beserta terjemahannya dalam Bahasa Tegal. Seusai membacanya, beliau menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada seluruh tim yang telah bekerja menyelesaikan penerjemahan tersebut.
"Saya salut dan sangat peduli atas kerja keras IPHI dalam mewujudkan Terjemahan Al-Qur'an Bahasa Tegal ini. Insya Allah semua ini menjadi amal dan pahala yang besar," tutur KH Subhan Ma'mun.
Dukungan dari Rais Syuriyah PBNU tersebut menjadi penyemangat tersendiri bagi Tim Penerjemah At-Tegali. Sebelumnya, berbagai ikhtiar juga telah dilakukan dengan bersilaturahmi kepada empat kepala daerah, yakni Walikota Tegal, Bupati Tegal, Bupati Brebes, dan Bupati Pemalang.
Keempat pemerintah daerah tersebut memberikan apresiasi positif terhadap hadirnya terjemahan Al-Qur'an dalam Bahasa Tegal sebagai bagian dari pelestarian bahasa daerah sekaligus penguatan syiar Islam.
Selain itu, dukungan dan sambutan baik juga telah diperoleh dari Ketua MPR RI serta Kementerian Agama Republik Indonesia sebagai bagian dari upaya melengkapi proses menuju pencetakan dan penerbitan At-Tegali.
Silaturahmi tersebut juga diwarnai penyerahan buah tangan khas Tegal berupa opak singkong, roti, dan tahu aci. Dengan senyum hangat, KH Subhan Ma'mun menerima oleh-oleh tersebut sebagai simbol persaudaraan dan penghormatan dari rombongan.
Bagi Tim Penerjemah At-Tegali, kunjungan ini bukan sekadar menyerahkan sebuah naskah terjemahan. Lebih dari itu, sowan kepada ulama merupakan ikhtiar menjemput doa, restu, dan keberkahan agar Terjemahan Al-Qur'an Bahasa Tegal dapat segera diterbitkan serta menjadi jembatan yang mendekatkan masyarakat kepada Al-Qur'an melalui bahasa ibu yang mereka cintai.
Di tengah derasnya arus perubahan zaman, langkah kecil yang dimulai dari ruang-ruang sederhana di pesantren ini menjadi pengingat bahwa menjaga bahasa adalah menjaga jati diri, dan menghadirkan Al-Qur'an dalam bahasa yang akrab di telinga masyarakat merupakan ikhtiar untuk mendekatkan nilai-nilai ilahiah kepada kehidupan sehari-hari.