Cinta Tak Kenal Usia, Pemuda 22 Tahun di Pemalang Nikahi Janda Usia 50 Tahun
.
Minggu, 28/06/2026, 13:30:20 WIB

PanturaNews (Pemalang) – Jodoh, rezeki, dan maut memang menjadi rahasia Tuhan. Kalimat bijak ini tampaknya sangat cocok menggambarkan kisah asmara pasangan beda generasi asal Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, yang mendadak jadi buah bibir masyarakat.

Perbedaan usia yang terpaut jauh hingga 28 tahun tidak menjadi penghalang bagi Fajri Rofiq Subkhi (22) dan Mutmaimah (50) untuk mengikat janji suci pernikahan. 

Keduanya resmi menyandang status sebagai suami istri setelah mengikuti program nikah massal Bimas Islam MANTU yang digelar oleh Kementerian Agama (Kemenag) RI di Kantor Kemenag Kabupaten Pemalang, Jumat (26/6/2026).

Fajri, seorang pemuda yang sehari-hari bekerja sebagai buruh pabrik garmen asal Desa Serang, Kecamatan Bantarbolang, mantap meminang Mutmaimah.

Diketahui, Mutmaimah merupakan seorang janda yang ditinggal wafat oleh suaminya dan telah dikaruniai dua orang anak.

Berawal dari Saling Sapa di Media Sosial

Siapa sangka, benih-benih cinta pasangan ini tumbuh dari jagat maya. Mutmaimah menceritakan bahwa kisah cintanya dengan Fajri bermula dari perkenalan di media sosial pada tahun 2023 lalu.

Seiring berjalannya waktu, komunikasi yang awalnya hanya sebatas teman biasa berkembang menjadi hubungan asmara yang serius. Padahal, Mutmaimah mengaku awalnya sama sekali tidak berniat mencari pasangan baru setelah cukup lama menjandakan diri.

"Saya dari dulu prinsipnya tidak mencari. Kalau Allah masih memberi jodoh, saya terima," ujar Mutmaimah.

Selama tiga tahun menjalin hubungan pacaran, Mutmaimah mengaku kepribadian Fajri-lah yang membuatnya luluh dan mantap menerima pinangan pemuda tersebut. Bagi Mutmaimah, angka di KTP sama sekali bukan tolok ukur kedewasaan seseorang.

"Dengan berjalannya waktu selama tiga tahun, saya sudah tahu sifat, watak, kebiasaannya, dan juga rasa sayangnya. Umur bukan ukuran kedewasaan. Banyak yang usianya lebih muda tetapi justru lebih dewasa dalam berpikir," tuturnya.

Faktor Kenyamanan Jadi Kunci Utama

Di sisi lain, Fajri juga mengungkapkan alasan kuat di balik keputusannya menikahi wanita yang usianya lebih tua dari dirinya tersebut. Fajri menilai, Mutmaimah adalah sosok pribadi yang mampu mengimbangi dan melengkapinya.

"Yang membuat saya mantap menikah dengan Bu Mutmaimah karena dia baik, bisa mengimbangi saya, serta membuat saya nyaman. Kalau tidak ada kenyamanan akan susah," ungkap Fajri.

Bagi buruh pabrik garmen ini, keberhasilan sebuah rumah tangga tidak ditentukan oleh usia, melainkan kesiapan mental dan komitmen kedua belah pihak dalam menghadapi badai kehidupan bersama.

Sempat Terkendala Biaya, Terbantu Program Pemerintah

Niat untuk menghalalkan hubungan sebenarnya sudah lama terbersit di benak pasangan ini. Namun, apa daya, keterbatasan ekonomi di tengah situasi yang sulit membuat keduanya harus memutar otak jika ingin menggelar pernikahan mandiri.

"Kalau menikah sendiri biayanya besar. Sekarang ekonomi juga masih sulit. Jadi kami sepakat ikut nikah massal setelah dapat informasi dari KUA Bantarbolang," kata Fajri.

Keputusan mereka terbukti tepat. Melalui program nikah massal gratis dari Kemenag ini, Fajri dan Mutmaimah tidak hanya mendapatkan kepastian hukum lewat Buku Nikah berlogo Garuda, tetapi juga dimanjakan dengan fasilitas lengkap mulai dari mahar, busana dan rias pengantin, perlengkapan rumah tangga, hingga bantuan modal usaha.

Direstui Anak dan Disaksikan Menag RI

Keputusan berani pasangan beda 28 tahun ini rupanya mendapat dukungan penuh dari keluarga masing-masing. Bahkan, kedua anak Mutmaimah memberikan lampu hijau demi kebahagiaan sang ibu.

"Alhamdulillah dari keluarga saya sama suami tidak mempermasalahkan itu. Anak-anak saya juga bilang 'Terserah Mama, yang penting Mama bahagia'," ucap Mutmaimah haru.

Momen sakral pernikahan mereka pun kian istimewa karena disaksikan langsung oleh Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar, bersama 19 pasangan pengantin lainnya se-Kabupaten Pemalang.

Kini, setelah resmi menjadi istri sah dari Fajri, Mutmaimah yang sebelumnya bekerja di sebuah rumah makan memilih fokus menjadi ibu rumah tangga dan berharap mengayuh bahtera rumah tangga yang sakinah, mawaddah, warahmah bersama sang suami tercinta.