Pembukaan Kegiatan PPK Ormawa HIMA Pendidikan Seni Rupa UNY Tandai Awal Pengabdian di Banguncipto
.
Sabtu, 27/06/2026, 14:04:38 WIB

KALURAHAN Banguncipto yang memiliki potensi sawah membentang dengan keramahan warga khas Jogja yang sudah menjadi langganan turis Eropa melalui Towilfiets, dan eksplorasi koridor hijau sungai pedesaan dengan packrafting Tour Kali Papah.

Suasana tersebut menjadi lokasi pengabdian Tim Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPKO) Himpunan Mahasiswa Pendidikan Seni Rupa Fakultas Bahasa, Seni, dan Budaya Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), pada Kamis 25 Juni 2026.

Tim PPKO Himpunan Mahasiswa Pendidikan Seni Rupa Fakultas Bahasa, Seni, dan Budaya UNY secara resmi membuka kegiatan di Balai Kalurahan Banguncipto, Kecamatan Sentolo, Kabupaten Kulon Progo.

Acara pembukaan dihadiri perwakilan Dinas Pariwisata Kulon Progo, Lurah Banguncipto yaitu bapak H. Boiran, S.Pd., S.H., M.A.NLP., segenap perangkat desa seperti Babinsa, Bhabinkamtibnas, Ketua Bamuskal, Ketua Tuwangga, Direktur Bumdes Banguncipto.

Enam kepala dukuh turut hadir dari Banaran Kidul, Banaran Lor, Bantarjo, Ploso, Bantar Kulon, dan Bantar Wetan. Mas Towil pengelola Towilfiets menyempatkan diri hadir begitu juga pengelola Tour Kali Papah, Pokdarwis dan pengelola bumi perkemahan Banguncipto.

Para RT dan pihak Sendang Jambe Luwak tidak lupa hadir. Pihak UNY tentu mendukung penuh dengan hadirnya bapak Dr. Ridho Gata Wijaya, M.Or. selaku Staf Ahli Bidang Kemahasiswaan dan Alumbi, ibu Dr. Firstya Evi Dianastiti, M.Pd. yang mewakili Dekan FBSB UNY, perwakilan HIMA PSR dan Pendidikan Kriya, serta beberapa mahasiswa Pariwisata UNY asli Banguncipto.

Kegiatan pembukaan ini juga menjadi sosialiasi awal tentang program kerja kepada seluruh mitra yang dirangkul tim PPKO HIMA PSR tahun 2026 yang terdisi dari 15 mahasiswa PSR, Pariwisata dan PJKR dengan didampingi oleh bapak Novida Nur Miftakhul Arif, S.Pd., M.Sn.

Proker PPKO HIMA PSR mengusung jargon JAMBE (Jelajah Alam, Masyarakat, Budaya, dan Ekonomi Kreatif), model pengembangan desa wisata terintegrasi berbasis sendang, budaya, dan UMKM di Kalurahan Banguncipto.

Program tersebut dirancang untuk memperkuat potensi lokal melalui pengembangan wisata Sendang Jambe Luwak, optimalisasi wisata Packrafting TKP, mendorong tumbuhnya UMKM kreatif, serta penyelenggaraan festival seni dan budaya desa. Seluruh program sudah didiskusikan bersama para mitra dan nantinya akan ada pendampingan secara intensif demi mengembangkan potensi wisata dengan warga.

Tamu undangan diajak untuk mengenal 4 proker utama yang memiliki sustainability tinggi,  JAMBE Edu-Ekowisata Desa berupaya bersama Pokdarwis memahat wajah branding desa wisata Banguncipto dengan ujung tombak rebranding dan positioning wisata packrafting TKP.

Melalui river discovery system dan pengembangan paket wisata, harapannya akan meningkatkan kualitas pengalaman wisatawan tiap kunjungan. Kedua, JAMBE Wisata Sendang, tim PPKO bersama warna menata area sendang dan mendirikan patung luwak berdasar memori kolektif warga sekitar yang akan menjadi landmark serta dilengkapi edukasi digital tentang sejarah perjuangan, kebudayaan dan wisata.

Ketiga, JAMBE Kreasi UMKM, warga Banguncipto memiliki kemampuan dalam membuat kerajinan namun sebagian besar belum sampai membuat produk siap jual, melalui pelatihan yang mengenalkan beragam teknik yang belum ada di sana seperti pengembangan produk gantungan tas batik dan upcycle sampah botol plastik serta hiasan gerabah bagi semua warga yang berminat, diharapkan akan tumbuh benih-benih UMKM.

Proker dengan skala paling besar adalah BANGUNCIPTO Art & Culture, menjadi wadah merangkul beragam kelompok dengan menunjukkan keunikan masing-masing seperti Towilfiets, packrafting TPK, sanggar seni, dan produk kreatif warga Banguncipto.

Program JAMBE merespon potensi wisata yang belum terintegrasi, melalui narasi yang tepat, Banguncipto akan memiliki sinergi kuat. Towilfiets menjadi pintu gerbang mengetahui Banguncipto, Sendang Jambe Luwak menjadi landmark memahami Banguncipto, dan packrafting TKP untuk menikmati Banguncipto lewat kali Papah. Sinergi secara narasi, berkolaborasi dalam ekosistem efektif yang tetap memberi ruang keunikan tiap potensi wisata.