![]() |
|
|
BARU saja perputaran ekonomi meningkat pada momen Hari Raya umat muslim pasca lesunya perekonomian di Indonesia. Kurang dari satu bulan muncul lagi tantangan baru yang tidak dapat dihindari, yaitu naiknya bahan baku plastik.
Pemicunya adalah konflik geopolitik di Timur Tengah, yang berdampak pada terganggunya jalur distribusi energi global, khususnya di Selat Hormuz. Akibatnya terjadi efek domino pada berbagai sektor industri yang pengirimannya terganggu.
Ada Polypropylene sebagai salah satu bahan dasar pembuatan plastik yang keras digunakan untuk wadah makanan, tutup botol, peralatan rumah tangga. Kemudian Polyethylene sebagai salah satu bahan dasar pembuatan plastik elastis seperti kantong plastik, botol, kemasan makanan. utama plastik mengalami lonjakan kenaikan harga hingga 24%.
Siapa saja yang akan terdampak? Bidang usaha F&B, Kosmetik, otomotif, sektor industri sampai dengan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) terkena dampaknya. Namun dampak tersebut ada sisi positif dan negatif.
Jika mengambil dari sisi negatif otomatis yang disorot tentang kenaikan harga. Pedagang UMKM berpikir keras untuk menaikkan harga dagangannya atau tidak. Kebanyakan terlalu takut dengan dampak kenaikan harga dagangannya, apakah pelanggannya mau membeli? Padahal tanpa ada kenaikan harga plastik keuntungan mereka sebelumnya tidak seberapa.
Tapi jika kita mau melihatnya dari sisi positif, hal ini sangat membantu dalam pergerakan kampanye peduli lingkungan, karena plastik adalah salah satu barang yang tidak mudah diurai oleh alam dan sangat berdampak pada kerusakan ekosistem alam. Indonesia sendiri berkontribusi menghasilkan sekitar 7,8 juta ton sampah plastik, dan 4,9 juta ton sampah plastik tidak dikelola dengan tepat (worldbank, 2021)
Jadi kegemparan mengenai harga plastik naik, jika dilihat lebih dalam lagi, hal tersebut sebenarnya dapat sangat positif, karena baik itu dari sisi konsumen maupun sisi pedagang atau perusahaan jadi lebih peduli terhadap alam dan lingkungan, mau tidak mau mereka harus memikirkan opsi lain selain menggunakan plastik.
Konsumen bisa memilih untuk menggunakan tas belanja atau botol minum yang bisa digunakan berkali-kali, pengusaha/pedagang bisa mengurangi biaya operasional karena tidak harus menyediakan plastik untuk pengemasannya. Dan yang utama, masalah sampah plastik yang merusak ekosistem alam pun akan berkurang.
Sejalan dengan program PBB yaitu Sustainable Development Goals (SDGs) dengan tujuan untuk membuat dunia yang lebih baik dan berkelanjutan sampai tahun 2030. Berdasarkan data dari Kementerian PANRB (2024) SDGs di Indonesia mencapai 62,5% dari total target, hasil ini jauh lebih baik dibandingkan dengan capaian SDGs global yang hanya 17%.
Dari fenomena yang terjadi maka lonjakan harga plastik sejatinya bukan sekadar musibah, melainkan 'lampu kuning' bagi dunia bisnis untuk segera berbenah. Dalam kacamata manajemen, situasi ini memaksa pelaku usaha -terutama UMKM- untuk berhenti hanya terpaku pada kemasan murah, dan mulai berinovasi mencari alternatif yang lebih ramah lingkungan (Cost - oriented to Value - oriented).
Contohnya pada usaha minuman dapat menggunakan gelas kemas yang dapat digunakan kembali, digitalisasi usaha untuk mengurangi kertas dengan menggunakan invoice digital, atau pada produk kecantikan dengan mengembalikan wadah bekas untuk memperoleh poin membership yang dapat ditukarkan untuk belanja berikutnya.
Konsumen saat ini semakin cerdas dan teliti dalam berbelanja; mereka tidak hanya mencari yang murah (Price Sensitivity), tapi juga mencari nilai lebih dari sebuah produk (Rational Buying).
Oleh karena itu, bisnis yang akan bertahan dan menang di masa depan bukanlah yang paling pintar menekan biaya produksi, melainkan yang paling cepat beradaptasi dengan keadaan, peka terhadap keinginan konsumen, dan berani berkomitmen menjaga bumi. Pada akhirnya, krisis ini adalah momentum emas untuk mengubah tantangan menjadi keunggulan bisnis yang berkelanjutan (Sustainable Competitive Advantage).
(Sumber: Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi. (2024). Indonesia capai 62,5 persen target SDGs 2030 tertinggi di Asia. https://www.menpan.go.id/site/berita-terkini/berita-daerah/indonesia-capai-62-5-persen-target-sdgs-2030-tertinggi-di-asia?utm_source=chatgpt.com
World Bank. (2021). Plastic waste discharges from rivers and coastlines in Indonesia. https://www.worldbank.org/in/country/indonesia/publication/plastic-waste-discharges-from-rivers-and-coastlines-in-indonesia?utm_source=chatgpt.com)
