![]() |
|
|
PanturaNews (Solo) - Bupati Brebes Paramitha Widya Kusuma menghadiri prosesi ritual Kirab Pusaka Malam Satu Suro di Pura Mangkunegaran, Surakarta, Selasa (16/6) malam.
Kehadiran ini menjadi momen pengalaman pertama bagi orang nomor satu di Kabupaten Brebes tersebut dalam mengikuti upacara pergantian tahun baru Jawa 1 Sura 1960 Je.
Didampingi sang suami, Ahmad Saeful Ansori, serta anggota DPRD Brebes Pamor Wicaksono, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Brebes, Fajar Adi Widiarso, kehadiran Bupati Brebes di Solo sekaligus memenuhi undangan resmi dari pihak praja Pura Mangkunegaran.
.jpg)
Rangkaian ritual sakral ini diawali dengan jamuan makan malam VVIP di Pracima Tuin, di mana Bupati Brebes berkesempatan berbaur dengan keluarga istana serta sejumlah tokoh nasional dan publik figur.
Dalam prosesi tersebut, tampak hadir sejumlah tokoh penting nasional. Di antaranya putra Presiden RI Didit Hediprasetyo yang hadir bersama ibundanya, Ketua Komisi IV DPR RI Titiek Soeharto.
Selain itu, hadir pula Menteri PU Dody Hanggodo, Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha, tokoh nasional Yenny Wahid, serta politikus senior PDIP Bambang Wuryanto (Bambang Pacul) dan Aria Bima. Selaku tuan rumah, Wali Kota Surakarta Respati Ardianto juga tampak menyambut para tamu undangan.

Usai jamuan makan malam, Bupati Brebes bersama para tokoh nasional turut menyaksikan langsung kekhidmatan prosesi kirab memutari tembok istana.
Jalannya kirab dipimpin langsung oleh Pangeran Sepuh GPH Paundrakarna Jiwo Suryonegoro sebagai cucuk lampah yang mengawal enam pusaka dalem.
Ritual ini juga diikuti oleh sedikitnya 3.000 peserta dari berbagai penjuru Indonesia yang dengan khusyuk menjalani laku bisu (bertapa bisu) berjalan kaki tanpa alas kaki.
Memaknai Filosofi 'Mulih'
Ditemui di sela-sela acara, Bupati Brebes Paramitha Widya Kusuma mengungkapkan rasa kagumnya terhadap pelestarian budaya yang dijaga ketat oleh Pura Mangkunegaran. Bagi Paramitha, esensi Malam Satu Suro bukan terletak pada keramaian festival, melainkan pada keheningan.
"Ada malam yang tidak diukur dari ramainya, tapi dari heningnya. Malam Satu Suro selalu begitu, orang berjalan pelan, menahan bicara, menundukkan kepala; seperti sedang berbicara dengan diri sendiri yang paling jujur," ujar Paramitha, Rabu 17 Juni 2026.
Ia juga menggarisbawahi filosofi mendalam masyarakat Jawa mengenai kata 'Suro', yakni 'mulih' yang berarti pulang.
"Pulang ke rumah, pulang ke alam, dan yang paling sulit, pulang kembali ke diri sendiri. Melepaskan yang sudah lewat, hadir sepenuhnya hari ini, lalu menyambut yang akan datang dengan hati yang lebih lapang," imbuhnya.
Menurut Paramitha, prosesi pembersihan dan perawatan pusaka yang dilakukan malam itu merupakan pengingat penting bagi para generasi penerus dan pemimpin daerah untuk tidak melupakan sejarah.
"Pusaka yang dirawat dan dibersihkan malam ini cuma pengingat: yang tua belum tentu usang, dan merawat warisan itu sama dengan merawat jati diri," tutur Bupati Brebes.
Sementara itu, Ketua Penyelenggara Kirab Pusaka, GRaj Ancillasura Marina Sudjiwo, menyampaikan apresiasi atas kehadiran para kepala daerah dan tokoh nasional.
Gusti Sura menyebut kehadiran para tokoh ini menjadi energi positif dalam memperkuat konsep Atita (masa lalu), Atiki (masa kini), dan Anagata (masa depan) yang tengah digaungkan Pura Mangkunegaran dalam pelestarian budaya nusantara.