KST, Santunan, Baca Puisi Tegalan pada Malam Transendental di Tuan Besar Coffee Slawi
LAPORAN IWANG NIRWANA
Rabu, 17/06/2026, 16:12:23 WIB
Penonton membludag luber sampai ke luar kafe pada gelar "Malam Transendental: Kata, Jiwa, lan Semesta" di Tuan Besar Coffee, Kulineran Ki Gede Sebayu, Depan SMA Negeri 1 Slawi, Kabupaten Tegal. (Foto: Dok/Iwang)

"MALAM Transendental: Kata, Jiwa, lan Semesta" menggetarkan nuansa di sekitar kawasan kuliner Slawi yang diselenggarakan oleh Komunitas Sastrawan Tegalan (KST) bersama The Tuan Besar Coffee, Selasa malam (16/6/2026) di Tuan Besar Coffee, Kulineran Ki Gede Sebayu, Depan SMA Negeri 1 Slawi, Kabupaten Tegal.

Acara yang dipandu Iwang Nirwana sebagai pembawa acara berlangsung hangat sekaligus khidmat. Sejak awal, suasana dibangun melalui pembukaan yang mengajak para hadirin memasuki ruang kontemplasi tempat kata-kata tidak sekadar dibaca, melainkan dihayati sebagai jalan memahami diri dan semesta.

Mewakili kalangan budayawan Pantura, Atmo Tan Sidik dalam prakata menegaskan pentingnya manusia mengingat kembali dari mana asalnya, atau dalam falsafah Jawa dikenal sebagai Sangkan Paraning Dumadi. Senada dengan itu, penulis buku Dikendhangi Wong Edan Aja Njoged juga mengingatkan bahwa bulan Muharram merupakan satu dari empat bulan mulia yang disebut Allah.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan santunan kepada belasan anak yatim dari Tegal dan Slawi, yang diserahkan langsung oleh Ginanjar, perwakilan dari KST dan The Tuan Besar Coffee. Momen ini menjadi pengingat bahwa kesenian tak boleh tercerabut dari nilai kemanusiaan.

Ginanjar Tuan Besar menegaskan bahwa kepedulian sosial semestinya tidak berhenti sebagai wacana atau sekadar larik puisi di atas kertas, melainkan hadir dalam tindakan nyata.

“Ini benar-benar pementasan seni yang tidak hanya unjuk giginya para seniman, tapi yang membuat kami merinding dan terharu, Komunitas Sastrawan Tegalan bareng The Tuan Besar Coffee gelem memuliakan anak yatim dari Tegal dan Slawi. Disiram juga tausiah Ustadz Tsany bin Khambali yang menyejukkan dan kental dengan nuansa transendental,” ujar Ginanjar Tuan Besar.

Begawan Tegal Lanang Setiawan menambahkan, buat apa jadi seniman tidak peduli sama anak yatim?

"Puisinya tentang Tuhan dan menderu-deru, tapi kurang peduli kepada anak yatim, manfaatmu sebagai seniman, apa?" tegasnya.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa seniman sejati bukan hanya piawai merangkai kata tentang empati dan penderitaan sosial, tetapi juga berani turun tangan memuliakan sesama.

Puncak acara diawali dengan penampilan Abu Ma’mur MF yang membacakan puisi Tegalerin dari novel Jogéd Transendental karya Lanang Setiawan. Di antaranya puisi berjudul Ngédap-ngédapi, Gerhana Batin, Sléndang Abang Dubang, Jogéd Maneges, Rogrog, Banyu Mata, dan Kalah Telak.

Puisi-puisi tersebut dibawakan dengan penghayatan mendalam sehingga menghadirkan suasana reflektif yang kuat.

Melalui bahasa Tegalan yang lugas namun puitis, Abu Ma’mur berhasil membawa audiens menyelami berbagai lapisan pengalaman manusia mulai dari kegelisahan batin, kritik sosial, hingga pergulatan eksistensial yang dekat dengan kehidupan masyarakat pesisir.

Nuansa spiritual semakin terasa saat Ustadz Tsany bin Khambali menyampaikan tausiah. Dalam ceramahnya, ia mengajak hadirin menjadikan sastra sebagai sarana memperhalus budi, memperkuat empati, serta mendekatkan diri kepada Tuhan.

Menurutnya, kata-kata yang lahir dari hati yang jernih memiliki kekuatan untuk menyentuh dan menggerakkan manusia menuju kebaikan.

Selepas tausiah, panggung sastra kembali hidup melalui pembacaan puisi oleh Linda Manise. Ia membawakan karya Titis Hening. Puisi tersebut menghadirkan perenungan tentang cuaca batin, demokrasi, serta hubungan antara sastra dan politik.

Salah satu bagian yang paling mengundang perhatian audiens adalah larik:

“Demokrasi hanyalah mania menghitung hidung!!”

Umpatmu sambil mengangkat asbak, menuang isinya ke dalam tempat sampah.

Melalui pembacaan yang tenang namun tajam, Linda menghadirkan refleksi tentang peran sastra sebagai penjaga nurani publik di tengah hiruk-pikuk kehidupan sosial dan politik.

Suasana kemudian semakin dinamis ketika penyair Apas Khafasi, yang akrab menyebut dirinya sebagai Si Manusia Nol, membacakan puisi karya Sudirman Said berjudul Sajak Rakyat Semesta dalam versi bahasa Tegalan.

Puisi tersebut menegaskan bahwa republik adalah milik seluruh rakyat, bukan milik rezim maupun segelintir elite kekuasaan.

Dengan bahasa Tegalan yang kuat dan membumi, puisi itu menyuarakan pentingnya kejujuran, kerja keras, serta keberpihakan kepada rakyat sebagai fondasi kehidupan berbangsa. Pembacaan Apas mendapat apresiasi hadirin karena mampu menghadirkan semangat kritik sosial yang tetap santun dan berakar pada nilai kebangsaan.

“Negeri kiyé dékéné rakyat semesta//dudu rézim sapriode atawané rong priode//apa maning saglintir oknum sing dodolan.”

Malam sastra itu juga diramaikan oleh pembacaan puisi dari Moh. Ayyub yang menambah warna dan memperkaya dialog kreatif antarseniman melalui puisi rolasannya.

Menjelang penutupan, suasana berubah menjadi semakin syahdu ketika dua seniman berkolaborasi lintas daerah. Iwang Nirwana dari Pemalang tampil diiringi alunan seruling Jimmy HC dari Brebes. Kolaborasi tersebut menjadi penanda eratnya jejaring kebudayaan Pantura yang terus hidup melalui sastra, musik, dan perjumpaan antarkomunitas.

Malam Transendental akhirnya tidak hanya menjadi panggung pembacaan puisi, tetapi juga ruang perjumpaan antara kata, jiwa, dan semesta. Di tengah dunia yang kian riuh oleh berbagai kepentingan, acara ini menghadirkan jeda yang menenangkan mengingatkan bahwa sastra masih memiliki tempat sebagai rumah bagi perenungan, kemanusiaan, dan harapan.

Tahun Baru Islam di Tuan Besar Coffee kali ini agak berbeda dimana para seniman dan pengunjung datang menyaksikan Malam Transedental. Hadir pada acara tersebut Budayawan Pantura Atmo Tan Sidik, novelis Pelangi Tiga Minggu Ken Ratu Adni Sukmawati, Imam Fauzi, penulis cerita anak-anak Ken Ayu Laras Queena, Nadin Lukman, Begawan Tegal Lanang Setiawan.

Jimmy Hollyfied, penulis buku Rahasia Tanda HM. Enthieh Mudakir, Endhy Kepanjen, Mantan Camat Dukuhturi Ade Rusman,  Pasangan Penyair kondang Nurochman Sudibyo dan Dyah Setyawati, perwakilan Parowulan Dudung UTS bersama Nurul Balvas, Lesbumi Kab Tegal Ki Walet, dan penggiat budaya dari Kabuaten Tegal.