Suguhan Kota Pecinta Sastra: Tahu Aci, Krupuk Antor, Teh Poci hingga Balada 184 Baris yang Menggetarkan
LAPORAN IWANG NIRWANA
Senin, 08/06/2026, 11:11:27 WIB
Wartawan senior asal Palembang, Harry Mohammad, ke Kota Tegal dalam perjalanan silaturahmi, penjelajahan budaya yang mempertemukan sejarah, sastra, tradisi lisan, dan kekayaan kuliner khas pesisir Pantura. (Foto: Dok/Iwang)

KUNJUNGAN wartawan senior asal Palembang, Harry Mohammad, ke Kota Tegal menjelma bukan sekadar perjalanan silaturahmi, melainkan sebuah penjelajahan budaya yang mempertemukan sejarah, sastra, tradisi lisan, dan kekayaan kuliner khas pesisir Pantura.

Perjalanan dimulai dari Omah Sejarah, kediaman Harry Muharso, sosok yang dikenal sebagai Ketua Tim Penerjemah Al-Qur'an Terjemahan Kementerian Agama tahun 2019 yang telah disempurnakan ke dalam Bahasa Tegal.

Di rumah yang menyimpan beragam catatan sejarah dan dokumentasi budaya tersebut, Harry Mohammad diajak menyelami ikhtiar panjang pelestarian bahasa daerah sebagai bagian dari identitas masyarakat Tegal.

Dari Omah Sejarah, rombongan melanjutkan perjalanan menuju kediaman Yono Daryono, penerima Anugerah Kebudayaan Jawa Tengah tahun 2025 kategori Pelopor Teater Tradisional. Kunjungan ini terasa istimewa mengingat beberapa hari sebelumnya Yono Daryono sempat menjalani perawatan di RSI Harapan Anda Kota Tegal.

Dalam suasana hangat dan penuh kekeluargaan, perbincangan mengalir mengenai perjalanan panjang teater rakyat yang telah puluhan tahun menjadi bagian penting denyut kebudayaan masyarakat Tegal. Tidak hanya teater namun berbagai lintas seni yang ada di Tegal. Di kediaman Yono Daryono pemeran Mang Damin dalam film Tukang Bubut Naik Haji yang merupakan sejarah yang menyimpan kenangan tokoh tokoh seni budaya.

"Di Tegal,  semua rumah adalah sanggar, dan rumah saya ini saksi tokoh tokoh seni budaya hadir di Tegal seperti Brhe Wardhana,  Sujiwo Tejo,  Sosiawan Leak dan masih banyak lagi". Ucap Yono Daryono.

Namun, puncak perjalanan budaya tersebut seolah menanti di sebuah ruang yang sarat kenangan: Plataran Sastra Piek Ardijanto Soeprijadi. Di tempat yang menjadi salah satu simpul sejarah sastra Tegal itu, Harry Mohammad berkesempatan bertemu dengan keluarga penyair Angkatan 66, Piek Ardijanto Soeprijadi. Ibu Hj Itiningsih (Bu Piek) didampingi dua anaknya yakni Ir. Cantani  Dwiantari dan Fiartadi Sri Kawindra juga menantunya Mba Dini.

Di sana, sosok yang akrab disapa Bu Piek, perempuan berusia 89 tahun, menghadirkan pengalaman yang sulit dilupakan. Tanpa teks dan tanpa jeda berarti, ia membacakan puisi monumental "Balada Empu Sedah" sepanjang 184 baris yang telah dihafalnya. Setiap bait mengalir dari ingatan yang tetap terjaga meski usia hampir menyentuh satu abad.

Suasana mendadak hening. Kata-kata yang meluncur dari mulut Bu Piek bukan hanya menjadi pertunjukan sastra, melainkan juga kesaksian tentang bagaimana puisi hidup dalam diri seseorang. Bagi perempuan yang dikenal sebagai "ibu penyair" tersebut, puisi telah menjadi terapi, sahabat, sekaligus sumber energi yang membuat semangatnya tetap menyala.

"Sebagai Kota Pecinta Sastra di Tegal, tamu bukan hanya disuguhi makanan, tetapi juga puisi," ujar salah seorang peserta kunjungan.

Ungkapan itu terasa tepat. Sebab sepanjang perjalanan, para tamu memang tidak hanya diperkenalkan pada kekayaan budaya, tetapi juga dimanjakan oleh aneka kuliner khas Tegal seperti kerupuk antor, pilus, kacang Bogares, dan tahu aci yang tersaji di berbagai kesempatan.

Bahkan rombongan yang terdiri dari Harry Mohammad,  Atmo Tan Sidik, Alvin Jurnalistika SIP, Vicky Yudha Muzakka S.KOm serta Iwang Nirwana diajak secara khusus mengunjungi lokasi pembuatan tahu aci, makanan yang telah lama menjadi ikon kuliner Kota Tegal. Di lokasi tersebut, penjelasan menarik disampaikan oleh Atmo Tan Sidik Budayawan Pantura yang selama dua hari terakhir melakukan penelusuran dan kajian mengenai sejarah, filosofi serta perkembangan tahu aci sebagai warisan kuliner masyarakat Tegal.

Singkatnya menurut Atmo Tan Sidik, tahu aci atau Tahu Jengger demikian H Muharso menyebutnya mempunyai filosofi yang mendalam yang mengisyaratkan bahwa pemimpin harus melibatkan berbagai elemen agar mempunyai sifat kepemimpinan yang Lugas.

Dari tahu aci menyimpan cerita panjang tentang kreativitas dan ketahanan budaya lokal serta kombinasi tahu dari tradisi cina dan rempah seperti aci kasar dan aci halus yang dipadu dengan bumbu nusantara seperti kemiri serta kocai menjadikan tekstur aci yang tidak keras saat di goreng.

Kunjungan Harry Mohammad akhirnya menjadi gambaran utuh tentang wajah Tegal yang sesungguhnya. Sebuah kota yang tidak hanya kaya akan sejarah dan tradisi, tetapi juga memiliki kemampuan merawat ingatan kolektifnya melalui bahasa, teater, sastra, dan kuliner.

Di kota ini, sejarah disimpan di rumah-rumah sederhana, teater hidup dalam ingatan para pelopornya, kuliner menjadi penanda identitas, dan puisi tetap menemukan ruang untuk bernapas. Karena itulah, bagi para pecinta budaya, Tegal bukan sekadar kota yang dikunjungi, melainkan ruang perjumpaan tempat masa lalu, masa kini, dan harapan masa depan duduk bersama dalam satu meja peradaban.