Dua Perjuangan, Satu Martabat: Bung Karno dan Kebangkitan Sastra Tegalan
LAPORAN IWANG NIRWANA
Senin, 08/06/2026, 11:04:46 WIB
Sunaryo Tarman, penulis puisi Tegalan yang puisinya banyak dihimpun dalam buku antologi puisi Tegalerin terbitan Komunitas Sastrawan Tegalan. Domisili di Desa Tegalwangi, Kabupaten Tegal.

PUISI Putra Sang Fajar karya Sunaryo Tarman bukan sekadar puisi penghormatan kepada Bung Karno. Puisi ini juga memiliki makna yang lebih luas, yaitu pertemuan antara semangat kemerdekaan bangsa Indonesia dengan kebangkitan bahasa daerah yang pernah dianggap rendah, lalu bangkit menjadi bahasa sastra yang bermartabat.

Sebelum mengupas puisi ini, perlu dipahami terlebih dahulu mengapa Bung Karno selalu tampil sebagai sosok yang berapi-api dalam sejarah Indonesia. Semangatnya tidak lahir dari kenyamanan, melainkan dari kenyataan pahit yang dialami bangsa Indonesia selama ratusan tahun penjajahan.

Bangsa Belanda datang ke Nusantara karena tertarik pada kekayaan alam yang melimpah. Rempah-rempah, gula, kopi, teh, tembakau, hasil hutan, dan berbagai komoditas lainnya menjadi sumber keuntungan yang luar biasa besar. Melalui VOC dan kemudian Pemerintah Hindia Belanda, kekayaan Nusantara terus mengalir ke Eropa.

Belanda memang tidak menjadi negara maju semata-mata karena Indonesia. Kemajuan mereka juga ditopang oleh perdagangan, pelayaran, industri, ilmu pengetahuan, dan berbagai faktor lainnya.

Namun para sejarawan sepakat bahwa kekayaan dari tanah-tanah jajahan, termasuk Indonesia, memberikan kontribusi besar terhadap pembangunan ekonomi Belanda selama berabad-abad. Sementara gedung-gedung megah, pelabuhan, kanal-kanal, dan berbagai kemajuan dibangun di negeri penjajah, rakyat di tanah jajahan justru banyak yang hidup dalam kemiskinan dan keterbelakangan.

Dari kenyataan itulah lahir perlawanan. Bung Karno tampil sebagai pemimpin yang berusaha mengembalikan harga diri bangsa yang selama ratusan tahun diposisikan sebagai bangsa bawahan. Ia mengajarkan bahwa bangsa Indonesia tidak boleh menjadi bangsa kuli di negeri sendiri.

Semangat yang sama sesungguhnya juga terjadi dalam perjalanan bahasa Tegalan. Selama berpuluh-puluh tahun bahasa Tegalan sering dipandang sebagai bahasa percakapan sehari-hari semata. Ia hidup di pasar, di sawah, di rumah-rumah penduduk, dan di warung-warung kopi.

Namun dalam dunia tulis-menulis, bahasa ini nyaris tidak memperoleh tempat yang layak. Bahkan tidak sedikit yang memandang bahasa Tegalan sebagai bahasa "kasar", bahasa "pinggiran", atau bahasa yang dianggap tidak pantas menjadi media sastra.

Keadaan mulai berubah secara penting pada 26 November 1994 ketika Lanang Setiawan mulai melopori sastra Tegalan, dan yang kemudian para pegiat sastra pun mengikuti jejaknya, bahasa Tegal akhirnya dikukuhkan sebagai bahasa sastra melalui gerakan Sastra Tegalan modern.

Momentum tersebut menjadi tonggak penting karena untuk pertama kalinya bahasa Tegalan tidak hanya digunakan sebagai alat komunikasi lisan, tetapi juga diposisikan sebagai wahana penciptaan karya sastra yang serius.

Sejak saat itu bahasa Tegalan mulai menunjukkan kemampuannya sebagai bahasa puisi, cerpen, drama, novel, monolog, esai, dan berbagai bentuk karya sastra lainnya. Bahasa yang dulu sering diremehkan mulai membuktikan bahwa ia memiliki kekayaan kosakata, daya ungkap, kekuatan metafora, dan kemampuan artistik yang tidak kalah dengan bahasa-bahasa sastra lainnya.

Dalam konteks itulah puisi karya Sunaryo Tarman ini menjadi menarik. Penulis puisi Tegalan yang puisinya banyak dihimpun dalam buku antologi puisi Tegalerin terbitan Komunitas Sastrawan Tegalan. Dia saat ini tinggal di Desa Tegalwangi, Kabupaten Tegal.

Ia tidak hanya berbicara tentang Bung Karno yang mengangkat martabat bangsa Indonesia, tetapi juga secara tidak langsung menunjukkan bagaimana bahasa Tegalan telah naik derajat menjadi bahasa sastra yang mampu mengungkapkan gagasan-gagasan besar tentang sejarah, perjuangan, nasionalisme, dan kemanusiaan.

"Déwéké teka ora nggunakna mahkota//cukup nggawa geni nang dadané.//Suarané gludug mbelah langit,//'Indonesia... Merdéka!'"

Pembukaan puisi ini langsung menghadirkan sosok Bung Karno sebagai figur revolusioner. Ia tidak datang dengan simbol kekuasaan berupa mahkota, melainkan membawa "geni nang dadané" atau api dalam dadanya. Api tersebut melambangkan semangat perjuangan yang menyala tanpa henti.

Ungkapan "Suarané gludug mbelah langit" merupakan metafora yang sangat kuat. Pidato Bung Karno digambarkan seperti petir yang membelah langit, mengguncang kesadaran rakyat yang selama berabad-abad hidup dalam tekanan penjajahan.

"Ranté penjajah mbok reemuken nganggo tembung//Landa gemeter, donya pada kagét.//Bung! Kowen dudu kur menungsa//kowen kuwé gemladag, kowen kuwé murka kang nggilani!"

Pada bait ini, penyair menunjukkan bahwa perjuangan Bung Karno bukan hanya melalui senjata, melainkan melalui kata-kata dan gagasan. Kesadaran nasional yang tumbuh di kalangan rakyat menjadi ancaman besar bagi kolonialisme.

Kata "gemladag" menghadirkan citra ledakan besar. Sedangkan "murka kang nggilani" menggambarkan kemarahan sejarah terhadap ketidakadilan yang berlangsung terlalu lama. Hiperbola ini memperlihatkan kekaguman penyair terhadap pengaruh Bung Karno dalam perjuangan kemerdekaan.

"Kowen ngajari nyong kabéh//ngadeg pada duwuré//Njagong pada endépé nang ngarepé donya//emoh dadi bangsa kuli,//beléh lila dadi bangsa sing dihina!"

Inilah jantung ideologis puisi ini. Bung Karno digambarkan sebagai guru kebangsaan yang mengajarkan rakyat Indonesia untuk berdiri tegak di hadapan dunia. Penolakan terhadap mental kuli dan mental terjajah menjadi pesan utama bait ini.

Bait ini sekaligus menjadi pengingat bahwa kemerdekaan sejati bukan hanya bebas dari penjajah, tetapi juga bebas dari rasa rendah diri.

"Nang Ende kowen nenun impén//nang Bengkulu kowen ngajani wani.//saka buwén nganti mimbar sing duwur//kowen ngrobah banyu mata dadi janji"

Penyair memasukkan fakta sejarah mengenai pengasingan Bung Karno di Ende dan Bengkulu. Tempat yang dimaksudkan penjajah untuk melemahkan perjuangan justru menjadi tempat pematangan cita-cita kemerdekaan.

Ungkapan "ngrobah banyu mata dadi janji" merupakan salah satu metafora terbaik dalam puisi ini. Air mata penderitaan rakyat diubah menjadi tekad perjuangan.

"Hei, Bung Karno!//jasmu kena baé pesuh//Pecimu kena baé miring//tapi semangatmu ora tau kendo!"

Bait ini menampilkan sisi manusiawi Bung Karno. Jas bisa lusuh, peci bisa miring, tubuh bisa menua, tetapi semangat perjuangan tidak pernah pudar.

Penyair ingin menunjukkan bahwa kebesaran seseorang tidak terletak pada pakaian atau jabatan, melainkan pada nilai-nilai yang diperjuangkannya.

"Kowen ngobong jiwa nyong kabèh nganggo revolusi//Kowen préntah: 'Aja pisan-pisan nglaléna sejarah!'//Mulané nang kéné nyong kabéh ngadeg//nggengem obor warisanmu,//njaga Merah Putih tetep ngibar!"

Bait ini menghubungkan masa lalu dengan masa kini. Pesan "Jas Merah" atau jangan sekali-kali melupakan sejarah menjadi pusat makna bait ini.

Generasi penerus digambarkan sebagai penjaga obor perjuangan yang diwariskan Bung Karno. Obor tersebut adalah semangat kemerdekaan, keberanian, dan nasionalisme.

"Salawasé langit tégin biru//salawasé Garuda durung mati//aranmu, Bung, bakal terus urip—//nang nadi, nang getih, nang dada nyong kabèh!"

Penutup puisi menghadirkan nuansa keabadian. Nama Bung Karno akan terus hidup selama Indonesia masih berdiri.

Penggunaan frasa "nang nadi, nang getih, nang dada nyong kabèh" menunjukkan bahwa Bung Karno tidak lagi hanya menjadi tokoh sejarah, melainkan telah menjadi bagian dari identitas bangsa.

Kekuatan utama puisi Putra Sang Fajar karya Sunaryo Tarman terletak pada keberhasilannya mempertemukan dua perjuangan sekaligus. Pertama, perjuangan Bung Karno mengangkat martabat bangsa Indonesia dari bangsa terjajah menjadi bangsa merdeka.

Kedua, penggunaan bahasa Tegalan sebagai medium sastra yang membuktikan bahwa bahasa daerah yang dahulu sering diremehkan ternyata mampu mengungkapkan gagasan-gagasan besar tentang sejarah, nasionalisme, dan kemanusiaan.

Jika Bung Karno mengangkat derajat bangsa Indonesia agar berdiri sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia, maka perkembangan Sastra Tegalan sejak 26 November 1994 telah mengangkat derajat bahasa Tegalan agar berdiri sejajar dengan bahasa-bahasa sastra lainnya di Indonesia.

Karena itulah puisi ini tidak hanya menjadi penghormatan kepada Sang Putra Fajar. Puisi ini juga menjadi simbol bertemunya dua perjuangan yang memiliki tujuan yang sama, yakni menegakkan martabat. Yang satu memperjuangkan kemerdekaan bangsa, sedangkan yang lain memperjuangkan kemerdekaan bahasa dari stigma dan keterpinggiran.

Melalui puisi ini, Sunaryo Tarman menunjukkan bahwa semangat kemerdekaan bukan hanya hidup dalam sejarah perjuangan bangsa, tetapi juga hidup dalam bahasa yang digunakan untuk mengenang dan mewariskannya kepada generasi berikutnya. Dalam pengertian itulah Bung Karno dan Sastra Tegalan bertemu: sama-sama mengajarkan bahwa martabat harus diperjuangkan, dijaga, dan diwariskan.

Untuk lengkapnya puisi karya Sunaryo Tarman, kami kutip secara utuh:

PUTRA SANG FAJAR

Déwéké teka ora nggunakna mahkota//cukup nggawa geni nang dadané.//Suarané gludug mbelah langit,//"Indonesia... Merdéka!"

Ranté penjajah mbok reemuken nganggo tembung//Landa gemeter, donya pada kagét.//Bung! Kowen dudu kur menungsa//kowen kuwé gemladag, kowen kuwé murka kang nggilani!

Kowen ngajari nyong kabéh//ngadeg pada duwuré//Njagong pada endépé nang ngarepé donya//emoh dadi bangsa kuli,//beléh lila dadi bangsa sing dihina!

Nang Ende kowen nenun impén//nang Bengkulu kowen ngajani wani.//saka buwén nganti mimbar sing duwur//kowen ngrobah banyu mata dadi janji

Hei, Bung Karno!//jasmu kena baé pesuh//Pecimu kena baé miring//tapi semangatmu ora tau kendo!

Kowen ngobong jiwa nyong kabèh nganggo revolusi//Kowen préntah: "Aja pisan-pisan nglaléna sejarah!"//Mulané nang kéné nyong kabéh ngadeg//nggengem obor warisanmu,//njaga Merah Putih tetep ngibar!

Salawasé langit tégin biru//salawasé Garuda durung mati//aranmu, Bung, bakal terus urip—//nang nadi, nang getih, nang dada nyong kabèh!

Merdéka! Merdéka!