![]() |
|
|
MENYIMAK puisi umumnya dilakukan di panggung kesenian, festival sastra, atau forum budaya. Namun pada Sabtu, 6 Juni 2026, puisi hadir di tempat yang berbeda: sebuah resepsi pernikahan di Desa Jatilaba, Kecamatan Margasari, Kabupaten Tegal.
Di tengah suasana bahagia pernikahan Bani dan Nabila, sebuah puisi berbahasa Tegalan berjudul "Tepung" karya Lanang Setiawan dibacakan oleh penyair Apas Khafasi atau yang dikenal dengan nama Manusia Nol. Pembacaan puisi tersebut menjadi bagian istimewa dari rangkaian acara, menghadirkan nuansa sastra yang berpadu dengan doa dan harapan bagi kedua mempelai.
Resepsi yang berlangsung di RT 03/RW 03 Desa Jatilaba itu dihadiri ratusan tamu. Di tengah hiruk-pikuk hajatan, para hadirin tampak larut menyimak setiap bait puisi yang dilantunkan dari atas panggung.

Nabila merupakan putri pasangan Rasito dan Uripah yang berdomisili di Desa Jatilaba. Sementara Bani adalah putra pasangan Edy Sumitro dan Rini Nastiti yang berdomisili di Kota Tegal.
Puisi yang dibacakan berjudul "Tepung", sebuah karya yang menggambarkan perjumpaan dua insan yang berasal dari tempat berbeda, namun akhirnya dipersatukan dalam ikatan pernikahan.
TEPUNG
Ora ngira ora nyana
Mas Bani manggon ning elor
Mba Béla manggong ning kidul
Asem ning gunung
uyah ning segara
bisa tepung nyawiji
Sapa nyangka
sapa ngira
gunung karo segara
bisa gatuk
bisa akur
Ajib...
Kersané Allah
Gunung dipénék
segara disebrangi
Saksi gunung gamping
ora pan goyah
ora pan owah
Umah-umah berkah
sakinah mawaddah warahmah
sampé kaki-kaki nini-nini
Jumat, 5 Juni 2026
Melalui simbol asam dari gunung dan garam dari laut, puisi ini menggambarkan bagaimana perbedaan bukanlah penghalang untuk bersatu. Kehendak Tuhan menjadi kekuatan yang mempertemukan dua manusia hingga akhirnya berjalan bersama dalam satu tujuan hidup.
Menurut Apas Khafasi, puisi tersebut bukan sekadar rangkaian kata, melainkan doa yang dibungkus dalam bahasa sastra. Bait-baitnya mengandung harapan agar rumah tangga yang dibangun Bani dan Nabila senantiasa diberi keberkahan, ketenteraman, dan umur kebersamaan yang panjang.
Pembacaan puisi itu mendapat perhatian para tamu undangan. Suasana yang semula ramai berubah menjadi lebih khidmat ketika setiap bait dilantunkan. Tepuk tangan dan apresiasi terdengar setelah puisi selesai dibacakan.
Abdul Kholik, keluarga dari pihak mempelai perempuan, mengaku terkesan dengan hadirnya puisi dalam acara pernikahan tersebut.
"Jarang ada resepsi pernikahan yang menghadirkan pembacaan puisi. Rasanya berbeda karena puisi yang dibacakan seperti menjadi doa dan restu bagi kedua mempelai," ujarnya.
Kehadiran puisi "Tepung" di tengah resepsi menjadi bukti bahwa sastra tidak hanya hidup di ruang-ruang kesenian. Sastra juga dapat hadir dalam peristiwa penting kehidupan masyarakat, menyatu dengan tradisi, serta menjadi media untuk menyampaikan doa dan harapan.
Di Desa Jatilaba hari itu, puisi bukan sekadar karya yang dibacakan dari atas panggung. Ia menjelma menjadi restu yang mengiringi langkah Bani dan Nabila memasuki kehidupan baru, sekaligus menjadi pengingat bahwa cinta, sebagaimana asam dan garam, menemukan maknanya ketika bertemu dan menyatu.