Kesbangpol Brebes: Wayang Golek Santri Jadi Benteng Pertahanan Budaya di Era Digital
LAPORAN TAKWO HERIYANTO
Kamis, 04/06/2026, 12:33:29 WIB

PanturaNews (Brebes) – Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Brebes, Cecep Aji Suganda, menegaskan pentingnya menjaga ketahanan budaya dan ideologi bangsa di tengah masifnya arus informasi digital. 

Menurutnya, ruang digital yang tidak memiliki filter kuat berpotensi mengikis nilai-nilai nasionalisme, melunturkan budaya lokal, hingga memicu polarisasi di masyarakat.

Hal tersebut disampaikannya saat menghadiri pertunjukan budaya "Pagelaran Wayang Golek Santri" bersama Ki Haryo Susilo Enthus di Lapangan Desa Parereja, Kecamatan Banjarharjo, Kabupaten Brebes, Rabu (3/6) malam.

Acara ini digelar oleh Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemenkomdigi) melalui Direktorat Jenderal Komunikasi Publik dan Media yang menggandeng Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Brebes.

"Keamanan digital bukan hanya soal melindungi data, tetapi juga menjaga ideologi dan mentalitas generasi muda kita dari paham-paham radikal, hoaks, dan intoleransi yang marak di media sosial. Pertunjukan wayang golek santri ini adalah contoh konkret bagaimana kita merawat seni tradisi sekaligus menjadikannya benteng pertahanan budaya dalam menjaga persatuan dan kesatuan bangsa," tegas Cecep.

Acara yang mengusung tema besar "Membangun Generasi Emas Indonesia: Tubuh Sehat, Tangguh Berkarya dan Aman di Era Digital" ini memadukan unsur hiburan rakyat dengan sosialisasi kebijakan nasional. 

Strategi edukasi kreatif ini sengaja dipilih untuk mengampanyekan pentingnya gizi seimbang dan keamanan internet bagi generasi muda langsung di tengah masyarakat.

Direktur Komunikasi Publik Kemenkomdigi, Nunik Purwanti, mengungkapkan bahwa tantangan pola asuh anak di era modern telah bergeser secara drastis. Jika dahulu pengawasan orang tua terfokus di luar rumah, kini ancaman siber dapat masuk langsung ke dalam kamar anak melalui gawai yang terhubung internet.

"Kita bukan melarang anak menggunakan internet, bukan pula mengambil telepon genggam mereka. Yang kita lakukan adalah memastikan ruang digital menjadi tempat yang aman dan sehat bagi anak-anak kita," ujar Nunik.

Sebagai payung hukum, pemerintah telah menerbitkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 17 Tahun 2025 tentang Perlindungan Anak di Ruang Digital (PP Tunas). Melalui pagelaran wayang ini, substansi aturan tersebut dikemas secara ringan agar lebih mudah dipahami oleh orang tua.

Bupati Brebes Paramitha Widya Kusuma melalui Wakil Bupati Brebes Wurja memberikan apresiasi. Menurutnya, penggunaan media tradisional seperti wayang golek membuat pesan-pesan pembangunan dan teknologi terasa lebih dekat dan membumi bagi warga Brebes.

Wurja juga mengingatkan bahwa kecukupan gizi adalah modal utama spiritual dan intelektual anak untuk menghadapi tantangan masa depan.

"Anak-anak kita tumbuh dengan gizi yang cukup karena dari tubuh yang sehat lahir semangat belajar, kreativitas, dan daya juang yang kuat," kata Wurja.

Selain menyoroti gizi dan internet, Wurja berpesan agar momentum menuju Generasi Emas 2045 ini dibarengi dengan penanaman karakter moral dasar sejak dini di lingkungan keluarga, seperti kejujuran, kerja keras, dan sikap antikorupsi.

Dari sisi moral dan spiritual, Ketua Dewan Penasehat Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Brebes, KH. Subhan Ma'mun, yang turut hadir juga memberikan pandangannya. Ia menyoroti urgensi keteladanan moral orang tua dalam membentengi mental generasi muda dari dampak negatif paparan dunia maya yang makin bebas.

Pertunjukan seni budaya ini berlangsung meriah dan dihadiri oleh jajaran pejabat Pemkab Brebes, di antaranya Kepala Dinkominfotik Brebes Warsito Eko Putro, Camat Banjarharjo Nanang Raharjo, sejumlah pejabat Organisasi Perangkat Daerah (OPD) lainnya, serta ratusan masyarakat setempat yang antusias menyaksikan kebudayaan lokal berbalut pesan edukasi modern tersebut.