Ketika Pancasila Tinggal Nama: Cermin yang Ditinggalkan Penguasa
.
Rabu, 03/06/2026, 12:28:25 WIB

PUISI “Cermin” karya Abu Ma’mur MF merupakan refleksi mendalam tentang hubungan antara Pancasila, kekuasaan, dan kehidupan demokrasi di Indonesia. Dalam puisi ini, Pancasila tidak diposisikan sebagai dokumen sejarah yang selesai dibaca, melainkan sebagai cermin yang terus menguji wajah kekuasaan.

Penyair mengingatkan bahwa para pendiri bangsa menyalakan "lima cahaya" sebagai penuntun perjalanan Indonesia yang majemuk: “Mereka tahu: perbedaan adalah kenyataan, hidup bersama adalah pilihan. lahirlah Pancasila.”

Melalui larik tersebut, penyair menegaskan bahwa Pancasila lahir dari kesadaran bahwa Indonesia tidak dibangun di atas keseragaman, melainkan di atas kemampuan untuk hidup bersama dalam perbedaan. Karena itu, Pancasila tidak hanya menjadi dasar negara, tetapi juga etika hidup bersama yang harus terus dirawat oleh rakyat maupun penguasa.

Dalam puisi ini, Pancasila hadir sebagai "cermin" yang berdiri di hadapan setiap kekuasaan. Ia tidak memuji, tidak menghakimi, tetapi mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mendasar:

“apakah kemanusiaan masih mendapat tempat? apakah keadilan sungguh hadir? apakah musyawarah masih bernapas di tengah keputusan-keputusan yang tergesa?”

Pertanyaan tersebut terasa sangat relevan ketika masyarakat menyaksikan berbagai persoalan yang terus berulang dalam kehidupan berbangsa. Korupsi masih menjadi luka yang belum sembuh. Penyalahgunaan jabatan, konflik kepentingan, dan praktik politik yang lebih mengutamakan kelompok tertentu daripada kepentingan rakyat menunjukkan bahwa nilai-nilai Pancasila sering kali lebih banyak diucapkan daripada dijalankan. Banyak orang mengaku Pancasilais, tetapi perilakunya justru menjauh dari semangat keadilan sosial dan kemanusiaan yang menjadi inti Pancasila.

Penyair kemudian membedakan secara tajam antara otoritas dan legitimasi. Otoritas dapat diperoleh melalui jabatan, hukum, atau pemilihan yang sah. Namun legitimasi lahir dari kepercayaan rakyat. Dan kepercayaan hanya tumbuh ketika kekuasaan berjalan seiring dengan integritas.

“Kepercayaan lahir//ketika kata-kata berjalan bersama tindakan,//ketika hukum tidak berubah arah karena mengenali wajah,//dan ketika kekuasaan masih bersedia mendengar//suara yang mungkin tidak menyenangkan.”

Di sinilah kritik puisi ini menjadi sangat tajam. Dalam kehidupan demokrasi, kritik sering dipandang sebagai ancaman. Padahal penyair mengingatkan bahwa kritik bukan musuh bangsa.

“Karena itu kritik bukan musuh bangsa.//Ia adalah alarm. Dan alarm memang diciptakan//untuk mengganggu.”

Alarm memang tidak nyaman didengar, tetapi tanpanya bahaya sering datang tanpa disadari. Begitu pula kritik dalam demokrasi. Kritik bukan tanda kebencian kepada negara, melainkan bentuk kepedulian agar negara tidak kehilangan arah.

Puisi ini juga menyoroti kecenderungan kekuasaan yang sibuk membangun citra, sementara substansi sering tertinggal. Penyair menulis bahwa negara ingin memberi makan semua anak, sebuah cita-cita yang mulia. Namun ia mengingatkan bahwa bangsa tidak hanya membutuhkan makanan untuk tubuh, tetapi juga ruang bagi kebebasan berpikir dan akal sehat.

“Sebab bangsa tidak hanya tumbuh oleh gizi,//tapi juga oleh keberanian berpikir.”

Pesan ini menjadi pengingat bahwa pembangunan tidak cukup diukur dari angka-angka statistik, melainkan juga dari kualitas demokrasi, kebebasan berpendapat, dan kemampuan negara mendengarkan rakyatnya.

Puncak puisi ini terletak pada definisi tentang Pancasila yang sesungguhnya. Pancasila bukan alat untuk membungkam perbedaan, melainkan ruang yang memungkinkan keberagaman hidup berdampingan.

“Di dalam penghormatan kepada manusia,//persatuan yang tidak memaksa keseragaman,//musyawarah yang memberi ruang bagi perbedaan,//dan keberanian mengoreksi diri//ketika sedang memegang kuasa.”

Larik tersebut merangkum seluruh semangat Pancasila: kemanusiaan, persatuan, demokrasi, dan keadilan yang berjalan bersama. Persatuan bukanlah keseragaman. Musyawarah bukanlah formalitas. Kekuasaan bukanlah hak untuk selalu benar, melainkan amanah yang harus terus dikoreksi.

Pada akhirnya, puisi "Cermin" mengingatkan bahwa ancaman terbesar bagi bangsa bukanlah perbedaan pendapat, melainkan hilangnya kemampuan untuk melakukan introspeksi.

“Karena pada akhirnya,//yang menjaga sebuah bangsa//bukanlah kekuasaan yang paling kuat,//melainkan keberanian untuk terus bercermin.”

Dan ketika penyair menutup puisinya dengan kalimat:

“Sebab bangsa tidak runtuh karena perbedaan pendapat.// Bangsa runtuh ketika kehilangan cermin.//Dan sejak delapan puluh satu tahun lalu,//cermin itu bernama: PANCASILA.”

Ia sesungguhnya sedang mengingatkan bahwa relevansi Pancasila hari ini justru semakin besar ketika pemerintahan, lembaga negara, maupun masyarakat menghadapi krisis kepercayaan.

Selama Pancasila tetap dijadikan cermin untuk menguji kemanusiaan, keadilan, persatuan, dan keberanian mengoreksi diri, harapan untuk memperbaiki kehidupan berbangsa akan selalu ada. Namun ketika cermin itu diabaikan, yang tersisa hanyalah kekuasaan tanpa arah dan demokrasi tanpa jiwa.