![]() |
|
|
LIHATLAH Arofah sekarang, ada pemandangan yang selalu menarik setiap musim haji. Jutaan manusia datang dari berbagai penjuru dunia dengan bahasa yang berbeda, warna kulit yang berbeda, jabatan yang berbeda, bahkan isi rekening yang berbeda.
Yang satu mungkin menteri, yang lain petani. Yang satu profesor, yang lain tukang becak. Yang satu datang dengan gelar panjang di belakang namanya, yang lain bahkan mungkin tak pernah menamatkan sekolah.
Tetapi ketika sampai di Arafah, semuanya menjadi sama.
Tidak ada kursi VIP di Padang Arafah. Tidak ada karpet khusus untuk orang kaya. Tidak ada jalur cepat bagi orang yang terkenal. Semua mengenakan pakaian yang nyaris serupa, menengadahkan tangan dengan wajah yang sama-sama penuh harap kepada Allah.
Di Arafah, manusia seperti dikembalikan ke bentuk aslinya, makhluk yang sangat kecil. Ironisnya, setelah pulang dari Arafah, sebagian manusia kembali sibuk memperbesar dirinya.
Kembali sibuk membanggakan jabatan. Kembali sibuk memperdebatkan status. Kembali sibuk merasa lebih mulia daripada orang lain.
Padahal Arafah baru saja mengajari sesuatu yang sangat sederhana, manusia hebat itu bukan manusia yang paling tinggi berdiri, tetapi manusia yang paling banyak menundukkan diri.
Allah berfirman:
"Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai unta yang kurus, mereka datang dari segenap penjuru yang jauh." (QS. Al-Hajj: 27)
Ayat ini bukan sekadar tentang perjalanan fisik menuju Makkah. Ini perjalanan menuju kesadaran. Perjalanan menuju pengakuan bahwa ternyata manusia bukan pusat alam semesta.
Hari ini manusia bisa membuat kecerdasan buatan. Bisa membuat mobil tanpa sopir. Bisa mengirim wahana ke luar angkasa. Tetapi satu hal masih sulit dilakukan adalah mengendalikan hati.
Arafah datang setiap tahun mengingatkan manusia bahwa kemajuan teknologi tidak otomatis membuat manusia lebih bijaksana. Karena dunia hari ini dipenuhi manusia yang cerdas tetapi kehilangan arah. Dipenuhi manusia yang kaya tetapi miskin ketenangan. Dipenuhi manusia yang terkoneksi internet tetapi terputus dengan Allah.
Rasulullah bersabda:
"Haji itu Arafah." (HR. At-Tirmidzi)
Hadits pendek ini luar biasa. Rasulullah tidak mengatakan haji itu thawaf, bukan pula haji itu melempar jumrah. Beliau mengatakan:
"Haji itu Arafah."
Seolah-olah inti perjalanan besar itu ada di sana. Karena Arafah adalah tempat berhenti. Dan rupanya manusia memang kadang perlu berhenti. Sebab hidup terlalu sering membuat kita berlari.
Kita berlari mengejar jabatan. Berlari mengejar uang. Berlari mengejar pujian. Berlari mengejar pengakuan.
Sampai-sampai ada orang yang sangat sukses mencari nafkah, tetapi gagal mencari makna. Ada yang rumahnya dua lantai, tetapi shalatnya tinggal separuh. Mobilnya bertambah, sedangkan sabarnya berkurang. Rekeningnya naik, tetapi syukurnya turun.
Arafah seperti berkata:
"Berhentilah sebentar, bercerminlah, lihat dirimu."
Karena yang paling menakutkan bukan kehilangan uang. Yang paling menakutkan adalah kehilangan arah.
Pembangunan berjalan. Ekonomi tumbuh 5,61% triwulan pertama 2026. Digitalisasi berkembang. Tetapi pertanyaan pentingnya, apakah manusia Indonesia ikut tumbuh?, ataukah hanya gedung-gedung yang bertambah tinggi?
Sebab gedung tinggi tidak otomatis melahirkan manusia yang tinggi akhlaknya. Jalan mulus tidak otomatis membuat hati manusia ikut lurus. Internet cepat tidak otomatis membuat manusia cepat memahami kebenaran.
Bahkan kadang yang terjadi sebaliknya. Jari semakin cepat, tapi tabayun semakin lambat. Komentar semakin banyak, tetapi ilmu semakin sedikit.
Lihat media sosial hari ini. Semua orang seperti ahli, semua orang seperti hakim, semua orang seperti paling benar.
Padahal sebagian hanya membaca judul. Belum membaca isi. Belum memahami persoalan. Tetapi sudah marah lebih dulu. Mungkin kalau Arafah mempunyai suara, ia akan berkata:
"Wahai manusia, sebelum menghakimi orang lain, cobalah menghakimi dirimu sendiri."
Karena itulah yang dilakukan orang-orang di Arafah. Mereka sibuk menangisi dosa sendiri. Bukan sibuk mencari dosa orang lain.
Rasulullah bersabda, "Barang siapa berhaji dan tidak berkata kotor serta tidak berbuat fasik, maka ia kembali seperti hari ketika dilahirkan ibunya." (HR. Bukhari dan Muslim)
Lihatlah. Hadits ini tidak menyebut pulang dengan gelar baru, tidak mengatakan pulang menjadi orang paling dihormati tetapi pulang dengan hati yang dibersihkan. Karena sesungguhnya yang dibangun haji adalah manusia, bukan status sosial.
Tetapi Arafah mengingatkan, jangan hanya membangun jalan, bangun juga manusia yang berjalan di atasnya. Jangan hanya membangun sekolah, bangun juga karakter anak-anak di dalamnya. Jangan hanya membangun internet gratis, bangun juga etika menggunakan internet.
Karena jika manusia tidak dibangun, pembangunan hanya akan menghasilkan bangunan. Dan Indonesia sudah belajar berkali-kali bahwa masalah terbesar sering bukan kurangnya anggaran.
Masalah terbesar sering adalah kurangnya integritas. Arafah mengajari bahwa perubahan besar selalu dimulai dari pengakuan kecil, "saya salah."
Kalimat sederhana itu kadang sangat mahal. Pemimpin sulit mengatakannya kepada rakyatnya Rakyatnya kadang dipersulit mengatakannya kepada penguasa.
Pejabat sulit mengatakannya kepada rakyat,rakyat merasa sulit berkomunikasi dengan pejabat. Padahal mungkin banyak masalah selesai hanya dengan tiga kata, "saya minta maaf."
Mungkin Indonesia tidak membutuhkan lebih banyak orang yang pandai berdebat. Indonesia membutuhkan lebih banyak orang yang pandai bercermin. Karena bangsa besar bukan bangsa yang bebas dari kesalahan. Tetapi bangsa yang mau memperbaiki kesalahan.
Dan itulah Arafah. Tempat manusia mengaku kecil agar Allah membesarkannya. Tempat manusia mengaku salah agar Allah mengampuninya. Tempat manusia menangis agar pulang membawa harapan. Mungkin karena itu jutaan orang menangis di Arafah.
Mereka tidak sedang menangisi dunia. Mereka sedang menangisi dirinya sendiri. Dan kadang air mata yang paling mahal bukan air mata karena kehilangan harta. Tetapi air mata ketika seseorang sadar bahwa selama ini ia terlalu jauh dari Tuhannya.
Semoga kita semua mendapatkan Arafah dalam kehidupan kita. Kalau belum sampai ke Padang Arafah, semoga hati kita sudah sampai lebih dahulu. Karena sesungguhnya ada orang yang berdiri di Arafah tetapi hatinya tidak pernah hadir.
Dan ada orang yang belum pernah ke Arafah, tetapi hatinya setiap hari sedang wukuf di hadapan Allah. Wallahu a'lam.
Padang Arafah 9 Dzulhijah 1447H/26 Mei 2026
