Sosialisasi Pangan Dan Gizi 2026: Meningkatkan Literasi 3P Melalui Edukasi Jajanan Sehari-hari
.
Selasa, 26/05/2026, 14:53:08 WIB

...pentingnya literasi 3P pada anak dapat tersampaikan tanpa terkesan kaku atau menggurui...

HIMPUNAN Mahasiswa Vokasi Pangan dan Gizi melalui Departemen Pengabdian Masyarakat, Institut Pertanian Bogor (IPB) University, Bogor, Jawa Barat, sukses menyelenggarakan kegiatan bertajuk "Sosialisasi Pangan dan Gizi (SOSPAGI)" pada Minggu, 10 Mei 2026.

Kegiatan digelar di Panti Asuhan Putri dan Balita Darussholihat, Kota Bogor. Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk nyata kepedulian mahasiswa terhadap isu pangan dan gizi, khususnya dalam meningkatkan kesadaran anak-anak akan pentingnya memilih jajanan yang aman, sehat, dan bergizi.

Mengusung tema "Peningkatan Literasi 3P pada Anak melalui Edukasi Jajanan Sehari-hari", SOSPAGI hadir tidak hanya sebagai kegiatan sosialisasi biasa, tetapi juga sebagai sarana edukasi yang dikemas dengan pendekatan interaktif dan menyenangkan.

Panitia berupaya menciptakan suasana yang hangat namun tetap bermakna, sehingga pesan mengenai pentingnya literasi 3P pada anak dapat tersampaikan tanpa terkesan kaku atau menggurui.

Kegiatan ini diikuti oleh 42 peserta panti asuhan dengan rentang usia 4 hingga 20 tahun yang mengikuti seluruh rangkaian acara dengan penuh antusias. Berbeda dari penyuluhan pada umumnya, peserta tidak hanya menerima materi secara satu arah, tetapi juga diajak terlibat aktif melalui serangkaian kegiatan yang dirancang interaktif.

Kegiatan ini turut menghadirkan Wahyu Ridwan Nanta, S.P., M.Si., peneliti dari Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan, sebagai narasumber. Dalam pemaparannya, ia mengupas bahan tambahan pangan (BTP) yang kerap ditemukan pada jajanan sehari-hari anak-anak, mulai dari fungsinya hingga risiko kesehatan akibat konsumsi berlebihan.

Peserta juga dibekali cara praktis mengenali jajanan yang patut diwaspadai serta pentingnya membaca label BPOM dan tanggal kedaluwarsa sebelum membeli.

Rangkaian acara diawali dengan pre-test berbentuk permainan untuk mengukur pemahaman awal peserta, dilanjutkan penyampaian materi dan eksperimen sederhana yang dikaitkan langsung dengan jajanan sehari-hari. Sesi tanya jawab pun berlangsung antusias dengan peserta aktif berinteraksi langsung bersama narasumber.

Menariknya, sesi post-test dikemas dalam bentuk permainan pengelompokan makanan berdasarkan kategori 3P. Konsep ini sengaja diterapkan untuk mendorong partisipasi aktif sekaligus memastikan bahwa aspek edukasi tetap menjadi inti kegiatan, bukan sekadar penyampaian materi satu arah.

"Melalui SOSPAGI ini, kami berharap anak-anak dapat membawa pulang bukan hanya pengetahuan, tetapi juga kebiasaan baru dalam memilih jajanan yang lebih sehat," ujar Aghnia Putri selaku Ketua Pelaksana SOSPAGI 2026.

Selama kegiatan berlangsung, suasana terlihat hidup dengan interaksi aktif antara peserta dan panitia. Antusiasme peserta tampak jelas, terutama saat mereka berebut menjawab pertanyaan dan mempresentasikan hasil diskusi kelompok diiringi yel-yel yang meriah. Sebagai bentuk apresiasi, panitia memberikan penghargaan kepada kelompok terbaik sekaligus menyerahkan sertifikat dan plakat kepada narasumber.

Selain memberikan manfaat bagi anak-anak panti asuhan, kegiatan ini juga menjadi wadah bagi mahasiswa untuk mengimplementasikan ilmu dan kepedulian mereka secara langsung di tengah masyarakat.

Di tengah maraknya jajanan yang beredar tanpa pengawasan memadai, SOSPAGI 2026 hadir sebagai langkah kecil yang diharapkan mampu membawa perubahan nyata, khususnya dalam membentuk generasi muda yang lebih sadar dan bijak dalam memilih konsumsi pangan sehari-hari.