![]() |
|
|
SETIAP kali ada pergantian kurikulum di Indonesia, jagat pendidikan kita pasti langsung gaduh. Tapi ya begitu, keriuhannya sering kali cuma mandek di level draf kebijakan, urusan administrasi, atau debat kusir istilah keren di media sosial. Kita mendadak sibuk membedah apa itu “Merdeka Belajar”, bagaimana menyusun “pembelajaran berdiferensiasi”, atau apa saja indikator “kompetensi abad 21”.
Di tengah obrolan elitis itu, kita justru sering abai pada sosok penentu di lapangan: guru. Biar bagaimanapun, bagi saya kurikulum itu modal awalnya cuma tumpukan kertas dokumen tertulis. Isinya cuma target dan arah ideal yang mau dicapai negara. Dokumen ini baru benar-benar bernyawa saat seorang guru masuk ke kelas, membuka pintu, dan mulai berinteraksi langsung dengan murid-muridnya (Arifin, 2021).
Jujur saja, kalau melihat realitas di lapangan, masih banyak guru yang terjebak dalam pola pikir teaching lama. Pokoknya masuk kelas, cuap-cuap menyampaikan materi, lalu selesai. Padahal, tugas mendidik itu tidak sesederhana mentransfer isi buku paket ke otak anak. Tanggung jawab moralnya jauh lebih besar, mulai dari membentuk karakter, mengasah cara berpikir, sampai menumbuhkan kepekaan sosial.
Saya sering melihat guru yang dirundung kecemasan luar biasa kalau target bab di buku belum habis di akhir semester. Namun, anehnya, mereka justru kurang peka saat ada murid yang mendadak kehilangan motivasi atau menunjukkan perubahan perilaku yang drastis (Sari & Putra, 2024).
Menurut saya pribadi, kadang sekolah kita ini terlalu sibuk mengejar angka-angka di atas kertas sampai lupa memastikan apakah anak-anak di dalamnya baik-baik saja atau tidak. Di sinilah pentingnya keberanian untuk mendobrak batasan teks kurikulum kaku demi memanusiakan manusia.
-1. Guru Cerdas Cermat Membaca Situasi Kelas
Guru bukanlah robot pelaksana teknis yang tinggal menjalankan instruksi dari pusat secara mentah-mentah. Peran aslinya adalah seorang penafsir yang harus jeli menyelaraskan panduan kurikulum dengan kondisi riil di ruang kelas. Kita semua tahu, menyamaratakan metode mengajar di seluruh Indonesia itu mustahil karena latar belakang murid dan fasilitas sekolah kita sangat timpang (Ananda & Fadhilaturrahmi, 2022).
Saya ambil contoh kontras yang sangat nyata di lapangan. Di sekolah elite perkotaan, fasilitas serba digital dan siswa mungkin sudah terbiasa dengan gawai canggih untuk mengerjakan tugas berbasis AI atau platform belajar online. Tapi coba kita tengok ke sekolah-sekolah di daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3T). Jangankan bicara soal gawai pintar, ruang kelasnya saja kadang bocor saat hujan, dan untuk dapat sinyal internet stabil pun guru harus berjalan kiloan meter ke puncak bukit.
Tentu tidak masuk akal jika kita memaksa sekolah di pelosok desa memakai pendekatan digital yang sama dengan sekolah di kota besar. Di sinilah kreativitas guru diuji. Guru di daerah 3T yang peka akan memutar otak dan memanfaatkan lingkungan alam sekitar, seperti kebun atau sungai, sebagai laboratorium belajar alternatif. Dari praktik riil ini, kita bisa melihat kalau hidup matinya sebuah kurikulum sangat bergantung pada lihainya guru mengaitkan teori pelajaran dengan kehidupan nyata anak didik (Lase, 2021).
Bukan itu saja, guru zaman sekarang juga dituntut menjadi fasilitator yang asyik agar suasana kelas tidak garing. Semangat Kurikulum Merdeka kan sebenarnya ingin mengajak anak-anak berani berpikir kritis, mandiri, dan jago memecahkan masalah. Jadi, sudahlah, panggung utama di kelas bukan lagi milik guru yang merasa paling tahu segalanya. Peran kita sudah bergeser menjadi mentor atau pemandu yang menemani anak-anak menemukan pengetahuan mereka sendiri (Rahmawati & Suryadi, 2023).
-2. Jangan Jadikan Nilai Karakter Cuma Hiasan Rapor
Punya murid yang nilai akademiknya meroket tapi miskin moral itu sebenarnya sebuah kegagalan tersembunyi. Itulah mengapa pendidikan karakter harus diletakkan sebagai fondasi utama pergerakan kurikulum di sekolah, bukan cuma pemanis di atas lembar penilaian dokumen administrasi (Hidayat & Syahidin, 2023).
Kalau kita bedah Kurikulum Merdeka, wadah untuk menanamkan nilai moral ini sebenarnya sudah disiapkan lewat Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5). Murid diajak belajar gotong royong, tanggung jawab, dan empati lewat proyek nyata.
Tapi ingat, agenda ini bisa jadi proyek seremonial belaka kalau gurunya masih mengukur kesuksesan hanya dari angka ujian akhir. Mengajarkan karakter itu butuh contoh konkret dan keteladanan harian yang bisa dilihat langsung oleh murid, bukan cuma sekadar khotbah di depan kelas (Mulyasa, 2022).
Waktu saya SMA dulu, saya ingat betul pernah ada kejadian seorang guru menghentikan pelajaran sejarahnya secara total. Gara-garanya sederhana, beliau mendengar ada salah satu teman sekelas saya yang menangis sesenggukan di bangku belakang karena diejek habis-habisan oleh teman yang lain.
Guru itu tidak lanjut mengajar materi, tapi justru mengajak seisi kelas duduk melingkar untuk berdiskusi tentang batasan bercanda dan empati. Dan anehnya, hal-hal kecil seperti itu justru jauh lebih ingat murid dibanding isi slide presentasi materi ujian. Kurikulum yang sesungguhnya itu hidup di dalam riak-riak interaksi kecil seperti ini, bukan pada dokumen yang tersimpan rapi di lemari kepala sekolah (Prasetyo & Widodo, 2022).
-3. Tantangan Guru di Tengah Badai Administrasi dan Era Digital
Harus diakui, memegang kapur mengajar di era disrupsi digital ini beratnya minta ampun. Guru zaman sekarang dikepung oleh lompatan teknologi yang cepat, pergeseran karakter anak gen-Z, hingga tumpukan beban laporan administratif yang bikin stres (Nadiem, 2022). Sering kali waktu luang yang seharusnya dipakai untuk merancang eksperimen mengajar yang seru justru habis terkuras untuk mengisi aplikasi laporan.
Kebetulan di semester 2 ini, saya sempat mengobrol dengan beberapa dosen dan kakak tingkat saat diskusi kelas mata kuliah pengantar pendidikan. Mereka sering bercerita kalau guru-guru di sekolah sekarang banyak yang mengeluh karena lebih sering duduk mengetik laporan demi mengejar centang hijau di Platform Merdeka Mengajar (PMM) atau mengurus e-Kinerja demi validasi tunjangan.
Logikanya, bagaimana seorang guru bisa mendesain kelas yang kreatif kalau sisa energinya di malam hari sudah habis untuk mengunggah berkas aksi nyata yang kadang cuma formalitas? Fenomena ini membuat esensi mendidik jadi tergeser oleh urusan birokrasi pengetikan.
Untungnya, kalau mau jeli melihat celah, Kurikulum Merdeka ini menawarkan fleksibilitas yang lumayan longgar. Guru tidak lagi dicekik oleh target angka kaku, melainkan diberi ruang untuk melihat dan mengembangkan keunikan potensi setiap anak (Sari & Putra, 2024). Kuncinya sekarang ada pada kemauan guru untuk membuka pikiran terhadap segala perubahan.
Bisa beradaptasi di era disrupsi ini juga tidak berarti semua guru mendadak harus jago coding atau bikin animasi canggih. Hal yang jauh lebih mendasar adalah besarnya rasa ingin tahu untuk terus belajar, keberanian mencoba metode baru yang belum pernah dipakai, serta kesediaan membangun komunikasi yang setara dan kolaboratif dengan murid (Yuliani & Hartono, 2023). Guru yang adaptif tidak akan kehilangan arah; mereka bisa menghidupkan suasana kelas yang modern tanpa membuang nilai-nilai kemanusiaan.
-4. Guru sebagai Teladan dan Inspirasi
Tingkat keberhasilan seorang pendidik itu tidak melulu diukur dari seberapa banyak gelar akademik di belakang namanya, tapi dari bagaimana ia bersikap setiap hari. Anak-anak itu peniru ulung. Mereka akan jauh lebih cepat menyerap apa yang kita lakukan dibanding apa yang kita ucapkan. Makanya, kekuatan terbesar untuk menggerakkan kurikulum ada pada keteladanan nyata guru itu sendiri (Fauzi & Nurhayati, 2021).
Ketika seorang guru konsisten datang tepat waktu, mau mendengarkan curhatan murid dengan sabar, dan punya empati tinggi, secara tidak langsung ia sedang membangun ekosistem belajar yang sehat. Sebaliknya, guru yang kaku dan cuma peduli pada nilai ujian biasanya akan membuat atmosfer kelas terasa dingin dan menegangkan.
Di era modern, posisi guru juga harus berevolusi menjadi pemantik inspirasi yang bisa mendongkrak rasa percaya diri anak. Sering kali saya melihat ada banyak murid yang sebenarnya punya bakat terpendam luar biasa, tapi bakat itu layu sebelum berkembang hanya karena mereka tidak pernah divalidasi atau diapresiasi di sekolah (Rahman, 2024).
Di sinilah esensi kehadiran guru: bukan sekadar agen penilai, melainkan sosok yang menyalakan lilin motivasi agar anak-anak bisa mengenali potensi terbaik dalam diri mereka.
(Daftar Pustaka: Ananda, R., & Fadhilaturrahmi. (2022). The role of teachers in implementing the independent curriculum in Indonesia. Jurnal Pendidikan Indonesia, 11(3), 421–430. -Arifin, Z. (2021). Curriculum development and teacher professionalism in the digital era. International Journal of Instruction, 14(2), 123–136. -Fauzi, M., & Nurhayati, S. (2021). Teacher exemplary behavior in strengthening student character education. Jurnal Pendidikan Karakter, 12(2), 145–156. -Hidayat, T., & Syahidin. (2023). Character education in the implementation of Merdeka Curriculum. Jurnal Cakrawala Pendidikan, 42(1), 88–101.
Lase, D. (2021). Education and industrial revolution 4.0: The role of teachers in digital learning. Jurnal Sundermann, 14(1), 28–43. -Mulyasa, E. (2022). Implementasi Kurikulum Merdeka. Jakarta: Bumi Aksara. -Nadiem, A. M. (2022). Transformation of Indonesian education through Merdeka Belajar policy. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, 7(2), 101–115. -Prasetyo, A., & Widodo, H. (2022). Humanistic learning approach in strengthening student character in schools. Journal of Educational Studies, 5(1), 66–78. -Rahman, F. (2024). Teacher motivation and student self-confidence in modern education. Journal of Educational Psychology Indonesia, 9(1), 33–47.
Rahmawati, I., & Suryadi, D. (2023). Student-centered learning in the implementation of Merdeka Curriculum. Jurnal Inovasi Pendidikan, 13(2), 211–223. -Sari, N., & Putra, A. (2024). Humanistic approach in student-centered learning in Indonesian schools. Journal of Educational Research and Evaluation, 8(1), 55–67. -Yuliani, R., & Hartono, B. (2023). Teacher adaptability in facing digital transformation in education. Jurnal Teknologi Pendidikan, 25(3), 301–315)
