![]() |
|
|
PanturaNews (Makkah) - Jemaah haji Indonesia, khususnya Kelompok Terbang (Kloter) SOC 8 asal Kabupaten Brebes, kini mulai memanfaatkan fasilitas pencucian dan penjemuran pakaian gratis yang disediakan di hotel pemondokan mereka di Makkah, Arab Saudi.
Fasilitas yang berada di Lantai R Hotel Al Khulafa Al Fedy, Sektor 1 Syisah ini merupakan bagian dari layanan wajib (mandatory) yang diinstruksikan oleh Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH).
Pihak hotel diwajibkan menyediakan mesin cuci jenis top loading tanpa biaya, lengkap dengan area penjemuran khusus yang letaknya bersebelahan dengan area pengambilan logistik makanan.
Petugas Haji Daerah Kabupaten Brebes, Azmi Asmuni Majid melaporkan bahwa keberadaan fasilitas ini disambut antusias oleh para jemaah. Meski pihak hotel juga menyediakan layanan laundri berbayar, mayoritas jemaah lebih memilih mencuci pakaian mereka sendiri.
"Selain menghemat pengeluaran, aktivitas mencuci mandiri ini justru menjadi ajang silaturahmi bagi para jemaah. Di ruang cuci, mereka bisa saling mengenal, mengobrol, hingga berbagi cerita, sehingga terbangun suasana kekeluargaan yang hangat dan santai," ujar Azmi dalam keterangan tertulisnya kepada PanturaNews.Com, Sabtu (16/5).
Berbeda dengan musim haji sebelumnya, Pemerintah Arab Saudi kini memberlakukan regulasi ketat demi menjaga keselamatan, keamanan, dan estetika kota. Pihak hotel melarang keras jemaah menjemur pakaian di area terbuka atas (rooftop), di luar jendela, ataupun di balkon kamar.
Sebagai solusinya, pihak hotel telah menyiapkan ruangan khusus tertutup untuk penjemuran yang lokasinya terintegrasi langsung dengan area mesin cuci.
Terkait perubahan regulasi tersebut, salah satu jemaah haji asal Brebes dari Kloter SOC 8, Faizin, mengaku sangat terbantu meski ada sedikit perbedaan teknis saat proses pengeringan pakaian.
"Fasilitas cuci dan jemur gratis ini sangat membantu kami. Mesin cucinya banyak, ada sekitar 10 unit, dan area jemurnya cukup luas. Memang karena posisinya di dalam gedung, pakaian keringnya agak lama, bisa seharian. Berbeda dengan dulu waktu masih boleh di rooftop yang lebih cepat kering. Tapi bagi kami ini sudah sangat memadai," ungkap Faizin.
Mengingat padatnya jumlah jemaah dalam satu kloter, Azmi Asmuni Majid mengimbau para jemaah untuk cerdas memilih waktu mencuci guna menghindari antrean panjang.
Berdasarkan pantauan di lapangan, waktu puncak kepadatan (rush hour) biasanya terjadi pada pagi hari sekitar pukul 06.00 WAS dan selepas salat Asar.
Jemaah disarankan memanfaatkan waktu-waktu senggang, seperti setelah salat Isya atau menjelang waktu Subuh, agar proses mencuci menjadi lebih nyaman.