![]() |
|
|
PanturaNews (Pemalang) – Jagat media sosial dan dunia pendidikan di Kabupaten Pemalang mendadak gempar.
Hal itu menyusul, seorang siswa berprestasi yang menjabat sebagai Ketua OSIS di SMK Negeri 1 Pemalang, berinisial DRA, kedapatan menyalahgunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) untuk melakukan pelecehan seksual secara digital terhadap belasan teman sekolahnya.
Tindakan tak bermoral tersebut terungkap setelah konten pornografi hasil rekayasa tersebut ditemukan secara tidak sengaja di dalam ponsel pelaku.
Selama ini, DRA dikenal sebagai figur teladan. Ia tidak hanya menjabat sebagai pemimpin organisasi siswa, tetapi juga dikenal oleh para guru sebagai pribadi yang santun, pendiam, dan memiliki jiwa kepemimpinan yang baik.
Namun, citra tersebut hancur seketika saat seorang saksi mata melihat galeri ponsel DRA yang berisi foto-foto siswi berseragam yang telah dimanipulasi menjadi telanjang bulat menggunakan aplikasi AI.
"Kami benar-benar tidak menyangka. Yang bersangkutan adalah Ketua OSIS, perilakunya selama ini sangat tertib dan sopan. Kami semua shock," ungkap Wakil Kepala Bidang Humas SMKN 1 Pemalang, Nurul Fuadah, saat dikonfirmasi awak media, Rabu (6/5/2026).
Berdasarkan hasil investigasi pihak sekolah, sejauh ini terdapat sedikitnya 17 siswi yang teridentifikasi menjadi korban rekayasa foto asusila tersebut.
Meskipun DRA mengaku bahwa foto-foto tersebut hanya untuk konsumsi pribadi dan tidak diperjualbelikan atau disebar ke publik, dampak psikologis yang ditimbulkan tetap meluas.
Para korban kini mengalami guncangan mental akibat privasi dan martabat mereka yang dilecehkan secara digital.
Menyikapi temuan tersebut, pihak sekolah bergerak cepat. Setelah dipanggil dan dimintai klarifikasi, DRA dikabarkan langsung menangis dan mengakui seluruh perbuatannya tanpa pembelaan.
Atas keputusan sekolah, DRA langsung dipulangkan untuk menghindari kemarahan siswa lain. Bahkan, Per tanggal 5 Mei 2026, orang tua DRA secara resmi menarik anaknya dari sekolah. DRA kini resmi dikeluarkan dari SMKN 1 Pemalang.
Pihak SMKN 1 Pemalang menegaskan komitmennya untuk tidak membiarkan para korban berjuang sendirian. Pendampingan psikologis intensif telah disiapkan untuk memulihkan trauma para siswi.
"Fokus kami sekarang adalah ruang aman. Psikolog sudah kami siapkan untuk mendampingi para korban agar mereka bisa kembali belajar tanpa rasa takut," terang Nurul Fuadah.