![]() |
|
|
PanturaNews (Brebes) - Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Wangandalem, Kecamatan Brebes, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, mulai melakukan ekspansi bisnis di sektor agribisnis modern.
Mengandalkan alokasi Dana Desa tahun 2025 sebesar Rp203 juta, BUMDes ini bertransformasi menjadi produsen selada hidroponik dengan target pasar skala regional.
Ketua BUMDes Wangandalem, Amri Fadhilah, mengungkapkan bahwa proyek ini merupakan langkah strategis untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus menciptakan sumber pendapatan asli desa (PADes) yang berkelanjutan.

Dari total pagu anggaran yang tersedia, manajemen telah menyerap sekitar Rp150 juta sebagai belanja modal. Dana tersebut dialokasikan untuk pembangunan instalasi hidroponik selada Ketapang di atas lahan desa seluas 10x21 meter, serta pengadaan peralatan pendukung.
"Kami memaksimalkan lahan yang ada. Dengan kapasitas sekitar 1500 lubang tanam, potensi panen diproyeksikan mencapai 200 kilogram per siklus," ujar Amri saat dikonfirmasi, Sabtu 11 April 2026.
Berdasarkan data operasional periode Januari hingga Maret 2025, BUMDes Wangandalem telah mencatatkan produksi riil sebesar 150 kilogram. Meski sempat terkendala hama, unit usaha ini tetap mampu membukukan laba kotor sekitar Rp4 juta dengan harga jual di level Rp20.000 per kilogram.

Amri tak menampik adanya hambatan teknis dalam budidaya sayuran premium ini. Penyakit "Mata Kodok" menjadi tantangan utama yang menuntut perawatan ekstra dari sisi sanitasi nutrisi.
"Perawatan selada ini gampang-gampang susah. Kami juga harus berstrategi dalam pengadaan input produksi. Karena stok lokal terbatas, bibit seharga Rp90 ribu per sachet dan pupuk terpaksa kami datangkan melalui platform online," terang Amri yang juga Sekretaris Umum Badan Pengurus Cabang Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPC HIPMI) Kabupaten Brebes ini.
Pihaknya memperkirakan titik balik modal (Break Even Point/BEP) baru akan tercapai secara penuh pada tahun kedua operasional. Untuk mempercepat target tersebut, BUMDes Wangandalem kini tengah mengupayakan efisiensi pola tanam agar bisa melakukan panen setiap satu minggu sekali.
Potensi bisnis ini pun mulai memantik minat pihak luar daerah yang dikabarkan tertarik melakukan studi banding guna mempelajari model bisnis hidroponik di lahan terbatas ini.
Di sisi lain, BUMDes Wangandalem kini tengah menjajaki kolaborasi strategis dengan Dinas Pertanian. Produk selada Ketapang ini diproyeksikan masuk ke dalam rantai pasok program pemerintah, yakni Makan Bergizi Gratis (MBG), yang diharapkan menjadi off-taker tetap bagi produksi desa.
"Kami optimistis, dengan kualitas yang terjaga dan manajemen yang profesional, BUMDes Wangandalem siap menjadi pilar ekonomi baru di Brebes," pungkas Amri.