![]() |
|
|
THE Strait of Hormuz merupakan kunci jalur transportasi energi di dunia. Selat ini terletak di antara Iran bagian utara serta Oman dan Uni Emirat Arab (UEA) bagian selatan. Dengan lebar sekitar 50 km di pintu masuk dan keluar serta hanya sekitar 33 km pada titik tersempitnya, selat ini menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab. (bbc.com)
Selain itu, Selat Hormuz memiliki kedalaman yang cukup untuk dilalui kapal tanker minyak terbesar di dunia, sehingga menjadi jalur utama bagi produsen minyak dan gas alam cair (LNG) di Timur Tengah beserta negara-negara konsumennya. (bbc.com)
Pada tahun 2025, diperkirakan 20 juta barel minyak dan produk minyak melewati selat ini setiap hari, dengan nilai perdagangan energi mencapai hampir USD 600 miliar per tahun. Minyak tersebut tidak hanya berasal dari Iran, tetapi juga berasal dari negara-negara Teluk lainnya seperti Irak, Kuwait, Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab.

Selain minyak, sekitar 20% perdagangan LNG global juga melewati Selat Hormuz, yang sebagian besar berasal dari Qatar. Pada tahun 2024, Qatar mengekspor sekitar 9,3 miliar kaki kubik LNG per hari melalui jalur ini, sementara Uni Emirat Arab mengekspor sekitar 0,7 miliar kaki kubik per hari.
LNG sendiri merupakan gas yang diubah menjadi bentuk cair sehingga volumenya menjadi sekitar 600 kali lebih kecil, sehingga lebih efisien untuk transportasi jarak jauh sebelum dikonversi kembali menjadi gas untuk kebutuhan seperti memasak, pemanas, dan pembangkit listrik.
Selat Hormuz juga menjadi jalur penting untuk perdagangan pupuk global. Sepertiga perdagangan pupuk dunia melewati jalur ini karena ketergantungan produksi pupuk terhadap gas alam. Selain sebagai jalur ekspor, selat ini juga menjadi jalur vital bagi impor ke kawasan Timur Tengah, termasuk makanan, obat-obatan, dan teknologi. (bbc.com)
Dengan peran strategis tersebut, gangguan di Selat Hormuz memiliki dampak global yang signifikan. Konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel telah memicu pembatasan, bahkan penutupan, yang mengganggu distribusi energi dunia dan meningkatkan ketidakpastian ekonomi global.
-Lonjakan Harga Minyak Global
Pembatasan terhadap jalur perdagangan Selat Hormuz langsung berdampak pada harga energi global. Pada 19 Maret 2026, harga minyak mentah Brent naik 4,27% menjadi sekitar USD 112 per barel akibat serangan terhadap fasilitas energi Iran.
Kenaikan ini terjadi karena terganggunya pasokan energi global, dengan penurunan produksi minyak di Timur Tengah yang diperkirakan mencapai 7–10 juta barel per hari. Menurut laporan CNN Indonesia, lonjakan harga ini dipicu langsung oleh serangan terhadap fasilitas energi Iran dan eskalasi konflik di kawasan Teluk.
-Dampak Terhadap Ekonomi Indonesia
Mengapa Indonesia dapat terdampak oleh konflik di Selat Hormuz? Meskipun Indonesia tidak secara langsung bergantung pada impor minyak dari Iran, Indonesia tetap membeli minyak dengan harga yang mengikuti pasar global.
Ketika konflik Iran menyebabkan pembatasan perdagangan di Selat Hormuz, jalur yang dilalui sekitar 20% pasokan energi dunia mengalami penurunan pasokan minyak global yang mendorong kenaikan harga secara signifikan (BBC News).
Kenaikan harga ini berlaku secara internasional, sehingga Indonesia sebagai negara net-imporir energi harus membeli minyak dengan harga yang lebih tinggi, terlepas dari asal negara pemasoknya. Hal ini diperkuat oleh fakta bahwa Indonesia masih sangat bergantung pada impor energi untuk memenuhi kebutuhan domestik (Kompas).
Ketergantungan tersebut terjadi karena produksi minyak dalam negeri belum mampu memenuhi kebutuhan nasional. Indonesia hanya mampu memproduksi sekitar 0,86 juta barel per hari, sementara kebutuhan mencapai sekitar 1,7 juta barel per hari, sehingga hampir 50% kebutuhan energi harus dipenuhi melalui impor. Selain itu, nilai impor minyak dan gas
Indonesia pada Januari 2026 mencapai sekitar USD 891,8 juta, yang menunjukkan besarnya ketergantungan terhadap pasokan energi dari luar negeri (Kompas).
Berdasarkan dari konflik ketiga negara tersebut, jalur perdagangan Selat Hormuz terhadap Indonesia terjadi melalui mekanisme harga global, bukan semata-mata melalui hubungan
perdagangan langsung dengan Iran. Kenaikan harga minyak ini kemudian menjadi titik awal yang memicu berbagai tekanan ekonomi di dalam negeri.
-1. Tekanan pada Perdagangan
Konflik Iran memberikan tekanan terhadap ekonomi Indonesia melalui jalur perdagangan. Kenaikan harga minyak meningkatkan biaya impor energi, sehingga berpotensi menekan neraca perdagangan dan memperburuk defisit migas (Jakarta Globe).
-2. Risiko Pasar Keuangan dan Nilai Tukar Rupiah
Konflik geopolitik yang meningkat turut memperbesar ketidakpastian global, sehingga mendorong investor untuk mengalihkan asetnya ke instrumen yang lebih aman (safe-haven assets), seperti dolar AS dan obligasi pemerintah Amerika Serikat.
Fenomena ini dikenal sebagai flight to safety, yaitu perpindahan modal dari negara berkembang ke negara maju yang dianggap lebih stabil. Kondisi ini berpotensi memicu capital outflow yang pada akhirnya menekan nilai tukar rupiah, meningkatkan volatilitas pasar keuangan, serta memperbesar biaya pembiayaan baik bagi pemerintah maupun sektor swasta (Jakarta Globe).
-3. Tekanan terhadap APBN
Dari sisi fiskal, pemerintah Indonesia menghadapi tekanan besar akibat kenaikan harga energi. Pemerintah harus meningkatkan subsidi untuk menjaga stabilitas harga BBM di dalam negeri.
Menurut CNBC Indonesia, terdapat potensi kenaikan harga BBM subsidi apabila tekanan harga minyak global terus berlanjut. Selain itu, lonjakan harga minyak dapat meningkatkan beban subsidi energi secara signifikan, mengingat asumsi harga minyak dalam APBN berada pada level yang lebih rendah.
-4. Ketergantungan Impor Energi
Konflik ini juga menjadi pengingat bahwa Indonesia masih sangat bergantung pada impor energi. Ketergantungan ini membuat Indonesia rentan terhadap gangguan global, terutama pada jalur distribusi strategis seperti Selat Hormuz (Kompas).
Akibatnya, setiap gangguan pada rantai pasok global akan langsung berdampak pada stabilitas harga dan ketersediaan energi di dalam negeri.
-5. Dampak terhadap Masyarakat (Inflasi)
Kenaikan harga minyak dunia pada akhirnya akan berdampak langsung pada masyarakat. Dampak tersebut terjadi melalui beberapa mekanisme, antara lain: -Kenaikan harga BBM. -Peningkatan biaya transportasi. -Kenaikan harga kebutuhan pokok.
Efek berantai ini menyebabkan inflasi meningkat dan daya beli masyarakat menurun. Dengan demikian, konflik global seperti di Selat Hormuz tidak hanya berdampak pada level makroekonomi, tetapi juga hingga ke tingkat rumah tangga di Indonesia.
-Solusi Jangka Pendek
Dalam jangka pendek, pemerintah fokus pada langkah-langkah yang bersifat mitigasi langsung terhadap lonjakan harga dan potensi gangguan pasokan energi, antara lain:
-Efisiensi konsumsi energi: Kebijakan work from home (WFH) satu hari per minggu menjadi salah satu upaya utama untuk menekan konsumsi BBM, khususnya dari sektor transportasi.
Pemerintah mengusulkan penerapan WFH bagi aparatur sipil negara (ASN) maupun sektor swasta sebagai langkah antisipatif terhadap potensi gangguan pasokan minyak akibat konflik di Timur Tengah. Kebijakan ini didorong oleh kekhawatiran akan terganggunya distribusi energi global, termasuk dari kawasan Selat Hormuz.
Kepala Dewan Ekonomi Nasional, Purbaya Yudhi Sadewa, menyatakan bahwa kebijakan ini bertujuan untuk menghemat konsumsi BBM di tengah ketidakpastian global, meskipun implementasinya masih dalam tahap kajian karena tidak semua sektor dapat menerapkan sistem kerja jarak jauh secara optimal.
-Penguatan subsidi dan stabilisasi harga: Pemerintah tetap menjaga stabilitas harga BBM melalui subsidi energi. Langkah ini penting untuk melindungi daya beli masyarakat di tengah kenaikan harga minyak dunia akibat terganggunya pasokan global.
-Diversifikasi sumber impor energi: Untuk mengurangi risiko gangguan distribusi akibat konflik di Selat Hormuz, pemerintah dapat mengalihkan sumber impor minyak dari kawasan lain yang lebih stabil.
-Optimalisasi cadangan energi nasional: Pemerintah dapat memanfaatkan cadangan strategis energi untuk menjaga ketersediaan pasokan dalam negeri ketika terjadi gangguan distribusi global.
-Solusi Jangka Panjang: Sementara itu, dalam jangka panjang, pemerintah perlu melakukan transformasi struktural untuk mengurangi ketergantungan terhadap energi impor:
-Transisi ke energi terbarukan: Pengembangan energi seperti tenaga surya, angin, dan bioenergi menjadi kunci untuk mengurangi ketergantungan terhadap minyak impor.
-Peningkatan produksi energi domestik: Pemerintah perlu mendorong eksplorasi dan produksi minyak serta gas dalam negeri untuk menutup kesenjangan antara produksi dan konsumsi nasional.
-Pengembangan transportasi publik dan elektrifikasi: Investasi pada transportasi massal dan kendaraan listrik dapat mengurangi konsumsi BBM secara signifikan dalam jangka panjang.
-Diversifikasi energi dan hilirisasi: Penguatan sektor energi alternatif serta hilirisasi sumber daya seperti nikel untuk baterai kendaraan listrik dapat menjadi strategi jangka panjang yang berkelanjutan.
-Peluang di Tengah Krisis: Meskipun konflik di Selat Hormuz membawa berbagai dampak negatif, Indonesia juga berpotensi memperoleh keuntungan dari kenaikan harga komoditas global. Lonjakan harga energi dunia biasanya diikuti oleh peningkatan harga komoditas lain, seperti batu bara, crude palm oil (CPO), dan nikel.
Menurut laporan Jakarta Globe, kondisi ini dapat memberikan windfall profit bagi Indonesia melalui peningkatan penerimaan negara dari sektor ekspor komoditas. Kenaikan harga tersebut berpotensi memperbaiki neraca perdagangan dan membantu menahan tekanan ekonomi akibat meningkatnya biaya impor energi.
Namun, manfaat ini bersifat jangka pendek dan tidak sepenuhnya mampu mengimbangi tekanan yang muncul dari kenaikan harga minyak, terutama terhadap subsidi energi dan daya beli masyarakat. Oleh karena itu, peluang ini perlu dimanfaatkan secara strategis agar dapat memperkuat ketahanan ekonomi nasional.
-Kesimpulan: Langkah seperti work from home (WFH) menunjukkan bahwa kebijakan sederhana sekalipun dapat menjadi bagian dari strategi besar dalam menghadapi krisis global. Kebijakan ini mencerminkan bagaimana dampak konflik geopolitik dapat diterjemahkan ke dalam kebijakan domestik yang langsung menekan konsumsi energi masyarakat. Namun, solusi
jangka pendek saja tidak cukup. Tanpa transformasi struktural di sektor energi, Indonesia akan tetap berada dalam posisi rentan terhadap gejolak global seperti konflik di Selat Hormuz. Oleh karena itu, kombinasi antara efisiensi jangka pendek dan reformasi energi jangka panjang menjadi kunci dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Penutupan Selat Hormuz akibat konflik Iran menegaskan bahwa stabilitas ekonomi Indonesia sangat dipengaruhi oleh dinamika geopolitik global. Jalur ini yang mengalirkan sekitar 20% pasokan energi dunia menjadi faktor kunci dalam menentukan harga energi internasional
(BBC News). Dampaknya terhadap Indonesia terjadi melalui mekanisme harga global yang merambat ke berbagai sektor domestik, terutama melalui tekanan pada neraca perdagangan, nilai tukar rupiah, serta Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) (Jakarta Globe; Kompas; CNBC Indonesia).
Di sisi lain, kenaikan harga komoditas global memang membuka peluang tambahan bagi Indonesia. Namun, manfaat tersebut bersifat terbatas dan belum mampu sepenuhnya mengimbangi dampak negatif yang ditimbulkan.
Dengan demikian, konflik ini menjadi pengingat penting bagi Indonesia untuk memperkuat ketahanan energi nasional melalui diversifikasi sumber energi dan pengurangan ketergantungan pada impor. Dalam jangka panjang, langkah tersebut menjadi kunci untuk menjaga stabilitas ekonomi di tengah ketidakpastian global yang semakin meningkat.
