Akibat Perang Iran–Israel, Pengiriman Sarung ke Timur Tengah dan Afrika Tertunda
LAPORAN JOHARI
Senin, 02/03/2026, 17:21:09 WIB
Pemilik PT Asaputex Jaya dengan merk Sarung Pohon Korma, Jamaludin Al Katiri.

PanturaNews (Tegal) - Dampak perang antara Iran-Israel dengan melibatkan Amerika Serikat. Ekspor sarung alat tenun bukan mesin (ATBM) dari Kota Tegal, Jawa Tengah ke kawasan Timur Tengah dan Afrika, sejak Minggu 01 Maret 2026, tertunda bahkan dibatalkan 

Hal itu dikatakan pemilik PT Asaputex Jaya dengan merk Sarung Pohon Korma, Jamaludin Al Katiri, kepada awak media di pabriknya di Jalan Pacul Raya, Senin 02 Maret 2026.

Menurut Jamal sedikitnya dua kontainer berisi sekitar 50 ribu potong sarung batal diberangkatkan. Padahal, pengiriman tersebut dijadwalkan berangkat pada Selasa (03/03/2026) dan Sabtu pekan ini.

“Ekspor ke Timur Tengah sudah pending sejak Minggu. Kami mendapat kabar ada pembatalan pengiriman ke semua negara tujuan. Jadi mulai kemarin sudah tidak ada kiriman sama sekali dari Indonesia ke Afrika maupun Timur Tengah,” kata Jamal, ditemui di pabriknya di Jalan Raya Pacul, Tegal, Senin 02 Maret 2026.

Menurut Jamaludin, pembatalan tersebut menimbulkan kerugian besar bagi pelaku usaha. Karena sebelumnya pengiriman sempat berjalan normal dan menjelang Lebaran pihaknya telah merencanakan dua kali ekspor tambahan.

“Dampaknya sangat besar. Kita tidak bisa berbuat apa-apa karena ini di luar kewenangan kita. Bukan hanya Indonesia, tapi seluruh dunia terdampak perang ini. Kami hanya bisa bersabar,” kata Jamal.

Beruntung permintaan pasar dalam negeri mengalami lonjakan signifikan menjelang Hari Raya Idul Fitri. Kenaikan omzet mulai terasa sejak awal Maret 2026.

“Kalau untuk ekspor, kami baru bisa memenuhi sekitar 30 persen dari total permintaan. Tapi untuk pasar lokal memang naik signifikan menjelang Lebaran,” jelasnya.

Jamal juga mengapresiasi sejumlah perusahaan di Tegal yang memilih sarung produksi lokal sebagai suvenir bagi karyawan.

Menurutnya, langkah tersebut membantu menjaga perputaran ekonomi di tengah ketidakpastian global.

Disampaikan Jamal, lonjakan juga terjadi pada penjualan melalui marketplace. Jika pada hari biasa penjualan berkisar 20–50 potong per hari, dalam sebulan terakhir angka pre-order mencapai lebih dari 500 potong per hari dengan pengiriman ke berbagai provinsi di Indonesia.

“Peningkatan bisa sampai 300 persen dalam sebulan terakhir. Tapi kalau jual di marketplace, margin keuntungannya memang lebih tipis,” ujarnya.

Ia menambahkan, di sejumlah negara Afrika, sarung ATBM asal Tegal tidak hanya digunakan saat perayaan keagamaan, tetapi telah menjadi pakaian sehari-hari masyarakat.

“Di Afrika, sarung itu sudah jadi kebutuhan harian, bukan hanya untuk Lebaran. Karena itu kami tetap optimistis dan terus memperkuat produksi,” pungkasnya.