Pameran Lelang Karya Peduli Padasari. Di Balik Luk Tujuh: Pusaka, Kuasa dan Cinta
LAPORAN IWANG NIRWANA
Minggu, 01/03/2026, 15:14:48 WIB
Ketua panitia Seni Budaya Mengabdi, Padasari Bangkit, Firman Haryo Susilo Entus Susmono, menyerahkan Keris Jaran Guyang Luk 7 kepada pemenang lelang di Gedung Rakyat Slawi. (Foto: Dok/Iwang)

...seluruh hasil lelang didedikasikan untuk korban tanah bergerak di Desa Padasari, Kecamatan Jatinegara...

PanturaNews (Tegal) - Di bawah langit Slawi, Kabupaten Tegal, yang temaram dan doa yang menggantung seperti embun, keris tak lagi sekadar bilah besi. Ia menjelma niat, menjadi jalan pulang bagi harapan yang retak.

Sabtu Legi, 28 Februari 2026, di Gedung Rakyat Slawi, Dewan Kebudayaan Kabupaten Tegal menggelar acara Seni Budaya Mengabdi, Padasari Bangkit bertajuk "Pameran Lelang Karya Peduli Padasari" digelar dengan khidmat.

Seni dipanggil bukan untuk dipuji, melainkan untuk mengabdi. Di antara 30 benda lelang yakni 6 barang antik dan manuskrip, 1 diorama miniatur kota, 3 foto, 12 lukisan, 3 sarung tenun goyor dari lapas klas IIB Slawi, 2 keris, dan 3 wayang terpancar denyut solidaritas yang tak bisa ditawar.

Sorotan malam itu tertuju pada Keris Jaran Guyang (sering orang menyebutnya jaran goyang) Luk 7 yang merupakan koleksi dari seorang kolektor Keris yang juga Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kabupaten Tegal, Teguh Dwijanto Raharjo, ST, MT, MA.

Atau dalam lingkup seniman dan budayawan, Ketua Paguyuban Tosan Aji Patra Ganesa, lebih sering dikenal dengan nama Dul Gepuk. Dalam khazanah budaya Jawa, Jaran Guyang (orang sering menyebutnya Jaran Goyang)  melambangkan daya gerak, kekuatan mengguncang rintangan, dan keberanian menyeberangi keraguan.

Luk 7 dipercaya membawa makna pitulungan, pertolongan dan perlindungan. Keris ini kerap dianggap selaras bagi pemimpin, penggerak organisasi, atau siapa pun yang memikul tanggung jawab sosial. Ia bukan sekadar pusaka, melainkan pengingat agar kuasa tak kehilangan welas asih.

Rupanya keris ini menemukan tuannya yang baru. Keris tersebut terjual dalam lelang senilai Rp 2,6 juta oleh satu kandidat tunggal. Dan pada malam hari ini, tak salah jika Bapak Wuryanto, S.Sos (Camat Adiwerna) yang tergabung dalam Forum Komunikasi Camat (FKC) menjadi tuannya yang baru.

Camat yang mulai menjabat Januari 2026, juga menjadi pemenang lelang pada item ini, dan seluruh hasil lelang didedikasikan untuk korban tanah bergerak di Desa Padasari, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal.

Ketua panitia, Firman Haryo Susilo Entus Susmono, S.Si atau lebih sering dikenal dengan sebutan Ki Haryo, menyampaikan pesan yang lirih namun tegas.

“Meskipun relawan telah meminta untuk menghentikan bantuan logistik, karena kemungkinan pemulihan akan berlangsung jangka panjang, rasanya belum nyaman jika kita belum membantu,”

“Malam ini menjadi bukti bahwa seni dan budaya tidak hanya hadir sebagai ekspresi, tetapi juga sebagai wujud kepedulian dan pengabdian sesama manusia," ujarnya seusai lantunan doa yang dibacakan Muarif Essage (Komite Sastra DKKT) yang mengajak hati tetap terjaga.

Dalam sambutannya, Bupati Tegal Ischak Maulana Rohman, SH menegaskan percepatan penanganan dampak bencana. Berdasarkan data sementara, sekitar 900 rumah mengalami kerusakan berat, sedang, dan ringan. Dua pondok pesantren, fasilitas pendidikan, Polindes, serta sejumlah ruas jalan turut terdampak.

“Pada tahap pertama akan dibangun 456 unit hunian sementara (Huntara). Sisanya, 444 unit, masih disiapkan opsinya sambil menunggu hasil kajian tanah bersama tim,” ujarnya.

Sementara Ki Haryo menambahkan, sampai dengan malam ini terkumpul donasi Rp 27,5 juta, dan akan dilanjutkan kembali karena masih ada beberapa karya yang belum terakuisisi. panitia masih melelang melalui online.

Malam itu, seni menemukan takdirnya. Bukan hanya untuk dipamerkan, tetapi untuk menyembuhkan. Keris Jaran Guyang Luk 7 telah berpindah tangan, namun maknanya tetap tinggal mengguncang kepedulian, meneguhkan kepemimpinan, dan mengingatkan bahwa di atas tanah yang bergerak, solidaritaslah yang harus tetap tegak.