Edukasi DAGUSIBU: Upaya Meningkatkan Kesadaran Penggunaan Obat di Desa Pagojengan
.
Selasa, 24/02/2026, 13:38:49 WIB

KURANGNYA pemahaman masyarakat awam tentang penggunaan obat yang benar masih menjadi persoalan klasik di berbagai daerah. Kebiasaan membeli obat tanpa resep, menyimpan obat sisa untuk digunakan kembali, hingga membuang obat sembarangan kerap terjadi karena minimnya edukasi.

Menjawab tantangan tersebut, mahasiswa KKN Universitas Peradaban Bumiayu (UPB) Kabupaten Brebes, melaksanakan sosialisasi edukasi DAGUSIBU kepada masyarakat di Desa Pagojengan, Kecamatan Paguyangan, Kabupaten Brebes.

DAGUSIBU singkatan dari Dapatkan, Gunakan, Simpan, dan Buang obat dengan benar merupakan konsep edukasi yang menekankan pentingnya pengelolaan obat secara tepat. Dalam kegiatan sosialisasi tersebut, mahasiswa menjelaskan bahwa obat harus diperoleh dari tempat resmi seperti apotek atau fasilitas kesehatan, bukan sembarang toko.

Penggunaan obat pun harus sesuai dosis, aturan pakai, dan anjuran tenaga kesehatan. Tidak kalah penting adalah cara penyimpanan. Banyak masyarakat yang belum memahami bahwa suhu, cahaya, dan kelembapan dapat memengaruhi kualitas obat. Obat sirup, tablet, maupun salep memiliki aturan penyimpanan berbeda.

Selain itu, obat yang sudah kedaluwarsa tidak boleh dibuang begitu saja ke tempat sampah atau saluran air, karena berpotensi mencemari lingkungan dan membahayakan orang lain.

Mahasiswa KKN Universitas Peradaban menyampaikan materi dengan pendekatan sederhana dan komunikatif agar mudah dipahami seluruh kalangan, mulai dari ibu rumah tangga hingga lansia. Mereka juga memberikan contoh langsung cara membaca label obat, mengenali tanda kedaluwarsa, serta langkah aman dalam memusnahkan obat yang sudah tidak layak pakai.

Kegiatan ini menunjukkan bahwa pengabdian mahasiswa tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik, tetapi juga pada peningkatan literasi kesehatan masyarakat. Edukasi DAGUSIBU menjadi langkah preventif yang sangat penting, terutama di tengah maraknya informasi kesehatan yang belum tentu valid.

Sosialisasi ini patut diapresiasi sebagai bentuk kepedulian generasi muda terhadap kesehatan masyarakat desa. Dengan pemahaman yang lebih baik tentang pengelolaan obat, masyarakat Desa Pagojengan diharapkan dapat lebih bijak dalam menjaga kesehatan diri dan keluarga.

Pada akhirnya, perubahan besar dalam kualitas kesehatan masyarakat bisa dimulai dari kesadaran kecil, tentang cara menggunakan obat dengan benar.