![]() |
|
|
“Bu, kalau aku nabung, nanti bisa beli sepeda ya?”
PERTANYAAN polos itu datang dari seorang siswa kelas 2 SDN Wanatirta 01, Desa Wanatirta, Kecamatan Paguyangan, Kabupaten Brebes. Matanya berbinar, penuh harap. Saat itu saya menyadari satu hal sederhana: anak-anak sebenarnya sudah punya mimpi, hanya saja mereka belum tahu bagaimana cara meraihnya.
Melalui program GEMABUNG (Gerakan Gemar Menabung) yang kami laksanakan pada Jumat, 13 Februari 2026, mahasiswa KKN Kelompok 17 Universitas Peradaban (UPB) Kabupaten Brebes, di Desa Wanatirta, mencoba menanamkan satu kebiasaan kecil yang berdampak besar-menabung.

Program ini menjadi bagian dari rangkaian KKN selama 35 hari, sejak 23 Januari hingga 27 Februari 2026, dengan tema besar “Desa Nyata, Data Terjaga: Digitalisasi Sejarah dan Potensi Lokal sebagai Pondasi Asta Cita Pembangunan Indonesia.”
Namun di tengah upaya digitalisasi dan penguatan potensi desa, kami sadar bahwa pembangunan tidak hanya soal data. Pembangunan juga soal karakter. Dan karakter itu dibentuk sejak dini.
-Ketika Uang Jajan Tak Lagi Hanya untuk Dihabiskan
Di hadapan 20 siswa kelas 2, saya memulai dengan pertanyaan sederhana, “Siapa yang uang jajannya langsung habis?”
Mereka tertawa. Hampir semua mengangkat tangan.
Lalu saya menjelaskan bahwa menabung adalah menyisihkan sebagian pendapatan hari ini -uang saku- untuk kebutuhan di masa depan, baik yang terduga maupun tidak terduga. Penjelasan itu mungkin terdengar sederhana, tetapi bagi mereka, itu adalah sudut pandang baru.

Bahwa uang tidak selalu harus dihabiskan hari ini.
Bahwa ada sebagian kecil yang bisa disimpan untuk mimpi esok hari.
Rajin Pangkal Pandai, Hemat Pangkal Kaya
Kami membahas manfaat menabung dengan bahasa yang mudah dipahami anak-anak: Belajar mengatur keuangan, -Belajar menjadi hemat, -Melatih kemandirian, -Membantu mencapai sesuatu yang diinginkan.
Saya katakan kepada mereka, menabung bukan soal besar kecilnya uang, tetapi soal kebiasaan. Sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit.
Ketika ditanya ingin membeli apa dari tabungan mereka, jawabannya tulus dan mengharukan. Ada yang ingin membeli sepatu baru. Ada yang ingin membeli bola. Bahkan ada yang berkata ingin membantu orang tuanya.
Di situlah saya sadar, literasi keuangan bukan hanya tentang angka. Ia tentang harapan.

-Belajar Membedakan: Kebutuhan atau Keinginan?
Bagian paling seru adalah ketika kami membahas perbedaan kebutuhan dan keinginan. Saya bertanya, “Membeli makanan itu kebutuhan atau keinginan?”
Mereka serempak menjawab, “Kebutuhan!”. Lalu saya lanjutkan, “Kalau membeli PlayStation?”. Beberapa terdiam. Sebagian tersenyum malu.
Kami pun berdiskusi bahwa kebutuhan adalah hal penting seperti makanan, pakaian, pendidikan, dan kesehatan. Sedangkan keinginan adalah sesuatu yang menyenangkan, tetapi tidak wajib dimiliki saat itu juga.
Diskusi kecil itu terasa sederhana. Namun bagi saya, itu adalah awal dari kesadaran finansial. Anak-anak mulai memahami bahwa tidak semua yang mereka inginkan harus langsung dibeli.
-Cara Menabung Itu Tidak Rumit
Kami juga membagikan langkah-langkah sederhana menabung: -1. Tentukan tujuan menabung, -2. Hitung uang yang dibutuhkan, -3. Siapkan tempat menabung, -4. Sisihkan uang sisa jajan, -5. Lakukan secara rutin, -6. Gunakan tabungan dengan bijak.
Saya tekankan bahwa mereka tidak perlu menunggu kaya untuk menabung. Justru dengan menabung, mereka belajar menjadi pribadi yang lebih bijak.
-Pelajaran untuk Kami Juga
Sebagai mahasiswa KKN, kami datang untuk mengabdi. Tetapi sering kali, justru kami yang lebih banyak belajar.
Di kelas kecil itu, saya belajar bahwa pembangunan Indonesia tidak selalu dimulai dari gedung tinggi atau kebijakan besar. Kadang ia dimulai dari celengan kecil di sudut rumah, dari uang receh yang disisihkan, dari kebiasaan sederhana yang dilakukan setiap hari.
Desa Wanatirta mungkin tampak tenang dan jauh dari hiruk pikuk kota. Namun di sana, di dalam ruang kelas sederhana, saya melihat masa depan yang sedang dibentuk—pelan, tetapi pasti.
Karena pada akhirnya, bangsa yang kuat lahir dari generasi yang mampu membedakan kebutuhan dan keinginan, yang belajar menunda kesenangan demi tujuan, dan yang memahami bahwa mimpi besar bisa dimulai dari uang jajan.
Dan mungkin, dari kelas kecil itu, sedang tumbuh anak-anak yang suatu hari akan membangun negeri ini dengan lebih bijak.
