![]() |
|
|
PanturaNews (Pemalang) – Suasana proses pencarian korban tanah longsor di Desa Bongas, Kecamatan Watukumpul, Pemalang, berubah mencekam pada Selasa 27 Januari 2026.
Dari sebuah video yang beredar di media sosial, di tengah upaya warga dan relawan menyisir material lumpur, suara peluit peringatan mendadak memecah keheningan dan memicu kepanikan massal.
Kejadian bermula saat ratusan warga bersama petugas gabungan sedang berjibaku menggunakan peralatan manual di sektor tengah longsoran.
Secara tiba-tiba, petugas pengawas yang memantau pergerakan tanah dari bagian atas tebing meniup peluit dengan nada panjang.
Seketika, ratusan orang yang berada di kubangan lumpur berlarian menyelamatkan diri. Mereka berupaya menjauh dari kaki bukit menuju zona yang dianggap lebih stabil.
Kepanikan ini dipicu oleh adanya indikasi pergerakan tanah susulan yang terlihat secara visual oleh tim pemantau.
Laporan lapangan menyebutkan bahwa kondisi tanah di lokasi longsor Desa Bongas memang sangat labil. Kadar air yang tinggi dalam tanah serta kemiringan lereng yang ekstrem membuat material sisa longsoran sewaktu-waktu dapat meluncur kembali.
"Prioritas utama adalah keselamatan tim pencari. Begitu ada tanda gerakan tanah atau suara gemuruh kecil, prosedur standarnya adalah evakuasi segera tanpa pengecualian," ujar salah satu relawan di lokasi.
Meski sempat terhenti akibat ancaman longsor susulan, warga setempat tetap menunjukkan solidaritas tinggi. Setelah situasi dinyatakan relatif tenang, pencarian kembali dilanjutkan dengan sistem pemantauan yang lebih ketat.
Hingga saat ini, proses evakuasi masih difokuskan pada pembersihan material lumpur dan batang pohon yang melintang, yang diduga menjadi titik terakhir keberadaan korban.
Cuaca mendung di wilayah Watukumpul menjadi tantangan tambahan bagi tim SAR gabungan dalam menjalankan misi kemanusiaan ini.