Rendahnya Literasi Akuntansi Pada Usaha Rumahan Telur Asin Ibu Aisah
.
Minggu, 18/01/2026, 08:46:51 WIB

RENDAHNYA literasi akuntansi masih menjadi persoalan nyata di kalangan pelaku usaha kecil di daerah. Banyak usaha rumahan yang berjalan bertahun-tahun tanpa pencatatan keuangan yang jelas.

Salah satu contohnya yaitu usaha telur asin milik Ibu Aisah, pelaku UMKM yang hanya  mengandalkan ingatannya dalam mengelola keuangan usahanya. Dalam praktik sehari-hari, Ibu Aisah tidak pernah mencatat secara rinci pemasukan dan pengeluaran keuangan usahanya. Apalagi, Ibu Aisah tidak terlalu paham dengan teknologi digital.

Keterbatasan literasi akuntansi ini menimbulkan beberapa masalah. Pertama, harga menjadi tidak pasti. Saat ada yang menawar, Ibu Aisah sering mengurangi harga tanpa menghitung apakah masih ada profitnya.

Kedua, pencampuran antara uang usaha dengan uang rumah tangga membuat ia sulit memisahkan laba bersih yang didapat. Ketiga, ketika ada peluang kerja sama dengan warung-warung atau tempat usaha lainnya, Ibu Aisah tidak memiliki laporan keuangan yang dapat dipercaya, sehingga bisa menghambat proses negosiasi.

Untungnya, solusi tidak harus rumit. Banyak solusi praktis yang dapat menyelesaikan masalah rendahnya literasi akuntansi ini, salah satunya yaitu menggunakan buku kas sederhana dengan pencatatan manual. Solusi tersebut sangat cocok untuk pelaku UMKM yang sudah memasuki usia pertengahan seperti Ibu Aisah, karena sangat sederhana dan bisa dilakukan kapan saja.

Langkah-langkahnya bisa diawali dengan memisahkan antara uang usaha dan uang pribadi agar mencegah uang modal terpakai untuk kebutuhan sehari-hari. Selanjutnya, catat semua transaksi pemasukan dan pengeluaran usaha setiap hari. Catat tanggal, jumlah uang, dan keterangan penjualan atau pengeluaran seperti pembelian bahan baku dan operasional.

Di akhir bulan, hitung selisih antara total pendapatan dan pengeluaran untuk mengetahui laba atau rugi. Langkah terakhir adalah membuat laporan arus kas sederhana, catat berapa uang kas yang ada di awal bulan, uang yang masuk, uang yang keluar, dan sisa kas di akhir bulan.

Dengan menggunakan buku kas sederhana, sangat membantu pelaku UMKM yang kesulitan menggunakan aplikasi digital untuk membuat laporan keuangannya. Tidak memerlukan biaya besar dan pelatihan teknis. Dari kalangan anak muda hingga lanjut usia pun tetap bisa menggunakan cara sederhana ini untuk membuat laporan keuangan usaha sederhananya.

Rendahnya literasi akuntansi menjadi hambatan utama bagi Ibu Aisah dalam mengelola usaha telur asinnya. Tanpa pencatatan yang sistematis, ia kesulitan mengetahui margin keuntungan dan mengontrol stok.

Namun, dengan membuat laporan keuangan sederhana secara manual, Ibu Aisah dapat mengubah catatan sederhana menjadi data yang berguna untuk mengambil keputusan harga yang tepat. Dengan pencatatan sederhana tersebut, dapat membantu pelaku usaha yang kurang mengerti teknologi digital untuk mengembangkan usaha kecilnya.