Penelitian Rokok Elektrik Atau Vapor Dan Kaitannya Dalam Sosial Budaya Masyarakat
.
Selasa, 13/01/2026, 10:40:29 WIB

PERKEMBANGAN rokok elektrik atau vape dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan perubahan signifikan dalam pola konsumsi masyarakat, khususnya di kalangan remaja dan dewasa muda.

Awalnya diperkenalkan sebagai alternatif pengganti rokok konvensional, vape kini berkembang menjadi bagian dari gaya hidup modern yang sarat dengan simbol identitas, tren, dan ekspresi kedirian. Desain yang menarik, variasi rasa, serta anggapan bahwa vape lebih aman dibandingkan rokok tembakau membuat produk ini semakin diminati.

Namun, popularitas vape tidak terlepas dari berbagai kontroversi. Meskipun tidak melibatkan proses pembakaran tembakau, rokok elektrik tetap mengandung nikotin dan zat kimia berbahaya lainnya yang berpotensi menimbulkan ketergantungan serta gangguan kesehatan, seperti masalah paru-paru, jantung, hingga risiko kanker. Sayangnya, persepsi risiko yang rendah dan minimnya pemahaman masyarakat mengenai dampak jangka panjang vape sering kali menyebabkan bahaya tersebut diabaikan.

Fenomena penggunaan vape juga tidak dapat dilepaskan dari konteks sosial dan budaya masyarakat kontemporer. Keputusan seseorang untuk menggunakan vape kerap dipengaruhi oleh lingkungan pergaulan, tekanan sosial, serta keinginan untuk membangun citra diri.

Oleh karena itu, kajian mengenai vape perlu dilihat secara lebih komprehensif, tidak hanya dari aspek kesehatan, tetapi juga dari sudut pandang sosial dan perilaku. Artikel ini membahas penggunaan rokok elektrik dengan meninjau faktor sosial, budaya, dan psikologis yang memengaruhinya.

Vapor adalah perkembangan rokok elektrik sangat jauh dari rokok elektrik yang kita kenal pada awal mula booming di Indonesia, sekitar tahun 2008-2010. Inti dari vape adalah alat dimana cairan e-liquid khusus dirubah menjadi uap yang dapat dihirup, menimbulkan efek seolah-olah kita sedang merokok.

Vape atau yang lebih dikenal dengan Vapor adalah rokok elektrik atau (e-ciggarete) yakni sebuah alternatif sebagai pengganti rokok. Rokok elektrik adalah suatu perangkat baterai dengan tenaga yang menyediakan dosis nikotin hirup memberikan efek sama seperti merokok konvensional.

Rokok ini memberikan rasa dan sensasi fisik yang hampir sama dengan asap tembakau yang dihirup. Tapi, di dalam perusahaan tidak melibatkan tembakau, asap atau pembakaran melainkan uap. Pada dasarnya vapor adalah hasil penguapan dari cairan yang diteteskan ke kapas yang telah dipanaskan oleh listrik. Rokok ini biasanya berbentuk tabung yang memanjang.

Kalau soal baik atau buruknya efek vapor hingga saat ini belum diketahui secara pasti. Hingga saat ini masih menjadi pro dan kontra di kalangan masyarakat, serta masih banyak penelitian dari penggunaan vapor ini. Penggunaan vapor jelas-jelas sangat berpengaruh pada keungana anak muda yang dulunya mengkonsumsi rokok.

Keputusan seseorang dalam memilih produk yang ia beli dan konsumsi sesungguhnya bukan sebagai kebutuhan primer akan tetapi atas dasar dorongan dunia berbeda dengan yang lain. Selves, dalam mengembangkan gaya hidup dalam memilih berbagai atribut budaya yang dianggap kelompok sosial dari sesuai dengan kelas atau mana seseorang berasal.

Kedirian dan adalah identitas seseorang ekspresi individu per individu untuk memperlihatkan perbedaan dan kekhasan mereka. Kedirian bukanlah sikap egoistis dan kedirian adalah bagian penting dari proses seseorang dalam membangun dan mengembangkan identitas sosialnya.

Kepemilikan identitas adalah hal penting yang harus dimiliki oleh masyarakat kontemporer dan hal ini tentu mempengaruhi pengembangan gaya hidupnya. Proses pengembangan gaya hidup di era post-modern ada dua konteks yaitu:

-1. Cara berpartisipasi masyarakat cenderung berubah dari pola komunal kepola yang lebih privat dan personal

2. Pragmentasi pasar, dimana terjadinya pergeseran dalam pemasaran yang awalnya berbasis khalayak luas dan bercampur kini lebih terceruk ceruk dan terspesialisasikan

Bahaya vaping atau rokok elektrik juga sering kali dianggap lebih ringan daripada rokok tembakau. Padahal, produk rokok elektrik yang akrab disebut “vape” ini juga tak kalah berbahaya. Sayangnya, banyak perokok yang beralih ke vape karena yakin jenis rokok ini lebih sehat.

Meskipun awalnya dipercaya lebih aman daripada rokok tembakau karena tidak mengandung tar dan karbon monoksida, vape sebenarnya terbukti tetap bisa membahayakan kesehatan. Hal ini karena vape juga mengandung zat kimia berbahaya, seperti nikotin, asetaldehida, akrolein, formaldehida, diasetil, sampai logam berat seperti nikel dan timah.

Berbagai kandungan tersebut membuat bahaya vaping jadi tak kalah mengerikan dari merokok dengan rokok konvensional.  berikut ini adalah beragam bahaya vaping yang perlu Anda waspadai:

-1. Penyebab ketagihan: Sama seperti rokok tembakau, vape juga mengandung nikotin yang dapat menyebabkan ketergantungan. Nikotin yang terkandung dalam vape dapat merangsang otak melepaskan hormon dopamin dalam jumlah banyak sehingga mengakibatkan efek ketergantungan.

-2. Merusak paru paru: Meski tidak memakai tembakau, bukan berarti bahaya vaping lebih ringan daripada rokok tembakau. Pasalnya, kandungan nikotin dalam rokok elektrik juga bisa meningkatkan risiko peradangan pada paru-paru dan mengurangi kemampuan jaringan pelindung di paru-paru untuk melindungi organ tersebut.

-3. Mengganggu fungsi jantung: Tidak hanya berdampak buruk bagi kesehatan paru-paru, nikotin yang terdapat dalam vape juga bisa mengganggu fungsi jantung. Soalnya, zat ini terserap melalui aliran darah dan dapat merangsang kelenjar adrenal untuk melepaskan hormon epinefrin (adrenal). Hal ini bisa menaikkan tekanan darah dan denyut jantung.

-4. Menyebabkan gangguan pada janin: Pada ibu hamil, penggunaan vape secara aktif maupun pasif dapat membahayakan janin. Pasalnya, paparan nikotin dan zat berbahaya lain yang dihasilkan oleh vape dapat mengganggu perkembangan janin.

-5. Meningkatkan resiko terkena kangker: Sama seperti rokok tembakau, bahaya vaping juga bisa meningkatkan risiko seseorang terkena penyakit kanker. Beberapa merek rokok vape juga ditemukan mengandung formaldehida yang dapat menyebabkan kanker.

Bahaya vaping lainnya adalah jika cairan nikotin yang digunakan untuk mengisi rokok elektrik terkena kulit atau tak sengaja terminum oleh anak-anak. Hal ini dapat mengakibatkan keracunan bahkan kematian. Oleh karena itu, selalu pastikan untuk membuang alat vaping dengan benar untuk mengurangi risiko ini.

Faktor sosial dan lingkungan juga memegang peran besar dalam keputusan seseorang menggunakan vape, sesuai dengan Teori Perilaku Terencana (Theory Planned Behavior) yang menyatakan bahwa niat seseorang dipengaruhi sikap, norma subjektif, dan kontrol perilaku.

Mengapa orang menggunakan vape? Berdasarkan Health Belief Model (HBM), seseorang memutuskan untuk menggunakan vape karena beberapa keyakinan yakni:

-1. persepsi manfaat: anggapan bahwa vape lebih sehat daripada rokok. -2. persepsi risiko rendah: minimnya informasi tentang bahaya jangka panjang. -3. persepsi sosial: tekanan teman sebaya (peer pressure) dan iklan yang menggoda. -4. keterjangkauan: harga vape lebih murah dibandingkan dengan rokok konvensional.

Pada sebuah penelitian berdasarkan teori health belief model, remaja laki-laki yang memiliki health belief buruk dapat disimpulkan bahwa remaja laki-laki tersebut, hanya mempercayai informasi yang dikatakan oleh teman-temannya, tanpa mencari informasi mengenai bahaya vape bagi kesehatan dari sumber yang terpercaya seperti dokter, BPOM atau Kemenkes (Perceived severity).

Pada remaja laki-laki tersebut juga tidak mempertimbangkan kerugian yang akan didapatkan dari penggunaan vape (Perceived benefit) terhadap kesehatannya. Selain itu, remaja laki-laki juga tidak mampu menahan diri dalam menjauhi perilaku tidak sehat, seperti mudahnya para remaja laki-laki terpengaruh dengan lingkungan disekitarnya. (Perceived barriers).

Berdasarkan Theory of Planned Behavior menjelaskan bahwa perilaku seseorang dalam menggunakan vape ditentukan oleh niat untuk melakukan suatu perilaku. Niat selanjutnya dipengaruhi oleh tiga komponen yaitu sikap, norma subjektif dan persepsi kontrol perilaku.

Pada komponen sikap berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa informan memiliki berbagai pandangan mengenai vape diantaranya, dianggap sebagai gaya hidup, memiliki nikotin rendah, rokok dengan berbagai varian rasa, tidak memiliki tar, tidak meninggalkan abu, puntung dan asap yang tidak mengganggu sehingga dianggap lebih aman dibandingkan rokok konvensional. Informan dalam penelitian juga menyadari bahwa vepe merupakan rokok yang berbahaya bagi kesehatan fisik.

Jadi,Penggunaan vape dipengaruhi oleh berbagai faktor psikologis, sosial, dan lingkungan. Teori perilaku kesehatan membantu memahami mengapa seseorang memilih vape dan bagaimana intervensi pendidikan kesehatan dapat mengurangi prevalensinya. Untuk mengatasi permasalahan tersebut diperlukan adanya regulasi ketat, kampanye anti-vape, dan edukasi berbasis bukti untuk mengendalikan tren.

(Daftar Pustaka: Dicky praja Saputra. gaya hidup, vapor, vapor Gresik, Masyarakat modern Familydoctor (2024). Dangers of Vaping. -KidsHealth, Nemours (2024). Parents. Vaping: What Parents Should Know. -Cleveland Clinic (2022). Body Systems & Organs. Adrenaline.

Johns Hopkins Medicine. Wellness and Prevention. What Does Vaping Do to Your Lungs? -Mayo Clinic (2023). Pregnancy Week by Week. Is Vaping During Pregnancy OK? -American Academy of Family Physicians (2021). Family Doctor. Dangers of Vaping. -Hill, L. & Seed, S. WebMD (2024). Lung Cancer Guide. Does Vaping Cause Lung Cancer? What You Should Know. -Painter, K. WebMD (2024). COPD. COPD (Chronic Obstructive Pulmonary Disease)