Inovasi Pengelolaan Sampah Berbasis Ekonomi Sirkular Dan Edukasi Lingkungan di TPA BLE Banyumas
.
Senin, 12/01/2026, 10:46:47 WIB

PERMASALAHAN sampah menjadi tantangan mendesak yang harus segera diatasi. Menurut Sholihah & Hariyanto (2020), sampah merupakan hasil aktivitas manusia yang diproduksi secara terus-menerus, sehingga pengelolaannya sangat penting agar tidak membahayakan lingkungan.

Pemerintah Kabupaten Banyumas menghadirkan solusi inovatif melalui Tempat Pemrosesan Akhir Berbasis Lingkungan dan Edukasi (TPA BLE) yang berlokasi di Desa Wlahar Wetan, Kecamatan Kalibagor, Kabupaten Banyumas. TPA BLE Banyumas mengubah paradigma sampah dari pengelolaan konvensional (buang-tumpuk) menjadi pusat inovasi terpadu berbasis ekonomi sirkular.

Menurut Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH), Ekonomi Sirkular merupakan pendekatan pembangunan yang menempatkan efisiensi pemanfaatan sumber daya dan perlindungan lingkungan hidup sebagai satu kesatuan yang tidak terpisahkan.

Pendekatan ini mendorong perubahan sistem produksi dan konsumsi dari model ekonomi linear (ambil–olah–buang) menuju sistem yang menekankan pengurangan limbah, pemanfaatan kembali sumber daya, serta pencegahan pencemaran sejak hulu.

Berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak Edy Nugroho, selaku Kepala UPT TPA BLE Banyumas pada Senin, 29 Desember 2025 menjelaskan bahwa TPA BLE Banyumas bukan sekadar tempat pembuangan akhir, melainkan pusat pengolahan modern yang bersih dan ramah lingkungan.

Beliau menambahkan bahwa setiap hari TPA BLE menerima sekitar 160 ton sampah, baik yang telah terpilah dari 50 TPS 3R di wilayah Kabupaten Banyumas maupun sampah utuh (campuran).

Berdasarkan penjelasan dari Bapak Wasi Jatmiko salah satu Staf TPA BLE Banyumas bahwa setiap jenis sampah yang masuk dipilah dan diproses melalui jalur yang berbeda untuk memastikan efisiensi maksimal dan meminimalisir nol residu yang terbuang ke alam. Melalui integrasi teknologi modern, sampah-sampah tersebut dikonversi menjadi produk baru yang memiliki nilai guna dan nilai ekonomi tinggi.

Adapun rincian teknologi pengolahan beserta produk yang dihasilkan adalah sebagai berikut:

-1. Pemanfaatan Maggot BSF

Sampah organik rumah tangga diolah menggunakan larva lalat Black Soldier Fly atau Maggot BSF melalui proses biokonversi sehingga mampu mereduksi volume sampah secara signifikan dalam waktu singkat.

Teknologi ini menghasilkan dua produk utama bernilai ekonomi, yakni larva maggot yang dipanen sebagai pakan ternak (ikan dan unggas) karena kandungan proteinnya yang tinggi, serta kasgot atau sisa media tumbuh maggot yang berfungsi sebagai pupuk organik berkualitas tinggi bagi sektor pertanian.

-2. Refuse-Derived Fuel/RDF

Sampah anorganik, terutama jenis plastik bernilai rendah dan tekstil yang sulit didaur ulang secara manual, dikelola melalui proses pencacahan dan pengeringan untuk dijadikan Refuse-Derived Fuel (RDF). Produk ini berupa serpihan sampah kering dengan nilai kalor tinggi yang berfungsi efektif sebagai bahan bakar alternatif pengganti batu bara.

Saat ini, produk RDF dari TPA BLE telah rutin disuplai untuk memenuhi kebutuhan energi industri semen, seperti PT Sinar Tambang Arthalestari di Ajibarang dan PT Solusi Bangun Indonesia Tbk di Cilacap.

-3. Daur Ulang Material

Untuk menangani sampah residu konstruksi dan jenis plastik tertentu yang tidak masuk ke jalur organik maupun RDF, TPA BLE menerapkan teknik manufaktur untuk mengubahnya menjadi material bangunan. Proses ini menghasilkan produk inovatif berupa paving block dan genteng plastik yang memiliki daya tahan lebih kuat serta tidak mudah retak dibandingkan material konvensional.

Selain itu, plastik yang sudah terpilah bersih juga diolah menjadi biji plastik untuk dipasok kembali ke pabrik sebagai bahan baku manufaktur dalam rantai ekonomi sirkular.

TPA BLE Banyumas tidak hanya berfungsi sebagai fasilitas teknis, tetapi juga mengemban misi sebagai Pusat Edukasi Lingkungan. Tempat ini dirancang agar masyarakat, mahasiswa, hingga pelajar dapat melihat secara langsung bagaimana sampah diolah secara higienis tanpa bau yang menyengat.

Melalui program kunjungan edukatif, pengunjung diberikan pemahaman bahwa pengelolaan sampah dimulai dari hulu (rumah tangga). Keberadaan sarana edukasi ini bertujuan untuk mengubah persepsi negatif masyarakat terhadap TPA yang selama ini dianggap kotor, menjadi sebuah pusat inovasi yang inspiratif.

TPA BLE kini telah menjadi rujukan nasional bagi pemerintah daerah lain di Indonesia yang ingin mereplikasi sistem pengelolaan sampah terpadu yang sukses dan berkelanjutan.

Keberhasilan TPA BLE Banyumas menjadi bukti nyata bahwa masalah sampah dapat diatasi melalui sinergi antara kebijakan pemerintah yang progresif, penerapan teknologi tepat guna, dan model ekonomi sirkular. Transformasi sampah menjadi sumber energi (RDF) dan produk bernilai guna lainnya menunjukkan bahwa sampah bukan lagi beban lingkungan, melainkan aset ekonomi yang berharga.

Namun, keberlanjutan sistem ini sangat bergantung pada konsistensi pemilahan sampah di tingkat rumah tangga. Tantangan terbesar ke depan adalah membangun kesadaran kolektif agar setiap individu bertanggung jawab atas sampahnya sendiri sebelum dikirim ke pusat pengolahan.

Dengan dukungan masyarakat dalam memilah sampah organik dan anorganik sejak dari dapur, beban operasional TPA BLE akan semakin ringan dan efisiensi pengolahan akan semakin maksimal. TPA BLE Banyumas telah membuka jalan sehingga peran aktif masyarakat yang menjadi penentu utama terciptanya lingkungan yang bersih dan mandiri di masa depan.

(Daftar Pustaka: -Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. (n.d.). Ekonomi Sirkular. Diakses pada 10 Januari 2026, dari https://kemenlh.go.id/contents/18/Ekonomi-Sirkular. -Sholihah, K. K. A., & Hariyanto, B. (2020). Kajian tentang pengelolaan sampah di Indonesia. Swara Bhumi, 3(03), 1-9. -Subekti, S. (2010). Pengelolaan sampah rumah tangga 3R berbasis masyarakat. Prosiding Sains Nasional dan Teknologi, 1(1)