![]() |
|
|
DI kedai kopi sederhana di pesisir Kota Tegal, bahasa lokal yang kerap dipinggirkan justru berdiri tegak di atas panggung. Sabtu malam hingga Ahad (10/01/2026), Kedai Kopi PDKT Ind, Jalan Arjuna, Slerok, menjelma ruang pertemuan antara sastra, tubuh, sejarah, dan rasa hormat.
Komunitas Sastrawan Tegalan (KST) menggelar peluncuran buku antologi monolog Warisan Luka, disertai pentas monolog yang seluruh naskahnya bersumber dari buku tersebut. Monolog, kopi, dan sate kambing menyatu sebagai perayaan kultural yang hangat sekaligus menggugah.
Ketua Panitia Pementasan, Endhy Kepanjen, menuturkan bahwa suguhan sate kambing kepada para tamu bukan tanpa alasan. Hidangan itu merupakan simbol penghormatan dan pemuliaan terhadap tamu yang hadir.
.jpg)
“Dalam ajaran agama, kedudukan tamu sangat penting dan mulia. Tamu kerap dipandang membawa berkah, dan cara memperlakukannya menjadi cerminan iman serta ketaatan seseorang,” ujarnya.
Ia menambahkan, sebelum acara peluncuran digelar, animo pembeli buku monolog Warisan Luka datang dari berbagai kalangan dan daerah. Akademisi, guru-guru bahasa Indonesia, hingga pemerhati sastra lokal Tegal turut memesan buku tersebut. Dari hasil penjualan itulah, panitia membiayai pelaksanaan acara, termasuk honor para penampil monolog.
“Dari penjualan buku itu pula kami bisa menyuguhkan sate kambing sebagai hidangan. Ini sudah yang kedua kalinya kami melakukan hal yang sama,” imbuh Endhy.
Acara dibuka dengan penampilan Ipuk NM Nur yang membawakan dua lagu Tegalan, Apus Asmara dan Kelara-lara, ciptaan Lanang Setiawan dan Ipuk. Alunan lirih kedua lagu tersebut menjadi pengantar emosional, seolah menyiapkan batin penonton untuk memasuki dunia monolog yang sarat luka, konflik batin, dan refleksi kemanusiaan.
.jpg)
Peluncuran buku dilakukan secara simbolis melalui penyerahan antologi Warisan Luka kepada para monologer dan tamu undangan. Buku ini memuat 13 naskah monolog karya Lanang Setiawan, yang secara konsisten menempatkan bahasa Tegalan sebagai medium ekspresi artistik sekaligus sikap perlawanan kultural.
Pentas monolog diawali oleh penampilan Iwang Nirwana, dilanjutkan Retno Kusrini, dan ditutup Apas Khafasi sebagai puncak acara.
Monolog pembuka berjudul “Jempol Kaisar” dimainkan oleh Iwang Nirwana. Naskah ini mengisahkan Aquilus Varro, seorang gladiator Romawi -budak tawanan perang- yang hidup dan matinya ditentukan oleh satu isyarat jempol kaisar.
Dengan panggung minim properti, tubuh setengah berlutut, gestur ibu jari, serta tongkat kayu yang menjelma pedang, monolog ini menghadirkan ketegangan psikologis yang kuat. Lakon tersebut tampil sebagai alegori tentang kekuasaan, tontonan, dan kekejaman yang dilembagakan demi hiburan massa.
.jpg)
Penampilan berikutnya datang dari Retno Kusrini melalui monolog “Tangis Kinasih”. Kisah ini menuturkan kegelisahan seorang perempuan bernama Kinasih yang memenangkan sayembara penulisan novel, meski sejak awal ia tak pernah berharap menjadi juara.
Konflik muncul ketika Kinasih menolak hadiah tambahan berupa perjalanan ke Jerman jika gurunya, Mas Jon, tidak hadir dalam acara penghargaan. Ketika sang guru akhirnya datang, hadiah itu pun diterima. Monolog ini menegaskan nilai kesetiaan, etika, serta penghormatan terhadap peran guru dalam proses kreatif.
Puncak pementasan ditandai dengan monolog “Tangis Kepahat Watu” yang dimainkan Apas Khafasi, dengan Diah Setiawati berperan sebagai Roro Jonggrang sekaligus pembawa acara. Pementasan digelar di ruang terbuka dengan suasana intim dan nyaris sakral.
Sosok Roro Jonggrang digambarkan berdiri lebih tinggi di atas properti panggung, menjadi simbol wibawa dan keteguhan dalam menerima takdir dikutuk menjadi patung. Busana gelap berpadu selendang oranye kecokelatan mempertegas karakter bangsawan yang menyimpan luka sejarah. Minimalisme artistik justru memperkuat daya ungkap dialog dan ekspresi tubuh para pemain.

Ketua Dewan Kesenian Tegal (DKT) Kota Tegal, Suriali Andi Kustomo menyampaikan harapannya, agar pementasan monolog berbahasa Tegalan dapat dipentaskan di luar daerah.
“Coba pementasan monolog Tegalan ini dimainkan, misalnya, di Semarang. Biar mereka tahu bahwa bahasa Tegal juga punya estetika,” ujarnya.
Menurutnya, monolog Tegalan memiliki kekuatan artistik yang layak diperkenalkan kepada publik yang lebih luas sebagai bagian dari kekayaan budaya pesisir Jawa.
Acara ini turut dihadiri sejumlah tokoh sastra dan seni, antara lain Zaenal Abidin MK (penyair dan pebisnis), Ridwan Rumaeny (monologer), Hendri Yetus Siswono dari Brebes, Sunaryo Karman, fotografer Budiarto Gondowijoyo, Nurochman Sudibyo, Dudung Pendaki Gunung, Endhy Kepanjen, Ustadz Tsanyi bin Ambali, Abi Taufiq, Endang Sukmawati, Ken Ayu Laras Queena, Kheyra Naomi Kendesi, anak-anak yatim Santoaji, masyarakat setempat, serta para penampil dari Tegal, Slawi, dan Pemalang.
Menariknya, Komunitas Sastrawan Tegalan kembali menghadirkan tradisi yang sama seperti penyelenggaraan sebelumnya pada 27 Januari 2026, yakni menjamu para tamu dengan suguhan sate kambing. Pada peluncuran Warisan Luka kali ini, sate kambing kembali dihidangkan sebagai simbol penghormatan kepada siapa pun yang hadir.