![]() |
|
|
...selaras dengan teori ekonomi kreatif yang menjelaskan, bahwa pembangunan ekonomi tidak semata-mata bergantung pada sektor ekonomi konvensional...
PRODUKSI Sanggul Rose milik Ibu Hj. Sutiah yang beralamat di RT 01/ RW 04, Limbangan Wetan, Kecamatan Brebes, Kabupaten Brebes, sebagai industri rumahan berbasis keterampilan tradisional dalam menciptakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar.
Hasil Penelitian yang dilakukan pada Jumat, 19 Desember 2025, produksi Sanggul Rose di Kabupaten Brebes, merupakan salah satu bentuk usaha ekonomi kreatif yang bertumpu pada keterampilan tradisional dan telah berkembang sejak tahun 1975.

Usaha ini tidak hanya berfungsi sebagai upaya pelestarian budaya sanggul tradisional, tetapi juga mampu memberikan nilai tambah ekonomi melalui pengolahan kreativitas, inovasi, serta pemanfaatan keterampilan masyarakat setempat.
Kondisi tersebut selaras dengan teori ekonomi kreatif yang menjelaskan, bahwa pembangunan ekonomi tidak semata-mata bergantung pada sektor ekonomi konvensional, melainkan juga pada sektor yang berkaitan dengan budaya, seni, dan kreativitas (Leuhery et al., 2024).

Hasil observasi menunjukkan bahwa seluruh kegiatan produksi Sanggul Rose masih dilakukan secara manual dengan melibatkan tenaga kerja dari lingkungan sekitar. Saat ini, terdapat lima orang pekerja yang terlibat langsung dalam proses produksi.
Keterlibatan masyarakat lokal tersebut memperlihatkan bahwa ekonomi kreatif memiliki potensi besar dalam menyediakan lapangan pekerjaan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat, sebagaimana dijelaskan dalam konsep ekonomi kreatif.

Proses pembuatan Sanggul Rose dimulai dengan penyasakan rambut, kemudian digulung hingga membentuk sanggul sesuai dengan model yang diinginkan, serta ditambahkan bagian tengah sebagai pelengkap. Waktu yang dibutuhkan dalam satu kali pembuatan berkisar antara lima hingga sepuluh menit, bergantung pada tingkat kerumitan model.
Pewarnaan sanggul dilakukan dengan teknik penyemprotan agar hasilnya tetap terlihat alami. Bahan-bahan yang digunakan meliputi harlet, sprai, pilok, jepit, rambut, melati, dan benang. Seluruh tahapan produksi tersebut menunjukkan bahwa kreativitas dan keterampilan menjadi unsur utama dalam menciptakan nilai tambah produk.

Dari sisi pemasaran, Sanggul Rose dipasarkan kepada para perias pengantin, khususnya di wilayah Losari, melalui jaringan keluarga dan relasi tanpa memanfaatkan media sosial. Meskipun strategi promosi yang digunakan masih sederhana, penjualan produk ini terus mengalami peningkatan.
Hal tersebut menunjukkan bahwa produk ekonomi kreatif berbasis budaya tetap memiliki daya saing. dan permintaan pasar yang stabil selama kualitasnya dapat dipertahankan.
Keberadaan usaha Sanggul Rose juga sejalan dengan upaya pengembangan ekonomi kreatif di Indonesia, seperti Program Kota Kreatif, yang bertujuan mendorong sektor-sektor berbasis budaya dan kreativitas sebagai penggerak ekonomi daerah.
Dengan demikian, produksi Sanggul Rose dapat dijadikan contoh nyata peran ekonomi kreatif dalam mendorong pertumbuhan ekonomi lokal, menciptakan lapangan kerja, serta memberdayakan masyarakat secara berkelanjutan.
(Daftar Pustaka: Leuheury, J., Pattinasarany, J. R., & Sahusilawane, W. (2024). Pengembangan ekonomi kreatif sebagai sumber daya potensial dalam mendukung pariwisata berkelanjutan di kota-kota terpilih Indonesia. Jurnal Ekonomi Kreatif dan Pariwisata, 5(1), 45–58)
