![]() |
|
|
KUE nopia dan mino masih menjadi salah satu jajanan tradisional yang mudah dijumpai di Kabupaten Banyumas. Jajanan khas ini diproduksi oleh perajin di Kampoeng Nopia Mino, Dusun Pekunden Lor, yang dikenal sebagai sentra produksi sekaligus tujuan wisata kuliner dan edukasi.
UMKM nopia yang dikelola secara turun-temurun mempertahankan cara pembuatan tradisional, mulai dari adonan tepung terigu dengan isian gula merah (original) atau rasa buah seperti Durian dan masih banyak lagi, hingga pemanggangan menggunakan tungku genthong dari tanah liat. Hasilnya, tekstur kue terasa renyah di luar dan lembut di dalam, dengan cita rasa manis khas yang digemari lintas usia.
Menurut pengamatan di lapangan, nopia dan mino tidak hanya dinikmati oleh warga setempat, tetapi juga oleh pengunjung dari luar daerah. Anak-anak hingga orang dewasa kerap membelinya sebagai camilan atau oleh-oleh khas Banyumas.

Keberadaan Kampoeng Nopia Mino juga membawa nilai ekonomi yang nyata. Produksi nopia menjadi sumber penghasilan utama sebagian warga Pekunden Lor sekaligus menggerakkan ekonomi lokal melalui pemasaran produk ke berbagai wilayah. Rahman (2023) menyatakan bahwa usaha kuliner lokal seperti ini berkontribusi penting dalam menopang keberlanjutan ekonomi dan budaya masyarakat.

Selain aspek ekonomi, kepopuleran nopia juga mencerminkan proses akulturasi budaya, di mana kuliner yang berakar dari tradisi Tionghoa dan Jawa ini terus hidup dan diterima oleh generasi baru. Utami (2018) menjelaskan bahwa makanan tradisional dapat menjadi representasi identitas budaya yang tumbuh dari interaksi sosial dan adaptasi selera lokal.
