Menilik Proses Produksi Krupuk Mie Tiga Berlian Di Adiwerna, Kabupaten Tegal
.
Minggu, 11/01/2026, 11:17:22 WIB

DESA Harjosari Lor, Kecamatan Adiwerna, Kabupaten Tegal, merupakan salah satu sentra industri rumahan krupuk mie yang telah berkembang sejak tahun 1950-an. Keberadaan industri ini tumbuh secara turun-temurun, dan menjadi bagian penting dalam kehidupan ekonomi masyarakat setempat.

Keahlian mengolah krupuk mie diwariskan dari generasi ke generasi, sehingga keterampilan produksi tidak hanya menjadi mata pencaharian, tetapi juga identitas budaya kerja masyarakat desa.

Salah satu pelaku industri yang masih aktif hingga saat ini adalah Bapak Isa, yang telah menekuni usaha krupuk mie sejak usia muda. Pengalaman panjang tersebut membentuk kedisiplinan kerja, ketelitian produksi, serta kemampuan beradaptasi terhadap perkembangan teknologi mesin dalam proses produksi.

Dalam proses produksi krupuk mie mulai dari pengolahan adonan hingga produk siap dikeringkan dan dikemas. Berdasarkan pengamatan, hampir seluruh tahapan produksi telah memanfaatkan mesin, meskipun pada tahap awal masih terdapat sentuhan tenaga manusia untuk memastikan kualitas adonan tetap terkontrol.

Adapun proses pembuatan krupuk mie di industri Krupuk Mie Tiga Berlian dapat dijabarkan sebagai berikut:

-a. Persiapan Awal dan Pencampuran Bahan Secara Manual Terbatas: Pada tahap awal, bahan baku utama seperti tepung, bumbu, dan air disatukan secara manual di atas meja kerja.

Proses ini bertujuan untuk memastikan bahan tercampur secara kasar sebelum dimasukkan ke dalam mesin. Sentuhan manual membantu pekerja mengontrol kelembapan, warna adonan, dan tingkat kekentalan awal sehingga memudahkan proses mesin selanjutnya.

-b. Pengadonan dalam Bak Mesin Pengaduk Berkapasitas Besar: Adonan awal kemudian dimasukkan ke dalam bak mesin pengaduk berbahan logam. Mesin ini bekerja mengaduk adonan secara terus-menerus hingga mencapai tingkat kekenyalan dan homogenitas yang diinginkan. Penggunaan mesin mempercepat proses sekaligus menghasilkan adonan yang lebih konsisten dibandingkan pengadukan manual.

-c. Pemeriksaan Tekstur dan Kematangan Adonan: Operator memeriksa tekstur adonan dengan pengamatan visual dan sentuhan untuk memastikan adonan tidak terlalu lembek atau keras. Tahap ini penting karena kualitas adonan sangat menentukan hasil cetakan dan daya kembang krupuk saat diproses lebih lanjut.

-d. Pemindahan Adonan ke Mesin Cetak/Press: Adonan yang telah siap dipindahkan menuju mesin press hidrolik. Mesin ini berfungsi membentuk adonan menjadi lembaran tipis atau pola tertentu sesuai kebutuhan produksi.

-e. Pencetakan Lembaran Krupuk Menggunakan Mesin Tekan Otomatis: Mesin press bekerja menekan adonan secara merata sehingga menghasilkan bentuk krupuk yang seragam. Tekanan mesin diatur agar ketebalan produk stabil dan tidak mudah robek.

-f. Pengaturan Pola dan Ukuran Cetakan: Operator menyesuaikan cetakan mesin sesuai ukuran pasar dan permintaan konsumen. Ketepatan ukuran memudahkan proses pengeringan dan pengemasan.

-g. Pengambilan Hasil Cetakan Secara Bertahap: Lembaran krupuk yang telah dicetak diambil secara hati-hati dan disusun pada media pengering agar tidak rusak.

-h. Penyusunan Produk pada Rak Bertingkat Beroda: Produk disusun rapi pada rak besi bertingkat. Rak ini memudahkan mobilitas produk dalam jumlah besar sekaligus menjaga sirkulasi udara dan panas.

-i. Pemindahan Rak Menggunakan Alat Dorong Hidrolik: Rak yang penuh dipindahkan menuju ruang oven menggunakan alat dorong khusus untuk menjaga keselamatan kerja.

-j. Pemanasan dan Pengeringan Menggunakan Oven Berbahan Bakar Kayu: Oven besar berbentuk tabung digunakan sebagai sumber panas utama. Kayu bakar dimasukkan secara bertahap untuk menjaga kestabilan suhu. Panas ini membantu mempercepat pengurangan kadar air pada produk.

-k. Pengontrolan Suhu dan Intensitas Api Secara Manual dan Visual: Operator memantau kestabilan api agar tidak terlalu panas yang dapat menyebabkan produk gosong atau berubah warna.

-l. Pemutaran Produk Menggunakan Drum Mesin Berputar: Produk dimasukkan ke dalam drum berputar untuk memastikan proses pemanasan merata dan membantu pemisahan sisa tepung.

-m. Pendinginan Bertahap Setelah Proses Pemanasan: Produk dikeluarkan dari mesin dan didinginkan agar tekstur mengeras secara alami.

-n. Penyaringan dan Pembersihan Sisa Serbuk Tepung: Drum berfungsi menyaring sisa serbuk agar produk lebih bersih dan siap kemas.

-o. Pemeriksaan Kualitas Secara Visual: Produk diperiksa dari segi warna, bentuk, dan kebersihan.

-p. Penyusunan Produk Siap Simpan: Produk yang lolos seleksi disusun rapi sebelum proses distribusi.

Penyuntingan ini menunjukkan bahwa proses produksi krupuk mie merupakan sistem kerja terintegrasi antara tenaga manusia, mesin, dan pengalaman turun-temurun. Penyajian proses secara rinci memperjelas bahwa industri rumahan tetap memiliki standar kerja, manajemen produksi, serta kontrol kualitas yang ketat.

Dengan demikian, hasil observasi tidak hanya menggambarkan aktivitas produksi, tetapi juga memberikan nilai edukatif dan dokumentatif yang kuat.

(DAFTAR PUSTAKA: -1. Pantura Post. (2022). Menengok sentra industri krupuk kuning di Harjosari Lor yang pernah berjaya.  https://www.panturapost.com/ekonomi/2073253898/menengok-sentra-industri-krupuk-kuning-di-harjosari-lor-yang-pernah-berjaya. -2. Febrianto, R. (2021). “Peran Industri Rumah Tangga dalam Kemandirian Ekonomi Desa”. Jurnal Ekonomi & Pemberdayaan Masyarakat, 5(2), 112–127. -3. Rahayu, S. (2019). Industri Pangan Lokal di Jawa Tengah: Studi Kasus UMKM Kerupuk. Yogyakarta: Pustaka Nusantara)