![]() |
|
|
PENELITIAN yang dilaksanakan di Desa Gandoang, Kecamatan Salem, Kabupaten Brebes pada Sabtu, 20 Desember 2025, oleh Shintia Atmaranti mahasiswa Universitas Peradaban Bumiayu, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. fokus pada observasi dan penggalian informasi mengenai tradisi anyaman bambu yang masih dipertahankan oleh masyarakat setempat.
Tradisi anyaman bambu masih bertahan di Desa Gandoang meski di tengah arus modernisasi. Kegiatan menganyam yang dilakukan masyarakat setempat bukan sekadar menghasilkan peralatan rumah tangga, tetapi juga menyimpan nilai budaya dan pengetahuan lokal yang diwariskan secara turun-temurun.
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan pengrajin setempat, hampir setiap rumah di Desa Gandoang memiliki anggota keluarga yang mampu menganyam bambu. Produk yang dihasilkan antara lain boboko atau bakul, nyiru, haseupan, dan cepon. Proses pembuatannya masih dilakukan secara manual, mulai dari pemilihan bambu, pemotongan, pembelahan, perautan, hingga penyusunan pola anyaman.

Salah satu pengrajin menjelaskan bahwa bambu yang digunakan biasanya berasal dari kebun sendiri sehingga tidak perlu membeli bahan baku. “Menganyam sudah menjadi kebiasaan sejak dulu. Setelah pulang dari sawah, kami melanjutkan menganyam di rumah,” ujarnya. Untuk satu produk sederhana, waktu pengerjaan rata-rata sekitar satu jam.
Selain digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, hasil anyaman juga dijual kepada penampung yang datang langsung ke desa. Harga anyaman bervariasi, mulai dari Rp8.000 untuk ukuran kecil hingga Rp10.000 untuk ukuran sedang. Meski penghasilannya tidak besar, kegiatan ini membantu menambah pendapatan keluarga.
Dari sisi budaya, anyaman bambu menjadi identitas dan kebanggaan masyarakat Desa Gandoang. Keterampilan menganyam tidak dipelajari melalui pendidikan formal, melainkan melalui kebiasaan melihat, membantu, dan mencoba sejak usia dini. Dengan cara inilah tradisi tersebut tetap terjaga hingga sekarang.
Dalam bidang pendidikan, kegiatan anyaman bambu juga dapat dimanfaatkan sebagai pembelajaran berbasis proyek. Melalui observasi langsung, peserta didik tidak hanya belajar teori, tetapi juga memahami proses, nilai kerja keras, ketelitian, dan kesabaran. Pendekatan ini sejalan dengan John Dewey,.
Menurut Jhon Dewey pembelajaran yang baik adalah pembelajaran yang memberi kesempatan kepada peserta didik untuk mengalami sendiri apa yang dipelajari. Belajar tidak hanya melalui ceramah, tetapi melalui kegiatan nyata yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Guru berperan sebagai pembimbing yang mengarahkan, memberi kesempatan bertanya, mencoba, dan menemukan makna dari setiap kegiatan.
Dalam kegiatan proyek tentang anyaman bambu, pemikiran John Dewey terlihat jelas. Peserta didik tidak hanya membaca tentang anyaman, tetapi terlibat dalam proses mengamati, mewawancarai, mencatat, dan menyusun laporan. Dari pengalaman langsung tersebut, mereka belajar berpikir, bersikap, dan bekerja secara sistematis.
Dengan pendekatan ini, pembelajaran tidak hanya berfokus pada hasil, tetapi juga pada prosesnya. Peserta didik memahami bahwa anyaman bambu bukan sekadar kerajinan, melainkan tradisi dan pengetahuan masyarakat yang perlu dijaga dan dilestarikan. (Jome, 2023).
Anyaman bambu juga memiliki manfaat lingkungan karena menggunakan bahan alami yang mudah tumbuh dan ramah lingkungan. Di tengah maraknya penggunaan bahan plastik, produk anyaman menjadi alternatif yang lebih berkelanjutan.
Masyarakat berharap tradisi anyaman bambu tetap dilestarikan oleh generasi muda. Upaya dokumentasi, publikasi, serta inovasi produk dinilai penting agar anyaman bambu tidak hanya bertahan sebagai tradisi, tetapi juga mampu bersaing dan bernilai ekonomi di masa depan.
(Sumber: Jome, I. (2023). Analisis pelaksanaan teori progresivisme John Dewey dalam pembelajaran pendidikan agama Kristen. Jurnal Pendidikan dan Keguruan, 1(6), 529–540)
