![]() |
|
|
PanturaNews (Brebes) - Di antara kursi-kursi Pendopo Kabupaten Brebes yang tua dan penuh sejarah, Rabu lalu suara seorang remaja dari Kecamatan Tanjung memecah keheningan. Suara itu bening, tegas, tapi sekaligus lembut -seolah membawa pesan dari masa depan: pesan tentang kejujuran yang tak boleh padam.
Nama remaja itu Teteg Arya Sungsang, siswa SMP Negeri 5 Satu Atap Tanjung, yang kemudian mengukir prestasi sebagai Juara 1 Lomba Baca Puisi Antikorupsi 2025 dalam peringatan Hari Antikorupsi Sedunia (Hakordia) yang digelar Inspektorat Daerah Kabupaten Brebes.
Di hadapan 51 peserta lain dari berbagai SMP se-Brebes, Arya tampil dengan penghayatan yang mengalir, artikulasi yang jernih, dan keberanian menyuarakan nilai-nilai integritas. Setiap bait yang ia ucapkan seperti mengetuk ruang batin pendengar.
Inspektur Daerah Kabupaten Brebes, Drs. Nur Ari Haris Yuswanto, M.Si, memandang puisi sebagai jalan yang tidak hanya menyentuh telinga, tetapi juga hati.
“Ada kalimat-kalimat yang lahir bukan untuk didengar, tapi untuk direnungkan,” ujarnya dalam nada yang lebih puitis.
“Puisi menjadi jembatan. Melalui kata, kejujuran menemukan jalannya menuju generasi muda.”
Dalam ajang tersebut, tiga puisi dilombakan: “Bulan Setengah Tiang di Langit Kota” karya M. Fathul Arifin, “Mendung Tak Terbendung” karya Harsi, dan “Seribu Wajah” karya Aniek Juliarini. Ketiganya memuat kritik sosial yang halus namun tajam, mengajak pelajar menafsir ulang makna kejujuran di tengah hiruk-pikuk zaman.
-Perjalanan yang Tidak Singkat
Di balik panggung yang tenang, ada perjalanan panjang yang ditempuh Arya. Ia berlatih berulang-ulang, mencari timbre suara terbaik, menyelami makna tiap bait. Latihan itu ia jalani bersama Abu Ma’mur MF, penyair dan pegiat budaya di Komite Sastra Dewan Kesenian Kabupaten Brebes, Lesbumi PCNU, dan Sanggar Srong.
Pendampingan di sekolah dilakukan oleh Apriliana Hardiani, S.S., yang memastikan latihan Arya tumbuh bukan hanya dari teknik, tetapi juga dari ketekunan.
Abu Ma’mur MF sendiri merupakan sosok yang jejak kreatifnya telah tercatat dalam Apa & Siapa Penyair Indonesia (2018), Menanam Kata Menuai Asa (2020), dan antologi Genealogi Hikayat Kopi.
Pendopo tempat Arya berdiri menyimpan kenangan tersendiri. Pada 2024, Abu Ma’mur MF pernah membacakan puisi antikorupsi di tempat yang sama dalam kegiatan “Jelajah Negeri Bangun Antikorupsi: Roadshow Bus KPK.” Kini, suara muridnya menggema di ruang yang sama.
“Tahun lalu saya berdiri di sini membawa pesan tentang kejujuran. Tahun ini, Arya yang meneruskannya,” tutur Abu Ma’mur MF dengan nada pelan, seperti menjaga gema.
“Ini bukan sekadar kemenangan lomba. Ini estafet nilai.”

Deretan Juara dan Momentum Hakordia: Arya meraih posisi pertama, diikuti oleh Putri Purnama J.F. – SMP Negeri 3 Bumiayu (Juara 2), Anis Marselanda – SMP Negeri 5 Brebes (Juara 3).
Juara harapan diraih oleh: Muhammad Ariq F. (SMP Negeri 2 Bumiayu), Zahra Zagia Lourita (SMP Negeri 1 Sirampog), dan Rifai Noval Pratama (SMP Negeri 2 Tonjong).
Penilaian dilakukan oleh satu Penyuluh Antikorupsi (PAK) dan dua guru tingkat SMA dengan mempertimbangkan teknik pembacaan, kekuatan penghayatan, dan daya sampai pesan kepada audiens.
Penyerahan penghargaan direncanakan pada 27 November 2025 di Tonjong, bersamaan dengan upacara Korpri, PGRI, dan puncak peringatan Hakordia tingkat Kabupaten Brebes.
Puisi selalu menemukan jalannya sendiri. Dari penyair ke pembaca, dari guru ke murid, dari generasi terdahulu ke generasi berikutnya. Dan hari itu, di Pendopo Kabupaten Brebes, sebuah suara remaja telah menjadi jembatan bagi nilai yang lebih besar: kejujuran yang diwariskan, bukan sekadar diajarkan.