![]() |
|
|
DI era digital yang serba cepat ini, gadget telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Anak-anak sejak usia dini sudah akrab dengan ponsel pintar, tablet, dan berbagai perangkat digital lainnya.
Fenomena ini tentu tidak bisa dihindari, karena teknologi membawa banyak manfaat, terutama dalam hal akses informasi dan proses belajar. Namun di sisi lain, penggunaan gadget yang tidak terarah dapat menimbulkan berbagai dampak negatif terhadap perkembangan anak.
Karena itu, menjadi penting bagi orang tua dan pendidik untuk menanamkan sikap bijak dalam menggunakan gadget agar anak tumbuh menjadi pribadi yang cerdas sekaligus berkarakter. Gadget sejatinya bukan musuh bagi perkembangan anak. Dengan pendampingan yang tepat, teknologi dapat menjadi sarana belajar yang menarik dan menyenangkan.

Melalui berbagai aplikasi edukatif dan video pembelajaran interaktif, anak dapat mempelajari hal-hal baru dengan cara yang lebih mudah dan menyenangkan. Selain itu, internet juga membuka jendela dunia bagi anak untuk mengenal budaya, bahasa, dan pengetahuan dari berbagai negara. Dalam konteks ini, gadget dapat menjadi alat bantu yang memperkaya wawasan dan menumbuhkan kreativitas anak.
Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa penggunaan gadget yang berlebihan tanpa kontrol dapat berdampak buruk. Banyak anak kehilangan fokus belajar karena terlalu lama bermain game atau menonton video hiburan. Beberapa bahkan mengalami perubahan perilaku, menjadi mudah marah, tertutup, atau kurang berinteraksi dengan lingkungan sekitar.
Lebih jauh lagi, paparan terhadap konten negatif seperti kekerasan, ujaran kebencian, atau pornografi di dunia maya juga menjadi ancaman serius bagi pembentukan karakter anak. Kondisi ini menuntut peran aktif orang tua dalam mengawasi dan mengarahkan penggunaan gadget di rumah.
Orangtua memiliki peran utama dalam menumbuhkan kebiasaan digital yang sehat. Anak-anak belajar dari teladan, sehingga perilaku orang tua terhadap gadget akan menjadi contoh bagi mereka. Bila orang tua bijak dalam menggunakan ponsel misalnya dengan tidak terlalu sering menatap layar saat bersama anakm aka anak pun akan belajar menempatkan teknologi pada porsi yang wajar.
Di samping itu, orang tua juga perlu menetapkan aturan penggunaan gadget, seperti menentukan waktu dan durasi yang sesuai dengan usia anak. Menggunakan fitur pengawasan atau parental control dapat membantu membatasi akses terhadap konten yang tidak sesuai.

Gadget juga sebaiknya diarahkan sebagai sarana edukatif. Anak dapat diajak menonton video pembelajaran, bermain kuis pengetahuan, atau menggunakan aplikasi yang mendukung kreativitas seperti menggambar digital atau membuat musik sederhana. Di luar itu, penting pula membangun kebersamaan tanpa gadget, misalnya dengan membaca buku bersama, bermain di luar rumah, atau berdiskusi santai di meja makan.
Melalui interaksi langsung, anak belajar nilai empati, sopan santun, dan tanggung jawab yang tidak bisa diperoleh dari layar. ekolah dan masyarakat pun memiliki tanggung jawab dalam membentuk literasi digital anak. Sekolah dapat mengintegrasikan pendidikan karakter dan etika digital ke dalam kegiatan belajar.
Guru bisa memberikan contoh bagaimana memanfaatkan internet untuk hal positif, seperti mencari informasi ilmiah atau berdiskusi secara sehat di dunia maya. Sementara itu, masyarakat dapat mengadakan sosialisasi, seminar, atau kampanye edukatif tentang penggunaan gadget yang aman dan bermanfaat bagi anak-anak dan keluarga.
Sosialisasi adalah proses di mana informasi, nilai, dan pengetahuan disampaikan kepada individu atau kelompok dengan tujuan untuk membentuk pandangan dan sikap yang positif terhadap suatu hal.
Menurut Charlotte Bühler, sosialisasi merupakan suatu proses yang menuntun individu untuk belajar dan menyesuaikan diri dengan pola kehidupan serta cara berpikir kelompoknya, sehingga individu tersebut mampu berperan dan berfungsi secara baik dalam kelompok sosialnya.
Peter Berger berpendapat bahwa sosialisasi adalah proses ketika seseorang mengenal dan menghayati aturan serta nilai yang ada di lingkungannya, hingga akhirnya membentuk kepribadian dan cara dirinya berperilaku di masyarakat (Elyas, Iskandar, & Suardi, 2020).

Dengan demikian, sosialisasi memiliki peran penting dalam membentuk karakter dan perilaku individu, termasuk dalam membimbing orang tua dan anak agar mampu beradaptasi secara bijak terhadap perkembangan teknologi seperti penggunaan gadget di era digital.
Melalui sosialisasi, masyarakat memiliki kesempatan untuk mendapatkan pengetahuan baru yang berguna dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu isu penting dalam sosialisasi saat ini adalah ajakan untuk menggunakan gadget secara bijak.
Frasa “menggunakan gadget dengan bijak” mengacu pada kemampuan seseorang untuk memanfaatkan teknologi dengan cara yang tepat, seimbang, dan bertanggung jawab, sambil tetap memperhatikan aspek sosial dan moral. Penerapan penggunaan gadget yang bijak sangat krusial, khususnya dalam konteks pendidikan anak.
Dengan arahan yang tepat, penggunaan gadget tidak hanya dapat membantu anak menjadi lebih cerdas secara intelektual, tetapi juga mampu membentuk karakter positif seperti disiplin, tanggung jawab, dan empati. Oleh karena itu, sosialisasi dengan tema “Bijak Menggunakan Gadget -Mendidik Anak Cerdas dan Berkarakter” menjadi langkah konkret untuk mengarahkan peran orang tua dalam mendampingi anak-anak di era digital ini.
Kemajuan teknologi digital saat ini memberikan pengaruh besar terhadap kehidupan anak-anak, terutama dalam aktivitas belajar dan bermain. Gadget adalah alat elektronik berukuran kecil yang memiliki fungsi praktis tertentu dan menawarkan kemudahan bagi penggunanya, biasanya disertai dengan berbagai pembaruan teknologi modern (Fauziah, Elan, & Aprily, 2023).
Meskipun bermanfaat, penggunaan gadget yang tidak diawasi dengan baik dapat menimbulkan dampak negatif, seperti menurunnya fokus belajar, berkurangnya interaksi sosial, hingga munculnya kecanduan terhadap permainan daring.
Berdasarkan pengamatan di SD Negeri Pagojengan 03, masih dijumpai beberapa siswa yang menggunakan gadget secara berlebihan tanpa pengawasan orang tua, sehingga berdampak pada kedisiplinan dan prestasi belajar. Oleh sebab itu, perlu dilakukan kegiatan sosialisasi bagi orang tua agar mereka dapat mendampingi anak dalam menggunakan gadget secara tepat, bijak, dan seimbang.

Sosialisasi dengan tema “Bijak Menggunakan Gadget -Mendidik Anak Cerdas dan Berkarakter” diselenggarakan dengan tujuan untuk meningkatkan pemahaman orang tua tentang pentingnya peran mereka dalam mendampingi anak menggunakan teknologi. Kegiatan ini menghadirkan pengisi sosialisasi Bapak Luqman Arifin, Lc., M.A., dosen Universitas Peradaban Bumiayu yang memberikan penjelasan mendalam mengenai dampak positif dan negatif penggunaan gadget serta cara menanamkan nilai-nilai karakter dalam berteknologi.
Melalui kegiatan ini, diharapkan para orang tua dapat memahami berbagai dampak positif maupun negatif dari penggunaan gadget serta mampu mengarahkan anak agar memanfaatkannya untuk kegiatan yang bersifat edukatif dan produktif. Kegiatan ini juga berupaya menumbuhkan kesadaran akan perlunya menjaga keseimbangan antara waktu belajar, bermain, dan beristirahat.
Dengan pendampingan yang baik, anak-anak diharapkan tidak hanya menggunakan gadget sebagai sumber hiburan, tetapi juga sebagai media belajar yang dapat mengembangkan kecerdasan sekaligus menumbuhkan karakter positif seperti tanggung jawab, disiplin, dan empati.
Kegiatan sosialisasi ini memberikan dampak positif terhadap peningkatan pemahaman orang tua mengenai pentingnya pendampingan anak dalam menggunakan gadget. Setelah mengikuti kegiatan, sebagian besar peserta mengaku memperoleh wawasan baru tentang cara mengatur waktu penggunaan gadget, memilih konten yang sesuai usia anak, serta menanamkan nilai tanggung jawab dalam berteknologi.
Orang tua juga menjadi lebih sadar bahwa penggunaan gadget tidak selalu berdampak negatif jika diarahkan dengan benar. Melalui sosialisasi ini, tumbuh kesadaran bahwa peran keluarga sangat penting dalam membentuk perilaku digital anak agar mereka mampu memanfaatkan teknologi secara cerdas, seimbang, dan beretika.
Dengan demikian, kegiatan ini tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga mendorong perubahan sikap dan kebiasaan positif dalam lingkungan keluarga.
Tim Mahasiswa PPL Mahasiswa Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Peradaban Kabupaten Brebes Kelompok 12:
Ina Kurniasih, Aas Khoeriah, Zahra Dianti Malik, Maulidina Himmatul Basma, Fira Putri Rahmadila, Alya Faizul Haq.