Dari Kandang Bebek Jadi Kompleks Wali, Kisah di Balik 8 Makam Tanpa Jenazah di Sawojajar
LAPORAN TAKWO HERIYANTO
Jumat, 10/10/2025, 13:03:21 WIB
Sejumlah warga bersama aparat dan perangkat desa tampak menyingkirkan bongkahan semen dan batu nisan dari sebuah lahan di pinggir permukiman. Di lokasi itu, delapan makam palsu yang berdiri di atas bekas kandang bebek akhirnya dibongkar.

PanturaNews (Brebes) – Malam itu, Jumat (9/10/2025), suasana di Desa Sawojajar, Kecamatan Wanasari, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, mendadak ramai. 

Sejumlah warga bersama aparat dan perangkat desa tampak menyingkirkan bongkahan semen dan batu nisan dari sebuah lahan di pinggir permukiman. Di lokasi itu, delapan makam palsu yang berdiri di atas bekas kandang bebek akhirnya dibongkar.

Selama berbulan-bulan, area tersebut menjadi buah bibir warga. Video dan foto-foto makam itu sempat viral di media sosial, memicu beragam spekulasi, dari keyakinan spiritual hingga tudingan penodaan lahan desa.

Sekretaris Desa Sawojajar, Abdulloh Alyasa, mengungkapkan bahwa lahan yang digunakan merupakan tanah bengkok desa, yang selama ini difungsikan sebagai aset pemerintah desa. 

“Pembangunan dilakukan tanpa izin. Setelah kami telusuri, para pelaku berasal dari luar desa,” ujar Abdulloh saat dikonfirmasi awak media, Jumat 10 Oktober 2025 siang.

Lebih jauh, ia menjelaskan bahwa kelompok tersebut mengaku bertindak atas dasar ‘wangsit’ atau petunjuk gaib. Mereka meyakini, di tempat itu dahulu pernah dimakamkan para wali. 

“Dari pengakuan mereka, pembangunan itu bermula dari keyakinan spiritual. Mereka merasa mendapat tanda,” kata Abdulloh.

Catatan desa menunjukkan bahwa kompleks makam tiruan itu telah berdiri sejak tahun 2022. Awalnya hanya terdapat tiga makam yang diklaim sebagai makam “Wali Tiga” dengan nama-nama besar seperti Syekh Abdul Qodir Al-Jaelani dan Arsyad Al-Banjari. 

Seiring waktu, jumlah makam bertambah menjadi delapan, dengan tambahan tokoh rekaan seperti Syekh Saman Al-Madani dan Syekh Ibrahim Tunggul Wulung.

Dari hasil penelusuran di lapangan, sisa-sisa pembakaran dan material makam masih tampak berserakan. Di tengah lahan itu juga terdapat sebuah sumur baru yang diduga dibangun bersamaan dengan kompleks makam. Beberapa warga menyebut sumur tersebut sempat digunakan untuk ritual air berkah oleh sebagian jamaah.

Pemerintah desa kini tengah menginventarisasi ulang status lahan bengkok agar tak kembali disalahgunakan. 

“Kami belajar dari kejadian ini. Tanah desa bukan tempat untuk menuruti keyakinan pribadi,” ujar Abdulloh.