![]() |
![]() |
|
...berorientasikan kemerdekaan berpikir guna mengatasi berbagai macam problem di sekitar...
SAGARA, akronim dari Sanggar Belajar Pantura. Sanggar belajar ini terbentuk karena adanya ketimpangan sosial yang tersistemisasi dan mengakar kuat di kehidupan masyarakat pesisir Kota Tegal.
Ditandai dengan menguatnya pola pikir umum, kaum muda dan mudi yang sekadar melihat tujuan pendidikan hanya sebagai syarat untuk bekerja dan memenuhi kebutuhan industri semata, tanpa menimbang dan mengedepankan asas berpikir merdeka.
Hal ini melahirkan seonggok dampak negatif di kalangan anak muda. Seperti sikap apatis terhadap lingkungan sekitar, menurunnya tingkat literasi, sampai lestarinya pemeliharaan pembodohan yang terlampau sistematis oleh pihak-pihak tertentu (feodalistis).
Berangkat dari keresahan yang merupakan cerminan dari keadaan sosial di daerah pesisir Kota Tegal. Sekelompok kaum muda yang dipertemukan dalam wadah Kolektif Kanca Tegal, dan beberapa kaum muda asli yang berasal dari daerah pesisir Kota Tegal.
Sekelompok kaum muda yang digerakkan oleh Zidni Ilman, Yusuf Setiabudi, dan Irpan Maulana, membentuk semacam wadah organisasi kemasyarakatan yang berbasis pada pendidikan non formal, dan berorientasikan kemerdekaan berpikir guna mengatasi berbagai macam problem yang terjadi di sekitar masyarakat.
Berangkat dari problem itulah, wadah yang terbentuk atas keresahan kawan-kawan ini berdiri pada 25 Agustus 2025, bertempat di Dukuh Ketemberan, Tegalsari, Kota Tegal. Dengan mengenakan nama Sagara, filosofi yang diusung adalah kearifan lokal. Wadah ini adalah kolektif non hirarki, sehingga tidak ada kepengurusanya.
Artinya, Sagara mendambakan salah satu cita-cita besar; yakni masyarakat lokal yang berdikari; dimana masyarakat lokal (pesisir laut Utara Jawa), mampu bergantung pada sumber daya alam yang ada dengan cara-cara pengelolaan dan pemanfaatan potensi yang kreatif.
Dengan demikian, adanya wadah kolektif ini tidak hanya berharap masyarakat teredukasi dengan pendidikan-pendidikan formal saja, tetapi juga bisa mengembangkan pendidikan non formal yang bertumpu pada pola-pola kesadaran kolektif masyarakat berdikari.
Kolektif Kanca Tegal dengan terbentuknya Sagara, menggelar kegiatan lapak buku setiap malam Minggu di depan Hotel Semeru Jalan Ahmad Yani, Mintaragen, Kota Tegal.
Pada gelaran lapak buku yang menyediakan berbagai macam bacaan ini, siapapun boleh membaca secara gratis, dan tentu saja ada diskusi sebagai bentuk manifestasi pikiran-pikiran untuk meningkatkan literasi, dengan harapan masyarakat teredukasi.