![]() |
![]() |
|
PanturaNews (Tegal) - Setiap daerah kini berlomba-lomba mengembang usaha pariwisatanya. Pasalnya dari sektor wisata itu akan meningkatkan perekonomian setempat dan menambah pendapatan asli daerah (PAD).
Untuk mewujudkan pengelolaan wisata yang baik, Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Tegal mengadakan studi banding pelaku wisata yang ada di Karesidenan Pekalongan ke DI Yogyakarta, selama 3 hari, 21-23 Juli 2025.
Perwakilan pelaku wisata yang mengikuti diantaranya dari pengelola wisata Pasar Slumpring Kabupaten Tegal, wisata mangrove Pandansari Brebes, Kampung Batik Kauman Pekalongan, pengelola wisata Bukit Tangkeban dan pengelola wisata lainnya.
Pada kunjungan tersebut juga diikuti awak media se-Eks Karesidenan Pekalongan dan menghadirkan pembicara dari BI DI Yogyakarta dan pelaku wisata di wilayah Yogyakarta.
Wening dari BI DI Yogyakarta mengatakan bahwa sektor unggulan di Yogyakarta tidak terlepas dari pariwisata. Obyek wisata yang ada, menjadi denyut nadinya di Yogyakarta dan memberikan kontribusi pertumbuhan perekonomian mencapai 66,47 persen.
Tercatat dari sektor pariwisata telah membangkitkan UMKM seperti di Sleman ada sebanyak 92 UMKM, Kota Yogyakarta 67 UMKM, Bantul 66 UMKM, Gunung Kidul 25 UMKM dan Kulonprogo ada 25 UMKM.
"Di tahun 2025 ini, BI DI Yogyakarta melakukan upaya pengembangan BI diantaranya 26 klaster ketahanan pangan, 9 pengembangan pariwisata, local economic development, pengembangan eksyar, onboarding UMKM dan akses pembiayaan UMKM," ujar Wening.
Menurutnya, terkait dengan pengembangan wisata, selama ini dilakukan melalui kerangka 3A2P, atraksi, amenitas, akses, promosi, people.
Atraksi yang diartikan sebagai pengembangan quality tourism, desa wisata berbasis masyarakat, pengembangan niche market tourism. Kemudian amenitas terkait dengan standarisasi akomodasi, peningkatan konektivitas jaringan internet di lokasi wisata dan dukungan pariwisata ramah lingkungan
Lalu akses, terkait dengan akses menujuk ke destinasi wisata yang harus mempermudah pengunjung. People yang dimaksudkan upaya peningkatan kualitas pelaku wisata menjadi hal yang sangat penting dan diperhatikan. Selanjutnya promosi, melalui penguatan media sosial dan pelaksanaan pameran-pameran promosi wisata.
Wening berpesan, bahwa titik kritis pengembangan desa wisata adalah ketika wisata tersebut sudah berkembang dan banyak orang-orang yang mulai memiliki kepentingan.
"Wisata akan selalu bertahan ketika bisa berkomitmen, dan manajemen dan pengelolaan SDM sebaik-baiknya," ucapnya.
Kepala Kantor Perwakilan BI Tegal Bimala menuturkan tujuan diadakannya kunjungan studi selain mengajak wartawan juga mengajak para inisiator wisata adalah untuk belajar bersama terkait pengelolaan tempat wisata.
"Melalui kunjungan ini diharapkan bisa membawa ilmu untuk diterapkan di tempat-tempat wisata di wilayah kerja KPw BI Tegal, agar semakin berkembang, maju dan selalu menjadi tujuan masyarakat," ujat Bimala.
Bimala meminta para pelaku pengembangan wisata atau inisiator wisata memegang komitmen. Sebab komitmen menjadi kunci dalam pengembangan wisata. Sehingga hal tersebut bisa menjadi penyemangat untuk terus berinovasi dan berkembang.
"BI Tegal sangat siap dan mendukung pengembangan desa wisata atau tempat wisata yang ada di wilayah kerja KPw BI Tegal," pungkasnya.