Analisis Komponen Volatil Dan Aktivitas Neuroprotektif Minyak Atsiri Dari Akar Tumbuhan Langka
.
Kamis, 24/07/2025, 07:52:04 WIB

AMORPHOPHALUS Titanum merupakan salah satu tumbuhan langka yang ada di Indonesia. Amorphophallus titanum di kategorikan ke dalam status kelangkaan ’vulnerable’ oleh IUCN dan WCMC, dan di tahun 2002 dikeluarkan dari IUCN dan WCMC.

Hal ini dikarenakan belum ada data komprehensif yang menjelaskan tentang populasi dan keberadaannya di alam sampai sekarang. Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1999, tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa, telah memasukkan Amorphophallus titanum ke dalam jenis tumbuhan yang dilindungi.

Terdapat dalam lampiran jenis-jenis tumbuhan dan satwa yang dilindungi (Tumbuhan - I. Palmae - No. 238. Amorphophallus titanum). Pada Peraturan Pemerintah ini Amorphophallus titanum dimasukkan dalam keluarga palem-paleman (Yuzamni dan Hetterscheid, 2014).

Minyak atsiri dari akar Amorphophallus titanum, tumbuhan langka endemik Indonesia, tidak hanya berfungsi sebagai sumber aroma alami, tetapi juga memiliki potensi sebagai agen terapeutik yang dapat dimanfaatkan dalam pengembangan obat neurodegeneratif. Kandungan senyawa volatil seperti monoterpen dan seskuiterpen menunjukkan kemampuan untuk berinteraksi dengan sistem saraf pusat melalui jalur olfaktori dan neurokimia (Gunawan & Mulyani, 2004).

Masalah kelangkaan jenis ini di picu oleh berbagai faktor antara lain maraknya illegal logging, perambahan hutan untuk dijadikan perladangan, perdagangan liar burung rangkong (sebagai hewan pendistribusi biji Amorphophalus titanum). Faktor lamanya waktu yang dibutuhkan untuk beregenerasi juga menjadi penyebab kelangkaan tumbuhan ini.

Berkembangnya mitos atau kepercayaan masyarakat setempat bahwa Amorphophalus titanum merupakan tumbuhan pemakan manusia perlu segera diluruskan. Mitos menyesatkan tersebut berdampak kepada pemusnahan Amorphophalus titanum apabila tumbuh di ladang-ladang penduduk (Yuzammi, dkk., 2015).

Amorphophallus titanum (Becc.) dimanfaatkan sebagai tanaman hias karena bentuknya yang unik dan mampu menarik perhatian banyak pengunjung. Selain itu juga sebagai bahan penelitian bagi ilmuan-ilmuan di dunia. Manfaat lain yang dapai diambil dari tanaman ini adalah penggunaan umbinya sebagai bahan pangan. Namun, dalam pengolaanya memerlukan waktu yang lama sebab umbi memiliki getah yang menjadikan gatal.

Umbinya bermanfaat karena kandungan Glucomannan-nya. Glucomannan memiliki kegunaan sebagai zat pengental, jelly yang kaya serat (dietaryfibers) dan dietary supplements (untuk antikolesterol, penetralisir kadar gula darah, kesehatan pencernaan, penyerapan zat beracun dalam pencernaan dan agen control berat badan) (Latifahetal.,2015).

Dari survei yang pernah dilakukan, diketahui bahwa A. titanum dapat tumbuh pada habitat yang cukup ekstrim antara lain pada batu gamping (limestone), tanah yang telah tererosi berat, ataupun pada ladang-ladang penduduk.

Tumbuhan ini sering ditemukan pada tempat-tempat yang agak terbuka pada hutan sekunder, pada daerah yang rata maupun pada perbukitan yang curam. Jenis ini ditemukan tumbuh di habitatnya pada ketinggian 0–1.200 m dpl. (Hetterscheid & Ittenbach, 1996).

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Munawaroh dan Yuzammi (2017) mengenai peta persebaran populasi Amorphophallus titanum, umumnya ditemukan dalam kawasan hutan yang kondisinya masih tergolong bagus dan belum terdegradasi berat. Sebagian besar lahan hutan telah dikonversi menjadi lahan permukiman dan perkebunan kopi.

Sedangkan dalam kawasan hutan lindung, jenis ini hanya ditemukan pada dua lokasi dari lima lokasi yang dijelajahi, yaitu di HL Sumberjaya Register 45B dan HL Palakiah Register 48B. Sementara tiga lokasi lainnya di HL Lumbok Seminung Register 9B, HL Gunung Pesagi Register 43B, dan HL Bukit Subhanallah Register 44B, tidak ditemukan keberadaan A. titanum.

Tutupan lahan hutan pada ketiga lokasi tersebut di atas rata-rata telah terbuka dan berganti dengan semak belukar. Degradasi lahan hutan pada kawasan tersebut sudah sangat tinggi, dan pada umumnya lahan hutan telah dikonversikan menjadi perkebunan kopi.

Diperlukan penelitian lanjutan untuk mengidentifikasi komponen volatil dari akar Amorphophallus titanum menggunakan metode GC-MS dan menguji aktivitas neuroprotektifnya secara in vitro dan in vivo terhadap model penyakit neurodegeneratif seperti Alzheimer dan Parkinson.

Pengembangan metode ekstraksi seperti destilasi uap dan SPE-GC/MS sangat dianjurkan agar dapat menghasilkan profil senyawa volatil yang lebih akurat. Formulasi sediaan farmasi berbasis minyak atsiri dapat diperluas ke berbagai bentuk seperti inhaler aromaterapi, roll-on deodoran, sabun aromaterapi, hingga minuman fungsional, sebagaimana telah diuji pada tanaman aromatik lain.

Untuk mendukung keberlanjutan, perlu dilakukan konservasi genetik dan budidaya eks situ tanaman ini, serta pengembangan kebijakan pemanfaatan sumber daya hayati secara bertanggung jawab, mengingat status langka dan ekologisnya yang rentan.

(Aldi Yanuar adalah Mahasiswa Fakultas Sains dan Teknologi, Program Studi Farmasi Universitas Peradaban (UP) Bumiayu, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah)