![]() |
|
|
...sudah seharusnya ekstrak daun binahong dikembangkan lebih lanjut, baik dalam bentuk salep, gel, maupun pembalut luka...
TIDAK banyak yang tahu bahwa tanaman binahong yang biasa merambat di pekarangan rumah, ternyata menyimpan khasiat luar biasa sebagai bahan alami penyembuh luka, terutama luka ringan pada penderita diabetes.
Daun binahong mengandung senyawa bioaktif seperti flavonoid, saponin, dan tanin yang berperan penting dalam proses penyembuhan luka. Dengan kandungan tersebut, binahong layak dipertimbangkan sebagai solusi alami yang aman, ekonomis, dan ramah lingkungan untuk menggantikan sebagian peran antibiotik kimia yang kini mulai menimbulkan kekhawatiran akibat resistensi.

Berdasarkan penelitian oleh Handayani dkk. (2020), ekstrak etanol daun binahong menunjukkan efektivitas tinggi dalam menghambat pertumbuhan Staphylococcus aureus melalui metode difusi cakram, menghasilkan zona hambat yang signifikan.
Hal ini diperkuat oleh temuan Fadillah dkk. (2019) yang menyatakan bahwa senyawa aktif dalam binahong seperti flavonoid, tanin, dan saponin bekerja sinergis merusak dinding sel bakteri dan menyebabkan kematian mikroba.
Selain itu, menurut WHO (2020), resistensi antibiotik telah menjadi ancaman global yang mendorong pentingnya pemanfaatan tanaman obat sebagai terapi alternatif. Maka dari itu, penggunaan binahong sangat relevan sebagai bagian dari pengobatan modern berbasis kearifan lokal.
Selain efektivitasnya, penggunaan binahong juga dinilai lebih aman dibandingkan dengan antibiotik kimia. Pengobatan jangka panjang dengan antibiotik dapat menimbulkan resistensi bakteri, sementara bahan alami seperti binahong cenderung memiliki efek samping yang minimal.
Ini menjadikannya pilihan yang lebih ramah bagi tubuh, terutama bagi pasien dengan kondisi kronis seperti diabetes yang umumnya sensitif terhadap penggunaan obat-obatan tertentu.
Keuntungan lain adalah dari sisi ekonomi tanaman binahong mudah ditemukan, dapat dibudidayakan sendiri di pekarangan rumah, dan proses ekstraksinya tidak memerlukan biaya besar, sehingga lebih terjangkau bagi masyarakat luas.
Melihat potensi besar ini, sudah seharusnya ekstrak daun binahong dikembangkan lebih lanjut, baik dalam bentuk salep, gel, maupun pembalut luka. Institusi pendidikan, laboratorium, hingga dinas kesehatan harus terlibat aktif dalam mendukung riset lanjutan dan proses standarisasi penggunaan binahong secara klinis.
Lebih dari itu, sosialisasi kepada masyarakat mengenai manfaat dan cara penggunaannya harus dilakukan secara berkelanjutan, agar warisan lokal ini bisa dimanfaatkan secara optimal untuk kesehatan masyarakat.
