Korban KDRT Lapor ke Damkar karena Polisi Tak Gubris Aduannya
.
Rabu, 25/06/2025, 14:21:05 WIB
Seorang wanita berinisial D (26 tahun) melaporkan dugaan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang dialaminya ke Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmat) Kota Bekasi.

PanturaNews (Bekasi) – Seorang wanita berinisial D (26 tahun) melaporkan dugaan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang dialaminya ke Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmat) Kota Bekasi. 

Langkah tak lazim itu ia tempuh karena merasa frustrasi setelah laporannya ke kepolisian tidak mendapat tanggapan.

Peristiwa tersebut bermula saat D membuat laporan ke Polres Metro Bekasi Kota pada Jumat, 20 Juni 2025. 

Ia mengaku menjadi korban kekerasan fisik oleh suaminya, yang menyebabkan luka lebam di sejumlah bagian tubuh, sakit kepala, dan nyeri di telinga. Namun, hingga beberapa hari kemudian, laporan tersebut belum menunjukkan perkembangan.

“Saya bikin aduan ke polisi, tapi tidak ada tanggapan. Kepala saya sakit dan saya juga sudah depresi, sampai mau bunuh diri,” kata D saat ditemui di kontrakannya di Bekasi Selatan, Selasa, 24 Juni 2025.

Setelah membuat laporan awal, D hanya diarahkan ke Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA), menjalani visum di RSUD, dan mengikuti pemeriksaan berita acara pemeriksaan (BAP). Namun, tak ada tindak lanjut berarti. 

“Katanya nanti dikabarin, tapi sampai sekarang belum ada kejelasan,” ujar D.

Frustrasi dan dalam kondisi mental yang labil, D kemudian menghubungi call center 112 milik Disdamkarmat Kota Bekasi. Ia menyampaikan niat bunuh diri dan meminta pertolongan. Petugas Damkar, Eko Budi, membenarkan bahwa pihaknya menerima laporan tersebut dan langsung merespons.

“Begitu dapat laporan, kami langsung kroscek, minta serlok lokasi, dan kirim tim ke sana. Korban mengaku frustrasi, mengalami KDRT, dan ingin mengakhiri hidupnya,” kata Eko.

Petugas kemudian mengevakuasi D dan membawanya untuk mendapatkan penanganan medis lebih lanjut. Disdamkarmat juga berkoordinasi dengan pihak kepolisian dan rumah sakit untuk menindaklanjuti kasus tersebut. “Kami khawatir ada kemungkinan pendarahan otak karena korban sudah mengeluh pusing sejak Jumat,” ujar Eko.

Hingga kini, keberadaan suami D belum diketahui secara pasti. Ia disebut pulang ke rumah orang tuanya dan belum menunjukkan iktikad baik untuk menyelesaikan persoalan. Pihak keluarga suami pun belum menghubungi D.