![]() |
|
|
PanturaNews (Tegal) - Sastra Tegalan kini resmi menjadi mata kuliah di Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI), Universitas Pancasakti (UPS) Tegal, Kota Tegal, Jawa Tengah.
Langkah akademik ini tak lepas dari peran Lanang Setiawan, sastrawan dan begawan bahasa Tegal yang selama tiga dekade konsisten mengembangkan dan memperjuangkan eksistensi sastra daerah, khususnya dalam bentuk puisi Tegalan.
Pengaruh Lanang begitu terasa dalam perayaan Dies Natalis ke-45 UPS Tegal. Dalam acara bertajuk “Baca Puisi Tegalan”, para mahasiswa tampil membaca puisi-puisi berbahasa Tegal di ruang depan Perpustakaan Pusat UPS pada Kamis, 19 Juni 2025.

Penyair Iwang Nirwana saat membacakan puisi Tembangan Banyak alihwacan Lanang Setiawan dari puisi Nyanyian Angsa karya WS. Rendra. (Foto: Dok/UPS)
Salah satunya adalah puisi monumental Tembangan Banyak, terjemahan karya WS Rendra yang dialihbahasakan Lanang Setiawan ke dalam bahasa Tegal, dan dibacakan penuh penghayatan oleh penyair Iwang Nirwana.
Iwang membacakan Tembangan Banyak, sebuah puisi panjang terjemahan karya maestro WS Rendra berjudul Nyanyian Angsa, yang dialihbahasakan ke dalam bahasa Tegalan oleh penyair dan begawan sastra Tegal, Lanang Setiawan.
Suasana mendadak sunyi. Mata-mata mahasiswa terpaku pada setiap larik yang meluncur dari mulut Iwang. Suaranya berubah-ubah: kadang menggelegar penuh amarah, kadang lirih serupa rintihan perempuan yang tersesat.
//Malèkat sing nunggu sorga/apa Panjenengan ora éling/saiki wis wayah surup srengèngé/angin semilir sing gunung/lan dinané muter megap-megap payah/ kepèngin lèha-lèha?/Malèkat sing nunggu sorga/bringas culag ngusir dèwèké/kaya patung, Maria Zaitun nglegleg/lan pedangé kinclong-kinclong medeni//
Jam pitu, lan wayah bengi ngèmpèri bumi/seranggané pating sliwer/ banyu kali mili nabrak-nabrak watu/witwitan lan rungsebé tetanduran/nang kiwa tengen kali/ mrekungkung ora obah/lan katon nemen sajeroné padang wulan//
Larik-larik puisi itu dibacakan Iwang dengan penghayatan penuh, menggambarkan sosok Maria Zaitun -seorang pelacur yang ingin bertobat-, namun terus saja terjerembab oleh arus zaman dan stigma sosial.

Acara ini diikuti oleh lima belas mahasiswa PBSI yang membacakan puisi sebagai bagian dari penilaian mata kuliah Bahasa dan Sastra Tegalan.
Menurut Dr. Tri Mulyono, dosen pengampu mata kuliah tersebut, kegiatan baca puisi ini bukan sekadar tugas akademik, melainkan juga pengalaman batin.
“Mereka tidak hanya belajar teori dan menulis puisi dalam bahasa Tegalan, tapi juga harus mengalami langsung bagaimana menyuarakan puisi itu ke publik. Ini penting untuk membangun kepekaan rasa dan identitas sastra lokal,” ujar Tri Mulyono.
Tri juga menjelaskan, Tembangan Banyak yang baru saja dibacakan merupakan karya monumental yang menandai kelahiran Sastra Tegalan pada 26 November 1994. Pencetusnya, Lanang Setiawan, dikenal sebagai begawan sastra Tegal yang konsisten menggeluti dan mengembangkan bahasa daerah ini selama lebih dari tiga dekade.
“Lanang Setiawan bukan hanya pelopor, tapi juga inovator. Dari totalitasnya selama 31 tahun mengabdi pada Sastra Tegalan, kini hasilnya diakui sebagai ilmu yang layak diajarkan di ruang kelas,” tambah Tri.
Lebih jauh, Tri menyebut bahwa Lanang juga menciptakan tiga aliran besar dalam puisi Tegalan: Puisi Tegalerin (bersama Ria Candra), Wangsi (Wangsalan Puisi), dan KUR 267, yaitu puisi pendek tiga baris yang ia gagas bersama Dwi Ery Santoso.
Pada kegiatan itu, tak hanya mahasiswa yang tampil membacakan puisi. Sejumlah dosen juga turut memeriahkan, seperti Lely Triana, Absun Aulia Nirmala (dosen PBSI), serta Dr. Agus Wibowo (Dekan Fakultas Teknik). Penyair perempuan Retno Kusrini juga tampil membacakan dua puisi Tegalan karyanya sendiri.
Dr. Tri menambahkan bahwa puisi yang dibacakan mahasiswa terbagi dalam dua jalur: akademik dan non-akademik.
“Mereka boleh memilih puisi jalur kampus maupun dari luar kampus. Tapi tetap dalam koridor puisi konvensional. Genre baru memang belum masuk kurikulum, tapi semangatnya tetap kami dukung.”
Sementara itu, Kepala UPT Perpustakaan UPS, Nani, menyambut positif penggunaan ruang perpustakaan sebagai panggung sastra.
“Saya merasa senang ruangan ini jadi hidup. Jarang sekali ada ruang belajar yang bisa berubah jadi ruang batin. Dan tadi, saat puisi dibacakan, saya merasa sedang mendengar suara-suara yang tumbuh dari tanah Tegal sendiri.”
Acara ditutup dengan tepuk tangan hangat dan tawa bersahaja. Namun gema puisi Tegalan tak berhenti di situ. Di dalam kepala para mahasiswa, larik demi larik Tembangan Banyak mungkin masih mengendap, menanti waktu untuk mekar menjadi puisi mereka sendiri.