Transformasi Pendidikan Nasional: Telaah Karakteristik Kurikulum 2013 dan Kurikulum Merdeka
.
Jumat, 30/05/2025, 08:52:36 WIB

KURIKULUM adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan materi pembelajaran, serta cara yang digunakan sebagai pedoman dalam menyelenggarakan kegiatan pembelajaran (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2013).

Seiring berjalannya waktu, kurikulum di Indonesia telah mengalami berbagai perubahan sebagai respon terhadap kebutuhan masyarakat dan tantangan global. Salah satu kurikulum yang diterapkan adalah Kurikulum 2013 yang mengutamakan pendekatan saintifik dan penilaian autentik serta menekankan penguatan pendidikan karakter (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2013).

Menanggapi tantangan pascapandemi dan perlunya pembelajaran yang lebih fleksibel, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi meluncurkan Kurikulum Merdeka. Kurikulum ini dirancang dengan pendekatan yang lebih sederhana dan fleksibel, dengan fokus pada materi pokok, pengembangan keterampilan, dan karakter siswa sesuai profil siswa Pancasila (Kemendikbudristek, 2022).

Perbedaan karakteristik antara kedua program ini penting untuk dipelajari karena dapat memberikan gambaran kepada para pendidik tentang arah dan kebijakan kurikulum saat ini. Pemahaman ini juga dapat membantu membuat proses pelaksanaan pembelajaran lebih efisien dan dapat disesuaikan dengan kebutuhan siswa.

Pembahasan: Kurikulum di Indonesia telah mengalami berbagai perubahan untuk menyesuaikan dengan perkembangan zaman dan kebutuhan peserta didik. Kurikulum 2013 dirancang untuk mengembangkan keseimbangan antara sikap spiritual dan sosial, pengetahuan, dan keterampilan, serta menerapkan pendekatan pembelajaran yang aktif dan berpusat pada peserta didik .

Sementara itu, Kurikulum Merdeka memberikan keleluasaan kepada pendidik untuk menciptakan pembelajaran berkualitas yang sesuai dengan kebutuhan dan lingkungan belajar peserta didik, dengan fokus pada materi esensial dan pengembangan karakter melalui Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila .

Untuk memahami perbedaan dan kesamaan antara kedua kurikulum ini, penting untuk menelaah karakteristik utama dari masing-masing kurikulum.(JDIH Kemdikbud,Kompas.com).

Setiap kurikulum memiliki karakteristik masing-masing, demikian hal-nya Kurikulum 2013 yang dirancang oleh pemerintah.

-Karateristik Kurikulum 2013

Adapun kurikulum 2013 dirancang dengan karakteristik sebagai berikut (Kemendikbud, 2013):

-1. mengembangkan keseimbangan antara pengembangan sikap spiritual dan sosial, rasa ingin tahu, kreativitas, kerja sama dengan kemampuan intelektual dan psikomotorik.

-2. sekolah merupakan masyarakat yang bagian dari memberikan pengalaman belajar terencana dimana peserta didik menerapkan apa yang dipelajari di sekolah ke masyarakat dan memanfaatkan sumber belajar.

-3. mengembangkan sikap, pengetahuan, dan keterampilan serta menerapkannya dalam berbagai situasi di sekolah dan masyarakat.

-4. memberi waktu yang cukup leluasa untuk mengembangkan berbagai sikap, pengetahuan, dan keterampilan.

-5. kompetensi dinyatakan dalam bentuk kompetensi inti kelas yang dirinci lebih lanjut dalam kompetensi dasar matapelajaran.

-6. kompetensi inti kelas menjadi unsur pengorganisasi (organizing elements) kompetensi dasar, dimana semua kompetensi dasar dan proses pembelajaran dikembangkan untuk mencapai kompetensi yang dinyatakan dalam kompetensi inti.

-7. kompetensi dasar dikembangkan didasarkan pada prinsip akumulatif, saling memperkuat (reinforced) dan memperkaya (enriched) antar matapelajaran dan jenjang pendidikan (organisasi horizontal dan vertikal).

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa karakteristik dari kurikulum 2013 ini lebih menekankan pada pengembangan sikap, pengetahuan, dan keterampilan peserta didik serta menerapkannya dalam berbagai situasi di sekolah dan masyarakat. Sehingga dapat menciptakan sumber daya manusia yang dapat mengahadapi persoalan-persoalan menimpa bangsa ini. (Kemendikbud, 2013, dikutip dalam Elisa, 2021)

-Karakteristik Kurikulum Merdeka

Kurikulum Merdeka Belajar adalah kebijakan pendidikan yang diluncurkan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia pada tahun 2020. Kurikulum ini dirancang untuk menjawab berbagai tantangan dalam sistem pendidikan Indonesia yang dirasa belum sepenuhnya mampu memenuhi kebutuhan zaman.

Salah satu aspek penting dari Kurikulum Merdeka Belajar adalah karakteristik-karakteristiknya yang mengedepankan fleksibilitas, kemandirian, dan relevansi dengan kebutuhan masa depan. Berikut adalah karakteristik utama dari Kurikulum Merdeka Belajar:

-1. Fleksibilitas dalam Pembelajaran

Salah satu karakteristik utama dari Kurikulum Merdeka Belajar adalah fleksibilitas dalam pengelolaan pembelajaran. Kurikulum ini memberikan kebebasan kepada sekolah dan guru untuk merancang dan melaksanakan pembelajaran yang lebih sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik siswa.

Dengan memberikan ruang untuk inovasi, guru dapat memilih metode dan strategi pembelajaran yang paling efektif dan relevan dengan situasi di lapangan. Hal ini juga mencakup pemilihan materi ajar yang bisa disesuaikan dengan kondisi lokal atau kebutuhan khusus daerah masing-masing.

Siswa pun diberi kebebasan untuk memilih kegiatan atau program pendidikan yang lebih sesuai dengan minat dan bakat mereka, yang bertujuan untuk meningkatkan keterlibatan dan motivasi mereka dalam belajar (Kemendikbudristek, 2020).

-2. Berbasis pada Keterampilan Abad 21

Kurikulum Merdeka Belajar menekankan pada pengembangan keterampilan abad 21, seperti berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, kolaborasi, dan pemecahan masalah. Keterampilan-keterampilan ini dianggap penting untuk mempersiapkan siswa agar siap menghadapi tantangan dunia yang semakin kompleks dan global.

Kurikulum ini berusaha mengubah fokus pembelajaran dari sekadar menguasai materi akademik menjadi mengembangkan kompetensi yang relevan dengan kehidupan nyata dan dunia kerja. Dalam praktiknya, ini berarti pembelajaran yang berbasis pada proyek dan pengalaman langsung, di mana siswa diberikan kesempatan untuk mengaplikasikan pengetahuan yang telah mereka pelajari dalam konteks kehidupan sehari-hari (OECD, 2020).

Dengan demikian, kurikulum ini berusaha menciptakan siswa yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga mampu berpikir secara kreatif dan kritis, serta bekerja sama dalam tim.

-3. Pembelajaran yang Berpusat pada Peserta Didik

Karakteristik berikutnya dari Kurikulum Merdeka Belajar adalah pendekatan yang berpusat pada peserta didik. Dalam kurikulum ini, siswa bukan hanya menjadi penerima pasif dari materi ajar, melainkan aktif terlibat dalam proses pembelajaran. Mereka diberi kebebasan untuk memilih jalur pendidikan yang sesuai dengan minat dan bakat mereka, baik dalam hal mata pelajaran maupun bentuk kegiatan yang mereka lakukan.

Dengan pendekatan ini, diharapkan siswa dapat merasa lebih terlibat, termotivasi, dan bertanggung jawab terhadap pembelajaran mereka. Pembelajaran yang berpusat pada siswa ini juga mendorong adanya keterlibatan siswa dalam pengambilan keputusan mengenai bagaimana dan apa yang mereka pelajari, yang tentunya akan meningkatkan rasa percaya diri dan kemandirian mereka (Siregar, 2021).

-4. Integrasi Pembelajaran Karakter dan Soft Skills

Kurikulum Merdeka Belajar tidak hanya fokus pada pencapaian akademik, tetapi juga sangat memperhatikan pembentukan karakter dan pengembangan soft skills. Pembelajaran dalam kurikulum ini mencakup pengajaran tentang nilai-nilai moral, etika, dan pengembangan kepribadian yang baik.

Hal ini penting untuk membentuk siswa yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki integritas, empati, dan rasa tanggung jawab yang tinggi. Sebagai bagian dari pengembangan karakter, siswa diajarkan untuk bekerja sama, berkomunikasi dengan baik, dan menghargai perbedaan.

Soft skills ini dianggap sangat penting dalam mempersiapkan siswa untuk menghadapi dunia yang dinamis, di mana keterampilan sosial dan emosional menjadi kunci untuk sukses (Siregar, 2021).

-5. Pendekatan Berbasis Proyek dan Pengalaman Nyata 5

Karakteristik lain dari Kurikulum Merdeka Belajar adalah pendekatan berbasis proyek (project-based learning) dan pengalaman nyata (real-world learning). Dalam pendekatan ini, siswa tidak hanya belajar melalui teori, tetapi juga melalui pengalaman langsung yang memungkinkan mereka untuk mengaplikasikan pengetahuan yang telah dipelajari dalam konteks kehidupan sehari-hari.

Pembelajaran berbasis proyek memungkinkan siswa untuk menyelesaikan masalah yang lebih kompleks, bekerja dalam tim, dan mengembangkan keterampilan praktis yang dapat digunakan di luar sekolah. Hal ini bertujuan untuk memberikan siswa keterampilan yang lebih relevan dengan dunia nyata, dan mempersiapkan mereka untuk tantangan kehidupan yang lebih besar (OECD, 2020).

Kesimpulan: Kurikulum 2013 memiliki karakteristik yang menekankan pada pengembangan sikap spiritual dan sosial, rasa ingin tahu, kreativitas, kerja sama, serta kemampuan intelektual dan psikomotorik.

Sekolah diposisikan sebagai bagian dari masyarakat, di mana peserta didik menerapkan pembelajaran dalam kehidupan nyata. Kompetensi dalam Kurikulum 2013 dinyatakan dalam bentuk kompetensi inti yang dirinci dalam kompetensi dasar, dan dikembangkan secara akumulatif serta saling memperkuat antar mata pelajaran dan jenjang pendidikan.

Sementara itu, Kurikulum Merdeka memiliki karakteristik utama seperti fleksibilitas dalam pembelajaran, pengembangan keterampilan abad 21, pembelajaran yang berpusat pada peserta didik, integrasi pembelajaran karakter dan soft skills, serta pendekatan berbasis proyek dan pengalaman nyata.

Kurikulum ini bertujuan untuk memberikan kebebasan kepada sekolah dan siswa dalam memilih materi dan metode belajar yang sesuai dengan kebutuhan, minat, dan bakat, serta menyiapkan peserta didik menghadapi tantangan dunia yang semakin kompleks.

Kedua kurikulum ini memiliki ciri khas masing-masing dalam mendukung proses pendidikan di Indonesia, dan mencerminkan upaya transformasi pendidikan untuk membentuk peserta didik yang berkarakter, mandiri, dan relevan dengan perkembangan zaman.

(Daftar Pustaka: -Elisa, E. (2021). Karakteristik Kurikulum 2013. Diakses dari https://lpmpbabel.kemdikbud.go.id/karakteristik-kurikulum-2013/ -Syafei, I. (2025). Kurikulum & pembelajaran. Bandung: Penerbit Widina)