Pengembangan Kurikulum Merdeka: Mewujudkan Pembelajaran Yang Holistik
.
Jumat, 30/05/2025, 08:49:13 WIB

PENGEMBANGAN kurikulum pendidikan di Indonesia telah sampai pada pengembangan Kurikulum Merdeka. Kurikulum ini merupakan pengembangan dan penerapan kurikulum darurat yang digagas sebagai respon terhadap dampak pandemi Covid-19.

Prinsip dari kurikulum baru ini adalah pembelajaran yang berpusat sepenuhnya pada peserta didik dengan mencanangkan istilah Merdeka Belajar. Istilah tersebut didefinisikan sebagai metode yang memungkinkan peserta didik bisa memilih pelajaran yang menarik bagi mereka. Sekolah berhak dan bertanggung jawab untuk mengembangkan kurikulum sesuai kebutuhan dan karakteristik masing-masing.

Pembahasaan: Kurikulum Merdeka merupakan kurikulum baru yang dikeluarkan oleh pemerintah Indonesia yang bertujuan untuk mengembangkan kurikulum yang lebih mandiri dan berbasis konteks bagi siswa di seluruh Indonesia.

Tujuan dari kurikulum mandiri adalah menciptakan kurikulum yang lebih memenuhi kebutuhan siswa dan memberikan kebebasan kepada guru untuk mengembangkan bahan ajar yang lebih menarik dan relevan.

Merdeka belajar adalah suatu kebijakan yang dicetuskan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yakni Nadhim Makarim mengungkapkan bahwasannya merdeka belajar adalah suatu tujuan memberikan ruang dalam pengembangan potensi pada diri peserta didik dengan kebebasan berpikir, kebebasan otonomi yang diberikan kepada elemen pendidikan.

Menurut Badan Standar Nasional Pendidikan, pengertian kurikulum merdeka belajar adalah suatu kurikulum pembelajaran yang mengacu pada pendekatan bakat dan minat. Di sini, para pelajar dapat memilih pelajaran yang ingin dipelajari sesuai dengan bakat dan minatnya.

-Apa Itu Pembelajaraan Holistik?

Pembelajaran Holistik memegang prinsip bahwa siswa bukan sekedar objek belajar, tetapi juga subjek belajar aktif. Tujuan utama pembelajaran holistik adalah membentuk peserta didik yang seimbang dan terpadu dalam kehidupan. Pembelajaran holistik juga bertujuan untuk mengembangkan potensi siswa dalam segala aspek kehidupan, memperkuat kemampuan adaptif, dan meningkatkan kualitas hidup.

Dalam pembelajaran holistik, siswa dipandang sebagai individu yang mempunyai potensi dan keunikan tersendiri. Oleh karena itu, pendekatan holistik tidak hanya berfokus pada aspek akademik saja, namun juga aspek sosial, emosional, dan spiritual.

Pembelajaran holistik bertujuan untuk membentuk peserta didik yang lebih utuh, yang mampu mengembangkan dirinya secara utuh sesuai potensi dan keunikannya. Dalam pembelajaran holistik, siswa juga diajarkan untuk mampu berinteraksi dengan lingkungan dan orang lain secara positif.

Implementasi Kurikulum Merdeka menuntut guru, kepala sekolah, dan masyarakat untuk senantiasa berkolaborasi, berkoordinasi, dan ber komunikasi, terutama dalam pengembangan Kurikulum Operasional dan perangkat pembelajaran, seperti modul, asesmen, serta pemahaman ter hadap konten akun Merdeka Mengajar.

Guru juga dituntut untuk senantiasa menyempurnakan dan menyesuaikan kurikulum dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni, serta tuntutan kebutuhan lokal, nasional, dan global sehingga kurikulum yang dikembangkan di sekolah betul-betul diperlukan oleh peserta didik sesuai dengan kebutuhan ling kungan, perkembangan zaman, serta tuntutan dan beban tugas yang akan dilakukan setelah mengikuti pembelajaran.

-Karakteristik Kurikulum Merdeka:

-1. Fleksibilitas Dalam Pembelajaran: Salah satu karakteristik utama kurikulum merdeka belajar adalah fleksibilitas dalam pengaturan waktu dan materi pembelajaran (Wahyudin et al., 2024). Tidak seperti kurikulum sebelumnya yang memiliki struktur waktu dan materi yang ketat, Kurikulum Merdeka memberi guru keleluasaan untuk menyesuaikan metode pengajaran berdasarkan kemampuan dan kebutuhan siswa.

Fleksibilitas ini mencakup pengelolaan waktu belajar, sehingga guru dapat memperpanjang waktu untuk materi yang lebih sulit dan mempercepat yang lebih mudah, sesuai kemampuan siswa. Hal ini bertujuan agar proses belajar tidak membebani siswa dengan target yang kaku, tetapi memberikan ruang untuk eksplorasi dan pemahaman yang lebih mendalam.

-2. Pembelajaran Berbasis Kompetensi: Pembelajaran berbasis kompetensi menjadi fokus utama kurikulum merdeka, dengan tujuan mengembangkan keterampilan yang relevan bagi siswa untuk menghadapi tantangan dunia nyata. Dalam pendekatan ini, siswa tidak hanya dituntut untuk memahami materi akademik, tetapi juga mampu mengaplikasikan keterampilan yang mereka pelajari dalam kehidupan sehari-hari.

Kurikulum ini menekankan penguasaan kompetensi seperti berpikir kritis, problem solving, serta kolaborasi, yang dianggap lebih penting daripada sekadar menghafal fakta (Sri Hanipah, 2023). Ini memberikan siswa kesempatan untuk mengembangkan keterampilan praktis yang bisa mereka gunakan dalam situasi nyata.

-3. Berpusat Pada Peserta Didik (Student Centered Learning): Berpusat pada peserta didik merupakan salah satu karakteristik utama dari kurikulum merdeka yang menempatkan siswa sebagai pusat dalam proses pembelajaran (Setiadi et al., 2022). Pendekatan ini memberikan ruang bagi peserta didik untuk mengembangkan minat, bakat, serta potensi mereka secara optimal.

-4. Pembelajaran yang Bermakna dan Kontekstual: Pembelajaran yang bermakna dan kontekstual merupakan salah satu pilar penting dalam kurikulum merdeka (Hasibuan et al., 2024). Pendekatan ini menekankan bahwa materi yang diajarkan harus relevan dengan kehidupan sehari-hari siswa. Dengan menyajikan materi yang bisa diterapkan langsung dalam kehidupan, siswa lebih mudah memahami dan mengingat konsep-konsep yang diajarkan.

Sebagai contoh, pelajaran matematika dapat dikaitkan dengan situasi ekonomi keluarga atau lingkungan sosial yang dekat dengan siswa, sehingga mereka lebih memahami manfaat dari apa yang mereka pelajari. Hal ini membuat proses belajar lebih dinamis dan kontekstual. Penguatan keterkaitan antara materi pelajaran dengan situasi sosial juga menjadi fokus dalam Kurikulum Merdeka.

-5. Penguatan Karakter dan Profil Pelajar Pancasila: Penguatan karakter dan pembentukan Profil Pelajar Pancasila merupakan inti dari Kurikulum Merdeka Belajar, yang bertujuan membentuk siswa dengan karakter kuat, berbudi pekerti luhur, dan berjiwa nasionalis (Hamzah et al., 2022).

Dalam kerangka ini, Profil Pelajar Pancasila menggambarkan enam aspek utama yang perlu dikembangkan, yaitu beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, berkebinekaan global, bergotong royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif.

Kesimpulan: Kurikulum Merdeka merupakan respons inovatif terhadap tantangan pendidikan yang disebabkan oleh pandemi Covid-19, yang menekankan pembelajaran yang lebih fleksibel, kontekstual, dan berpusat pada siswa. Kurikulum ini memberikan keleluasaan bagi sekolah dan guru untuk merancang pembelajaran sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik siswa serta perkembangan zaman.

Dengan pendekatan holistik dan berbasis kompetensi, Kurikulum Merdeka tidak hanya menekankan penguasaan materi akademik, tetapi juga pengembangan keterampilan abad ke-21 seperti berpikir kritis, kolaborasi, dan pemecahan masalah. Selain itu, kurikulum ini bertujuan untuk membentuk peserta didik yang berkarakter tangguh dengan memperkuat nilai-nilai Profil Mahasiswa Pancasila.

Keberhasilan pelaksanaannya memerlukan kolaborasi antara guru, kepala sekolah, dan masyarakat dalam mengembangkan kurikulum yang relevan dan bermakna bagi masa depan siswa Indonesia.

(Referensi: -1. Muh. Husyain Rifai, M.Pd dkk, (2014), Kurikulum Merdeka (Implementasi dan Pengaplikasian), Selat Media. -2. Prof. Dr. H. E. Mulyasa, M.Pd. (2023), Implementasi Kurikulum Merdeka, PT Bumi Aksara. -3. Nurdini, dkk, (2024), Tranformasin Pembelajaran Diera Kurikulum Merdeka Belajar, Sada Kurnia Pustaka)