Dari Tema ke Proyek: Bagaimana Siswa SD Belajar di Kurikulum Merdeka?
.
Senin, 26/05/2025, 18:25:25 WIB

SEJAK diterapkannya Kurikulum Merdeka, cara belajar siswa SD di Indonesia mulai berubah secara bertahap. Jika dulu dalam Kurikulum 2013 (K-13) siswa belajar berdasarkan tema-tema terpadu, kini mereka diajak untuk belajar melalui proyek nyata yang kontekstual dan bermakna.

Dalam Kurikulum 2013, pembelajaran di SD didesain secara tematik terpadu, sebagaimana dijelaskan dalam Panduan Implementasi Kurikulum 2013 SD, di mana satu tema dapat mencakup berbagai mata pelajaran agar lebih menyatu dan bermakna. Namun, meskipun pendekatan ini lebih integratif dibanding sistem lama, dalam praktiknya masih banyak guru yang fokus pada capaian nilai dan tugas hafalan. (Kemdikbud, 2017)

Sementara itu, Kurikulum Merdeka menawarkan pendekatan pembelajaran berbasis proyek, terutama melalui kegiatan Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5). Proyek ini menjadi ciri khas kurikulum baru dan dirancang untuk membentuk karakter siswa secara utuh.

Dalam Panduan P5 untuk SD, dijelaskan bahwa proyek ini bertujuan menanamkan nilai-nilai gotong royong, kebhinekaan global, hingga keberlanjutan lingkungan (Kemdikbudristek, 2022).

Misalnya, siswa kelas 3 SD bisa membuat proyek tanam-tanaman di sekolah. Dari kegiatan itu, mereka belajar sains tentang pertumbuhan tumbuhan, keterampilan bekerja sama, dan tanggung jawab. Ini bukan hanya transfer pengetahuan, tapi juga pengalaman belajar yang konkret dan bermakna.

Anak-anak SD cenderung merespon positif pendekatan ini karena mereka tidak hanya duduk diam mendengarkan, tetapi aktif terlibat. Dalam Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia 2, Soekmono menekankan bahwa pendidikan dasar yang efektif seharusnya tidak terlepas dari realitas sosial dan budaya anak, sebab di sanalah nilai-nilai hidup dibentuk (Soekmono, 1988).

Namun, penerapan Kurikulum Merdeka tidak bebas tantangan. Banyak guru SD belum terbiasa dengan model proyek dan masih kekurangan pelatihan atau dukungan teknis. Menurut Kurikulum Merdeka: Tanya Jawab Seputar Penerapan di Sekolah Dasar, salah satu kendala utama adalah kesenjangan pemahaman antara teori dan pelaksanaan di lapangan (Ditjen PAUD, Dikdas, dan Dikmen, 2023).

Menurut saya, perubahan pendekatan pembelajaran dari tematik ke proyek dalam Kurikulum Merdeka adalah langkah besar yang patut diapresiasi. Di tengah dunia yang terus berubah, anak-anak tidak cukup hanya diajarkan teori atau diminta menghafal materi.

Mereka butuh pembelajaran yang nyata, yang membuat mereka terlibat langsung dalam prosesnya, memahami makna dari setiap kegiatan, dan yang paling penting, mampu menghubungkannya dengan kehidupan sehari-hari.

Pembelajaran berbasis proyek, seperti yang ditawarkan lewat Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5), menurut saya sangat sesuai untuk membentuk karakter anak sejak dini.

Melalui proyek-proyek itu, siswa bisa belajar bukan hanya ilmu pengetahuan, tapi juga nilai-nilai seperti kerja sama, peduli lingkungan, hingga kemampuan menyampaikan pendapat. Hal-hal seperti ini justru yang lebih sulit diajarkan lewat metode ceramah atau hafalan.

Saya juga merasa bahwa dengan pendekatan proyek, anak-anak bisa lebih semangat belajar. Mereka merasa dilibatkan, diberikan kepercayaan, dan diberi ruang untuk berekspresi. Ini penting, karena masa SD adalah masa di mana rasa ingin tahu dan kreativitas anak sedang tumbuh pesat.

Namun, saya juga menyadari bahwa keberhasilan kurikulum ini sangat tergantung pada kesiapan guru dan sekolah. Guru adalah ujung tombak dalam proses pembelajaran, dan mereka tidak bisa dibiarkan bekerja sendiri. Maka, pelatihan, pendampingan, dan fasilitas harus benar-benar disiapkan agar guru tidak merasa bingung atau terbebani dalam menerapkannya.

Kesimpulannya: Kurikulum Merdeka adalah bentuk pembaruan pendidikan yang memiliki potensi besar untuk membawa perubahan positif, terutama dalam menciptakan generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berkarakter dan relevan dengan zamannya.

Meskipun masih ada tantangan dalam pelaksanaannya, saya percaya dengan kolaborasi yang kuat antara pemerintah, guru, dan masyarakat, tujuan dari kurikulum ini bisa benar-benar tercapai.