![]() |
|
|
PENDIDIKAN dasar memiliki peran penting dalam membentuk karakter dan kemampuan awal siswa. Di Indonesia, transformasi kurikulum dari Kurikulum 2013 ke Kurikulum Merdeka, merupakan bentuk usaha memperbaiki kualitas pembelajaran, terutama di jenjang Sekolah Dasar (SD).
Perubahan ini bukan hanya soal isi, tetapi menyangkut cara berpikir tentang bagaimana anak-anak seharusnya belajar.
-Dari Kurikulum 2013: Terstruktur Tapi Membebani
Kurikulum 2013 mengusung pendekatan tematik integratif, di mana beberapa mata pelajaran disatukan dalam satu tema. Tujuannya adalah agar siswa memahami konsep secara utuh. Namun, di lapangan, pelaksanaannya justru terasa kaku.
Guru dituntut menyelesaikan seluruh indikator dalam waktu terbatas, dan siswa sering kali kewalahan dengan materi yang kurang sesuai dengan tahap perkembangan mereka.
Mulyasa (2013) menjelaskan bahwa implementasi Kurikulum 2013 di tingkat dasar belum sepenuhnya matang. Guru banyak yang belum siap, dan pelatihan masih terbatas.
Akibatnya, proses belajar lebih menekankan pada pemenuhan administrasi ketimbang pada pengalaman belajar siswa (Mulyasa, 2013:45).
-Menuju Kurikulum Merdeka: Fleksibel, Kontekstual, dan Ramah Anak
Kurikulum Merdeka lahir sebagai respons atas berbagai tantangan dalam penerapan K13. Pada jenjang SD, kurikulum ini lebih fleksibel, memudahkan guru menyusun pembelajaran sesuai kondisi kelas.
Juga memperkuat pendidikan karakter melalui projek penguatan profil pelajar Pancasila. Anak tidak lagi dinilai hanya dari hasil ujian, tetapi dari proses dan perkembangan kompetensinya.
Salah satu kelebihan utama Kurikulum Merdeka adalah diferensiasi pembelajaran. Anak-anak dengan kemampuan dan minat berbeda dapat tetap belajar sesuai kecepatannya. Ini sangat relevan bagi anak usia SD yang masih berada dalam masa pertumbuhan dan eksplorasi.
-Kurikulum Merdeka Menjawab Kebutuhan Nyata di SD
Menurut saya, peralihan dari Kurikulum 2013 ke Kurikulum Merdeka adalah langkah yang tepat. Di tingkat Sekolah Dasar, pendekatan pembelajaran harus menyenangkan, eksploratif, dan tidak memaksa.
Kurikulum Merdeka memberi ruang bagi hal itu terjadi. Guru tidak hanya mengajar, tetapi menjadi pendamping belajar yang memahami keunikan setiap anak.
Namun, keberhasilan kurikulum ini sangat tergantung pada kesiapan guru dan sekolah. Tanpa pelatihan dan fasilitas yang memadai, kebebasan dalam Kurikulum Merdeka bisa disalahartikan atau tidak dimanfaatkan secara maksimal.
Perbandingan Fokus di Sekolah Dasar:
-Kurikulum 2013: Struktur materi Padat dan seragam Fleksibel, Metode belajar banyak teori dan hafalan, Penilaian fokus nilai akhir, Peran Guru Penerus materi kurikulum.
Aktivitas Proyek Terbatas:
-Kurikulum Merdeka: Struktur materi sesuai kebutuhan siswa, Metode belajar, aktif, kontekstual, dan menyenangkan, Penilaian fokus proses belajar dan perkembangan, Peran guru perancang pembelajaran dan fasilitator, Wajib melalui projek profil pelajar pancasila.
Perubahan dari Kurikulum 2013 ke Kurikulum Merdeka di Sekolah Dasar, adalah transformasi penting menuju sistem pendidikan yang lebih manusiawi dan relevan.
Dengan pendekatan yang lebih adaptif, pembelajaran menjadi lebih bermakna bagi anak-anak. Kurikulum Merdeka memberi peluang bagi setiap anak untuk berkembang sesuai potensinya. dan itulah inti dari pendidikan berkualitas.
