Pendekatan Deep Learning: Terobosan Dalam Penyempurnaan Kurikulum Merdeka
.
Minggu, 11/05/2025, 15:15:12 WIB

KURIKULUM Merdeka yang diluncurkan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Indonesia menandai pergeseran besar dalam dunia pendidikan. Kurikulum ini menekankan pembelajaran yang berpusat pada siswa, fleksibilitas dalam proses belajar, dan penguatan karakter melalui profil pelajar Pancasila.

Namun, di tengah usaha untuk menciptakan sistem pendidikan yang sesuai dan responsif terhadap perkembangan zaman, muncul pertanyaan krusial: apakah penerapan Kurikulum Merdeka sudah maksimal, atau masih membutuhkan penyempurnaan?

Belakangan ini, pendekatan deep learning mulai menarik perhatian sebagai metode pembelajaran yang diyakini dapat memberikan pengaruh signifikan dalam kegiatan belajar-mengajar. Pendekatan ini bukan merupakan kurikulum baru, melainkan cara baru dalam memahami pembelajaran yang lebih bermakna, mendalam, serta berfokus pada siswa. Disinilah peran deep learning muncul sebagai terobosan potensial.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, mengusulkan konsep “deep learning” sebagai pendekatan baru dalam kebijakan pendidikan di Indonesia. Gufron dkk. (2024) dalam penelitiannya berjudul "Kajian Aksiologi Pembelajaran Berbasis Deep Learning Pada Pendidikan Dasar" menyimpulkan bahwa ide pembelajaran berbasis deep learning sebenernya memperkuat hal hal positif dalam kurikulum yang sudah ada, bukan menggantinya dengan kurikulum yang baru.

Rahiem H. (2025) dalam artikelnya yang berjudul "Deep Learning dan Strategi Pendidikan Berkualitas" menekankan bahwa deep learning bukan sekedar metode pengajaran biasa, melainkan suatu pendekatan pendidikan yang menekankan pemahaman yang mendalam, Kemampuan untuk berpikir secara kritis dan penerapan pengetahuan dalam konteks kehidupan sehari-hari.

Pendekatan ini menuntut siswa untuk tidak hanya menghafal, tetapi juga memahami keterkaitan antar konsep, berpikir secara reflektif dan menyelesaikan masalah secara kreatif. Dengan demikian, penerapan pendekatan deep learning dalam Kurikulum Merdeka membuka peluang luas bagi guru untuk beralih dari peran sebagai penyampai materi menjadi fasilitator pembelajaran yang mampu memberikan inspirasi.

Guru didorong untuk menciptakan suasana belajar yang memberdayakan siswa, mengarahkan mereka untuk berpikir kritis, kreatif dan inovatif. Abdul Mu'ti dalam paparannya juga menyampaikan bahwa Kurikulum Deep learning memiliki tiga pilar utama, yaitu Mindfull Learning, Meaningfull Learning, dan Joyfull Learning.

-Mindfull Learning

Kesadaran penuh dalam setiap langkah pembelajaran merupakan inti dari pendekatan mindful learning. Melalui pendekatan ini, siswa dilatih untuk benar-benar terlibat dalam proses belajar mulai dari memahami tujuan pembelajaran, mengevaluasi perkembangan diri, hingga merancang strategi yang tepat guna mencapai hasil yang diharapkan. Kesadaran ini tidak hanya berkaitan dengan pencapaian akademis, tetapi juga menjadi dasar penting bagi kesejahteraan emosional dan spiritual siswa sejak usia dini.

-Meaningfull Learning

Meaningful learning pada dasarnya pembelajaran harus memberikan pengalaman yang bermakna kepada siswa. Pembelajaran akan menjadi bermakna ketika siswa mampu menghubungkan materi yang dipelajari dengan pengalaman hidup mereka.

Melalui pendekatan ini, siswa mampu melihat hubungan antara konsep teori dan aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari, sehingga pengetahuan yang diperoleh tidak sekadar dihafal, tetapi benar-benar dipahami secara mendalam dan dapat digunakan dalam situasi yang relevan.

-Joyfull Learning

Belajar dengan perasaan senang bukan berarti hanya bermain di kelas. Joyful learning mengacu pada upaya menciptakan suasana belajar yang positif, membangkitkan motivasi, dan memberikan tantangan yang membangun.

Lingkungan yang menekan justru bisa menghalangi rasa ingin tahu dan semangat belajar siswa, sementara suasana yang positif dan menyenangkan mendorong mereka untuk lebih terbuka dalam menyerap pelajaran dan mengeksplorasi beragam ide.

Pendidikan yang mengedepankan prinsip mindfull, meaningfull, dan joyfull bukan hanya sekadar gagasan ideal, melainkan menjadi kebutuhan esensial dalam membentuk masa depan bangsa. Salah satu tantangan utama penerapan deep learning adalah kesiapan guru dan sekolah. Tidak semua pendidik memahami strategi ini secara efektif.

Karena itu, pelatihan berkelanjutan dan dukungan pemerintah sangat penting. Pengembangan perangkat ajar dan asesmen yang sesuai juga perlu diperhatikan agar pembelajaran tetap terukur dan relevan. Dukungan teknologi turut menunjang pendekatan ini. Platform digital dan sumber belajar interaktif mendorong siswa lebih aktif mengeksplorasi pengetahuan dan mengembangkan kompetensi.

Secara keseluruhan, integrasi deep learning dalam Kurikulum Merdeka bukan sekadar strategi pembelajaran, tetapi juga langkah strategis menuju pendidikan transformatif. Dengan menekankan pemahaman mendalam, kebahagiaan belajar, dan keterlibatan siswa, pendekatan ini diharapkan melahirkan generasi pembelajar yang tangguh, reflektif, dan siap menghadapi masa depan.